Tafakur Cinta Mualaf

Tafakur Cinta Mualaf
Menjauh Sementara


__ADS_3

Ali sengaja menjauh, karena Fiha dan Hasbi baru berbaikan kembali. Dia tidak ingin merusak suasana, yang sudah mendapatkan bukti yang kuat. Hasbi melihat Ali yang berada di kejauhan, namun pura-pura saja tidak tahu.


"Hasbi, jujur aku rindu dengan awal kita bertemu. Semuanya baik-baik saja, dan tidak kacau seperti sekarang." ungkap Fiha.


"Aku juga rindu Fiha, ingin seperti dulu. Tapi aku tidak ingin, kamu terus terkesan jelek di mata Ibu. Jika berjauhan dengan Ali dapat menghilangkan salah paham, kenapa tidak bisa dilakukan." jawab Hasbi.


"Jujur, aku gak rela jauh dari Ali. Dia selama ini, sudah banyak membantuku." ucap Fiha.


"Aku bingung sama kamu, dengan semua sikap yang membuatku merasa janggal. Stayli dan Wanda memang terbukti bersalah, namun kenapa kamu tidak bisa menjauhinya untuk sementara waktu. Ini juga demi kebaikan kamu, untuk menghilangkan komentar negatif opini publik." jawab Hasbi.


"Kamu jangan terlalu banyak berpikir, lebih baik pikirkan hal positif saja. Cara pandang kita dan alam, tentu jauh berbeda. Dalam hidup ini, tidak bisa menduga-duga saja." ucap Fiha.


"Iya istriku sayang, yang bijak sepanjang sejarah." jawab Hasbi.


"Jangan banyak merayuku deh, itu tidak akan mempan." ujar Fiha.


"Ini bukan sekadar rayuan, kamu memang bijak dalam sejarah hidupku. Lagipula merayu istri sendiri, bukan merupakan dosa." jawab Hasbi.


Hasbi dan Fiha masuk ke kelas masing-masing, karena dosen sudah datang. Aqila meletakkan kertas kecil pada meja Hasbi, lalu duduk di kursinya sendiri. Pandangan matanya fokus ke arah papan tulis.


Hasbi membaca surat, yang dikirimkan oleh Aqila. "Apa kamu masih ingin melanjutkan rencana kita, untuk menyelidiki Ali dengan Fiha."


Hasbi menoleh ke arah Aqila, seraya mengangguk-anggukkan kepalanya sebanyak tiga kali. Sementara di sisi lain, Fiha dan Ali juga sedang menyusun rencana.


"Fiha, nanti kita pergi ke rumah sakit. Ada orang, yang ingin mendonorkan jantungnya lagi. Kali ini, dia sangat membutuhkan uang." ujar Ali.

__ADS_1


"Iya Ali, tapi perginya diam-diam saja." jawab Fiha.


"Tapi aku berpikir ulang, sebaiknya kamu gak usah ikut. Aku gak mau mengganggu, hubungan kamu dan Hasbi. Biar aku sendirian saja yang melihatnya." ucap Ali.


"Bagaimana bisa begitu, biar adil harusnya kita bersama. Jika hanya kamu sendiri, itu akan menimbulkan kesan tidak peduli. Yang perlu dicek tubuhnya adalah aku, namun malah aku yang tidak ikut." jawab Fiha.


"Ini semua demi kebaikan kamu, nanti ketahuan oleh Hasbi. Bisa-bisa mertua kamu mengomel, dan semakin mendekatkan Aqila dan Hasbi." ujar Ali.


"Kamu terlihat tidak rela iya." canda Fiha.


"Tentu saja, karena aku menyukai Aqila." jawab Ali jujur.


"Kamu serius?" tanya Fiha memastikan.


"Untuk apa dikatakan, bila hanya kebohongan." jawab Ali.


"Sayang, nanti aku bantuin Ibu kamu packing barang iya." ujar Fiha.


"Kamu 'kan lagi hamil sayang." jawab Hasbi.


"Iya, aku tahu. Tapi, setidaknya ini bisa membuat Ibumu simpati lagi." ucap Fiha.


"Baiklah, kali ini aku izinkan." jawab Hasbi.


"Kamu gak perlu khawatir, aku bakalan jagain anak ini kok." ujar Fiha.

__ADS_1


"Iya sayang, aku percaya kamu menginginkan dia lahir ke dunia." jawab Hasbi.


Hasbi dan Fiha mengendarai motor, sampai ke toko Fisbi Boutique. Fiha melihat ada Aqila juga di sana, yang membantu mengemasi barang penjualan.


"Bu, biar aku bantuin juga iya." tawar Fiha.


"Gak usah, sudah ada Aqila. Biasanya juga kamu tidak ada di sini." jawab Yunah.


"Ibu, jangan seperti itu dengan Fiha. Lagipula, sudah terbukti dia tidak bersalah. Ibu lihat, sekarang mereka sudah jaga jarak." ujar Hasbi.


"Kamu kok masih bisa si percaya sama dia. Setelah apa yang Fiha lakukan selama ini." jawab Yunah.


"Bu, Fiha adalah istriku. Kami berdua mempunyai hubungan, yang cukup erat." ucap Hasbi.


"Hubungan erat bagaimanapun juga bisa lepas, apalagi bila ada yang tidak setia." jawab Yunah.


"Bu, biarin saja kalau Fiha mau mengemasi barang sama aku." ujar Aqila.


"Iya sudah, terserah kamu saja." Yunah segera berjalan, masuk ke ruangan pribadinya.


Aqila menepuk lembut pundak Fiha. "Sudah, jangan dimasukkan dalam hati."


"Iya Aqila, gak apa-apa kok. Bukankah, dulu kamu juga dekat sama Ibu. Intinya, sebelum aku datang ke sini." jawab Fiha.


”Kalau merasa cemburu katakan saja, jangan merasa sungkan. Meskipun kamu tidak menyebutkannya, aku juga tetap tahu.” batin Aqila.

__ADS_1


Fiha memasukkan baju pesanan ke dalam plastik, begitupun dengan Aqila yang melakukan hal serupa. Hasbi membantu melipat pakaian baru, yang akan dikemas tersebut.


__ADS_2