Tafakur Cinta Mualaf

Tafakur Cinta Mualaf
Ana Uhibbuka Fillah


__ADS_3

Saat acara telah usai, Hasbi dan Fiha memasuki kamar pengantin. Fiha melepaskan jilbabnya, dan mengikuti langkah kaki Hasbi. Mereka berwudhu, karena sebentar lagi adzan Ashar tiba.


"Fiha, ada yang ingin aku katakan sama kamu." ucap Hasbi.


"Oh iya, aku juga ada." jawab Fiha.


Tak berselang lama, adzan Ashar berkumandang. Mereka berdua segera melaksanakan shalat berjamaah. Sesudah usai berdoa bersama, mereka segera istirahat.


"Fiha, ana uhibbuka fillah." ucap Hasbi.


"Hasbi, ana uhibbuki fillah." jawab Fiha.


Mereka berdua tersenyum saling pandang, dan menggenggam tangan masing-masing. Lalu setelah itu, keluar dari kamar.


"Hasbi, Fiha, kalian makan dulu." tawar Yunah.


"Iya Bu." jawab keduanya.


Yunah mengeluarkan nasi dan lauk pauk, Fiha juga membantu meletakkannya di atas meja. Hasbi tersenyum, sekedar iseng mencubit pelan pinggangnya.


"Dasar usil!" ledek Fiha.


"Biarkan saja, aku suka mengganggumu." jawab Hasbi.


"Hasbi, Fiha, kalian berdua senang 'kan sudah sah." goda Yunah.


"Iya Bu, aku 'kan cinta sama Hasbi." jawab Fiha.


Sepanjang makan bersama, Hasbi dan Fiha saling suap-suapan. Mata mereka berbinar-binar, saling memandang satu sama lain.


"Makan sayur yang banyak, bagus untuk kesehatan sayangku." Hasbi menyendok sayur, ke dalam piring Fiha.


Fiha juga menyendok ayam suwir ke dalam piring Hasbi. "Kamu juga makan daging, biar kuat menghadapi aku."


Yunah geleng-geleng kepala, sambil terus melemparkan senyuman. Beberapa menit kemudian, mereka sudah selesai makan.

__ADS_1


Keesokan harinya, Fiha dan Hasbi hendak pergi ke kampus. Fiha tersenyum bahagia, begitupun dengan Hasbi. Semalam mereka sudah melewati, menghabiskan waktu berduaan. Romantis seolah dunia milik berdua, sedangkan yang lainnya ngontrak.


"Hasbi, aku lupa bawa bedak. Tunggu dulu iya, aku mau masuk ke dalam rumah." ucap Fiha.


"Aku gak bisa menunggu, lagipula istriku sudah cantik." jawab Hasbi.


"Itu 'kan di mata kamu." ujar Fiha.


"Lalu, kamu mau cantik di mata siapa lagi? Aku ini suami kamu, dan semua orang tidak penting melihatnya." jawab Hasbi.


"Iya suamiku, aku hanya tidak mau kusam." ucap Fiha jujur.


"Gak kusam sayang, kamu cantik kok." jawab Hasbi.


Fiha tersenyum sipuh, langsung duduk di atas motor. Sepanjang perjalanan, Fiha memeluk erat pinggang Hasbi.


"Harus iya pamer kemesraan?" canda Hasbi.


"Harus, aku rindu memelukmu sayang." jawab Fiha.


Hasbi tersenyum, sambil fokus menyetir motor. Saat lampu merah Hasbi berhenti, dan tidak menyadari ada seseorang di belakangnya. Dia adalah Aqila, seseorang yang memilih membuang muka. Dia tidak benci, hanya gak sanggup.


"Iya sayang, aku 'kan pergi sendiri." jawab Hasbi.


"Kalau aku dulu, selalu diantar sugar Daddy." ucap Fiha.


"Jangan diungkapkan lagi, nanti aku cemburu." jawab Hasbi.


"Itu 'kan dulu sayang, masak cepat sekali kamu ngambek." ujar Fiha.


"Aku hanya memperingatkan, bukan berarti marah sayang." jawab Hasbi.


Lampu telah berwana hijau, Hasbi melajukan kembali motornya. Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di kampus Universitas Bersinar.


"Fiha, aku samperin Aqila dulu iya. Kalau kamu mau ke kelas, gak apa-apa juga. Tapi, kalau mau ikut aku juga boleh." ucap Hasbi.

__ADS_1


"Kayaknya aku menemani kamu aja. Aku gak mau, kamu dekat sama dia." jawab Fiha.


Mereka menghampiri Aqila, sambil melemparkan senyuman. Hasbi ingin menyapanya sebentar, lalu Aqila melemparkan senyumannya.


"Aqila, kemarin kenapa cepat sekali pulang?" tanya Hasbi.


"Kemarin, aku sudah puas menyantap jamuan." Aqila sedikit menarik sudut bibirnya.


"Kamu mau 'kan gabung lagi, pada konveksi Fisbi Boutique?" tanya Hasbi.


"Maaf Hasbi, aku gak bisa. Aku sekarang sibuk sekali, gak ada waktu mengurusnya." jawab Aqila.


"Kamu sibuk atau menghindar?" Hasbi memberanikan diri bertanya.


"Aku tidak menghindari kamu, buktinya saja silaturahmi antara kita baik-baik saja." jawab Aqila.


"Aqila, kami juga gak akan memaksa. Tapi pikir-pikir lagi iya, buat gabung sama kita." ucap Fiha.


"Iya ukhty Fiha, aku akan memikirkannya. Bila aku ingin kembali, pasti aku chat istrinya Hasbi." Aqila menjawab datar.


"Terimakasih karena mau mempertimbangkan." ucap Hasbi.


"Iya, aku ke kelas duluan." Aqila segera meninggalkan mereka.


Hasbi mengedarkan pandangannya ke sekeliling, lalu dia mencium kening Fiha saat sudah pasti sepi.


"Aku ke kelas dulu sayang." ucap Hasbi.


Fiha tersenyum mengembang. "Iya sayang, aku juga mau ke kelas."


Mereka melangkahkan kaki masing-masing, menuju ke kelasnya. Ali menghampiri Fiha, saat dia baru duduk.


"Fiha, minjam buku catatan kamu." ucap Ali.


Fiha membuka tas, lalu memberikannya pada Ali. "Ini buku catatan pelajaran milikku."

__ADS_1


"Terimakasih Fiha baik hati." puji Ali.


"Kamu ini, jangan puji-puji istri sahabatmu sendiri." jawab Fiha.


__ADS_2