Syahadat Cinta Sang Mafia

Syahadat Cinta Sang Mafia
Bab 24 : Amanah


__ADS_3

"Ayolah Leiska... Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu. Menurutlah untuk kali ini saja"


"Cih"


Leiska berdecih lirih mendengar nada memuakkan yang pria ini perlihatkan. Zlander juga dapat merasakan ketidakadaan rasa ikhlas wanita ini dalam meladeni dirinya.


Zlander segera bangkit hingga melepas kunjungannya terhadap Leiska. Lalu menarik tangan Leiska dengan tangan kanannya yang kekar.


Srett


Saking kuat tarikan sang pria membuat kepala Leiska hampir menengadah, dan langsung berdiri tepat didepan mata merah Zlander.


"Kau masih mencintai kekasih yang kau temui di Iran?" tanya Zlander tidak dijawab Leiska.


"Jawab"


Sentak Zlander sampai tubuh wanitanya terpelanjat beriringan dengan rasa kagetnya. Namun wanita ini masih enggan untuk menjawab. Tidak perduli dengan apapun yang dikatakan.


"Sepertinya aku perlu membawanya kepadamu tanpa nyawa, supaya kau mau berbicara. Leiska?"


"Tidak cukup kah kau menghancurkan hidupku? Kau memp*rkosa ku, menculikku, menyembunyikan ku ditempat menjijikan seperti ini, dan sekarang... Kau ingin membunuh pria yang sudah bertahta lama di dalam hatiku?


Plak


Wajah Leiska seketika menoleh kearah kiri saat telapak tangan kekar penuh dendam Zlander mendarat keras di pipi kanannya.


"Jangan menggunakan nada kasar kepadaku, Leiska" tekan Zlander saat nada suara Leiska semakin meninggi setiap katanya.


"Aku rela menemani tidurmu seperti jal*ng hina yang menemani tuan nya. Aku tidak lain hanya seorang anjing yang menunggu tuannya datang, menerima apapun yang tuan itu berikan"


"Iya... Namun anjing seperti dirimu bukan menerima apapun tanpa alasan. Kau mau menerima perintah karena TAKUT ALHAM MATI DI TANGANKU"


Teriak Zlander dengan kemarahan yang membara. Leiska terlihat bergidik ngeri namun ia dapat menyembunyikannya supaya pria ini tidak merasa terlalu menang.


"Coba lihat wajahku"


"Jangan mendekatiku"


"LIHAT"


Seketika mata Leiska memejam mendengar suara yang terdengar nyaring hingga menyakitkan telinganya.


"Akan ku bunuh semua orang yang berhubungan denganmu, baik Alham, pria brengsek itu serta gadis polos yang baru kau kenal"


"Apa?"


"Ku buat kau bertemu dengannya, namun saat ketiganya sudah tiada"

__ADS_1


"Sebelum itu aku akan membunuhmu. Melepas semua beban yang kau berikan dan hidup dengan aib yang sudah kau tempelkan" tekan Leiska dengan sorot mata yang tidak kalah menusuk serta kejam.


"Really?"


Leiska mendekat dengan wajah menengadah menatap tajam pria itu, "Ada satu kalimat yang ku suka, 'Kehancuran akan membawamu dalam kemenangan'. Walaupun tubuh serta jiwaku hancur, namun akulah pemenangnya. Kenapa? Karena saat aku menemui kehancuranku, begitu juga dengan kehancuranmu"


Kedua netra coklat mereka saling memandang penuh benci dan amarah Yang memuncak. Hatinya mengeras batu menahan emosi dalam dirinya, hingga pernafasan keduanya terasa berat.


"Jangan membawa-bawa gadis itu kedalam urusan ku"


"Bukan urusanmu"


Kedua netra mereka masih saling menatap penuh dendam. Mereka seperti sedang melakukan penyaluran emosi lewat tatapan keduanya.


"Obati lukamu" titah Zlander menoyor kepala Leiska pelan.


Zlander sudah tidak bernafsu lagi berlama-lama dengan wanita ini, hingga kedua kakinya berjalan meninggalkan Leiska sendiri.


Setelah keluar dari ruangan keberadaan Leiska, Zlander membawa kedua kakinya memasuki sebuah ruangan bernuansa gelap namun terasa nyaman.


Cklek


Pintu ruangan tersebut menutup saat Zlander menutupnya. Seorang wanita langsung terlihat berada diatas sofa dengan kedua kaki menyilang serta tangan terlipat di dada.


