
Fiha melihat Syansa yang sedang menyusun bukunya, yang banyak bertumpuk di sana-sini. Terlihat berantakan, karena tidak sempat menyusunnya. Akhir-akhir ini lumayan sibuk, dengan kegiatan tambahan yang dilakukan di sekolah.
"Sekarang bagaimana, apa sudah berbaikan dengan Umar?" tanya Fiha.
"Dari dulu seperti ini." jawab Syansa.
"Dulu dia sering main ke rumah kita, sekarang terlihat berjauhan denganmu. Oh iya, apa Umar dan Aliya pacaran?" tanya Fiha.
"Mungkin Bun, aku tidak terlalu ingin tahu." jawab Syansa cuek. "Apa Ayah sekarang pergi ke butik?" Sengaja mengalihkan pembicaraan.
Fiha duduk sejenak. "Iya, masalah Oma tidak bisa ditunda lagi." jawabnya.
"Aku sebenarnya bingung, apa yang wartawan cari. Hanya sebuah berita, sampai segitu parahnya. Kalaupun mereka dilaporkan ke kantor polisi, pasti meminta perlindungan perusahaan." ungkap Syansa.
"Namun, perusahaan tidak akan terus bisa membela. Aku ingin mengeluarkan suara, memberikan sedikit tekanan pada pelaku." jelas Fiha.
Syansa mendekat ke arah bundanya. "Iya Bun, benar sekali. Aku dukung sampai keadilan untuk Adik berkibar."
"Terima kasih Syansa, dia bangga punya Kakak sepertimu." jawab Fiha.
__ADS_1
Keesokan harinya, Syansa menulis sebuah buku. Dia berencana menerbitkannya di salah satu kantor redaksi majalah. Harapannya, agar banyak yang bersuara untuk adiknya.
"Syansa, libur semester ikut aku pergi yuk." ajak Aliya.
"Maaf Aliya, aku sudah merencanakan pergi bersama keluarga." jawab Syansa.
"Yah, sayang sekali. Padahal aku berharap kamu pergi bersama aku dan Umar." Aliya menunjukkan raut wajah tidak rela, namun tidak bisa berbuat apapun.
"Jangan sedih, kamu masih punya teman." jawab Syansa.
Ibu Ayfi memanggil Aliya dadakan, mengajaknya pergi ke ruangan rapat. Sebentar lagi mereka akan lulus, dan berganti pengurus OSIS. Tentu saja, akan diadakan pemungutan suara.
"Baik Bu, kami pasti akan mencari kandidat terbaik." jawab Aliya.
"Menurut Ibu, kamu siswi terbaik. Namun, menahan kamu selamanya tidak mungkin." ujar ibu Ayfi.
"Kalau bisa, aku akan melakukannya untuk Ibu. Tapi, kami harus melanjutkan pendidikan." jawab Aliya.
Ibu Aliya mengerti, bahwa Syansa akan mendaftar kuliah. Semuanya sudah tampak di depan mata, tidak dapat ditutupi lagi.
__ADS_1
Esok hari sangat cerah, pemungutan suara dilakukan di lapangan. Umar sengaja menghibur Syansa, dengan mengajaknya foto bersama. Aliya juga ikut sambil menyuapi gorengan, ke mulut mungil Syansa.
"Kenapa kamu semakin kurus, akhir-akhir ini pasti jarang makan." ujar Aliya.
"Aku banyak urusan, mana sempat memikirkan makan." jawab Syansa.
Nama Syansa dipanggil untuk memberikan hak suara, dalam pemilihan ketua OSIS baru. Syansa mencoblos nomor 2, sesuai kata hatinya. Orang yang dipilih bukan sembarangan, sudah dikenal memiliki kepribadian baik.
"Syansa, pulang sekolah kita jalan yuk." ajak Aliya.
"Aku sedang sibuk, harus pulang ke rumah cuci baju." jawab Syansa.
Usai ujian berturut-turut, liburan semester tiba. Syansa dan keluarganya pergi ke sebuah pulau, untuk mengajak Yunah menenangkan diri. Akhir-akhir ini, dia tidak pergi ke butik.
"Nenek tenang saja, nanti butik pasti bisa dibuka kembali." ujar Syansa.
"Iya, tapi sekarang tertutup di depan mata. Di sana banyak kegiatan, yang membuat Nenek luas memandang." jawab Yunah.
"Nenek sedih terus, membuat aku dan Bunda ikut sedih." ucap Syansa.
__ADS_1
"Sudahlah Bu, aku telah memikirkan cara mengatasinya. Lebih baik, sekarang nikmati liburan ini." Hasbi mengingatkannya.