Zlander menghampiri seraya menyalakan cerutu yang ada dalam saku, "Bagaimana dengan tugasmu? Ingat Hanna, kau harus melakukan tugasmu dengan baik... Sesuai dengan rencana awal kita"


"Bukankah kau menikmati rencanamu... Kau menikmati tidur berdua dengan wanita bermuka dua itu"


Wanita dengan julukan Hanna itu hanya memutar bola matanya malas, "Banyak sekali pasukanmu yang sudah tertangkap"


"Biarkan saja"


"Biarkan saja?" Sentak Widia dengan respon santai dari pria yang duduk didekatnya.


"Untuk melancarkan rencana, membutuhkan pengorbanan untuk dapat terlaksana. Hem, siapa lagi target selanjutnya? Rencana besar harus datang belakangan"


"Terserah"


Widia akhirnya menyerah dengan berbagai rencana membingungkan dari dalam otak pria itu. Memang sedari lama Widia tidak pernah dapat paham dengan rencananya, dan membiarkan ia melakukan segalanya.


_____


Di Majlis ta'lim Nursultan


Dretttttttt suara lirih kipas angin yang menempel di area dinding. Perputaran cepat baling-baling berwarna putih itu dapat menyejukkan para jamaah yang sedang khusyuk melakukan ibadah sholat dhuhur.


Seorang pria baya dengan sorban di kepala, pria terhormat yang merupakan ketua majlis Almaty itu sedang menjadi imam sholat di jamaah pria. Mereka mengikuti setiap gerakan yang pria itu lakukan. Abi Rahman Akthakarta.

__ADS_1


Dibarisan pertama berdiri putra dari keluarga Renanta. Pria ini ingin mengajak Abi Rahman berbicara, namun Karena Abi sedang sholat, ia pun memilih untuk melaksanakan sholat terlebih dahulu.


Tidak terasa karena saking khusyuknya, mereka tidak menyadari sudah menyelesaikan sholat dhuhur. Mereka saling bersalaman dan berbincang kecil.


"Assalamualaikum, Nak Frederick" sapa Abi Rahman saat melihat Frederick yang berada diantara para jamaahnya.


"Walaikumsalam, Abi"


Frederick segera mencium telapak tangan Abi Rahman saat pria ini beranjak dari tahiyat akhirnya, meminta keberkahan dalam ibadah yang dilakukan.


Kedua pria itu akhirnya berjalan beriringan menuju pintu majelis, melewati para jamaah yang menyapa kepada mereka.


"Nak Frederick. Masyallah, Allah maha besar dengan mempertemukan kita ditempat baik"


Frederick terkekeh kecil, "Masyallah"


Setelah itu Frederick memperhatikan wajah tenang Abi Rahman. Ia tahu jika dibalik wajah tenang itu terdapat sebuah kesedihan. Namun Abi Rahman sangat lihai dalam menyembunyikan masalahnya. Bagaimana caranya?


"Abi Rahman, bagaimana keadaan anda?"


"Alhamdulillah baik" jawab Abi Rahman tersenyum tipis.


"Alhamdulillah" Frederick terdiam sejenak, lalu kembali bersuara. "Maaf jika Rick lancang. Bagaimana dengan Subha?"


"Allah belum mau mengembalikan Subha kepada orang tuanya, entah sampai kapan" jawab Abi Rahman masih terlihat santai, membuat Frederick semakin bingung.


"Abi, maaf Rick lancang lagi tapi demi Allah Rick sangat penasaran"


"Iya silahkan jika kau ingin bertanya kepadaku, selagi Abi bisa menjawabnya pasti akan dijawab"


Jawaban Abi Rahman membuat Frederick semakin yakin untuk mengutarakan pertanyaannya. Setidaknya Abi Rahman tidak akan mengartikan buruk pertanyaan yang ia lontarkan.


Bagaimana bisa Abi terlihat tenang saat Subha belum ditemukan?"


Seketika kedua ujung bibir Abi Rahman tertarik membentuk sebuah senyuman, namun kepalanya menggeleng pelan. "Kau tidak akan dapat melihat kesedihanku. Cukup aku dan Allah yang tahu"


Masyallah. Sungguh Frederick merasa terharu dengan hati lembut Abi Rahman dalam menyerahkan segala hidupnya pada sang pencipta.


"Rick berjanji, akan menemukan Subha secepatnya"


"Terimakasih Nak Frederick. Saat Subha kembali nanti, Abi akan serahkan putri Abi kepadamu"


Deg


...To be continued...


...Up dikit-dikit ya......

__ADS_1


...Tidak bermaksud menghina atau menjelekan pihak manapun, dimohon kerjasamanya....


...Jangan lupa vote......


__ADS_2