Tafakur Cinta Mualaf

Tafakur Cinta Mualaf
Salah Paham


__ADS_3

Aku ditegur di perpustakaan, tepatnya pada hari Sabtu. Padahal niat awalnya, aku hanya ingin berjalan bersama Eli. Ntah kenapa aku gelisah, merasakan firasat yang tidak enak. Apalagi saat ada seorang siswi bilang, aku dipanggil ibu Ima ke perpustakaan.


"Firsya sini, mendekat. Ada yang mau Ibu bicarakan." ujar ibu Ima.


Dengan langkah kaki ragu, aku berjalan mendekat. "Ada apa Bu?"


"Firsya, sebentar lagi akan magang, tidak bisa kalau kamu sakit. Mungkin kamu akan diletakkan di business center." jawabnya.


"Bu, apa aku tidak bisa memilih tempat magang, seperti teman-teman yang lain?" tanyaku penuh harap.


"Bukan seperti itu Firsya. Bila kamu magang di tempat praktik sekolah, kamu akan mendapatkan penilaian dari guru. Kalau di dunia kerja, harus masuk setiap hari. Gak bisa setengah hari, kadang bisa sampai sore." ujarnya.


"Praktik Sistem Ganda (PSG) bukankah sedikit lama, sekitar beberapa bulan lagi. Sekarang bulan dua, mungkin saja aku sudah sembuh." jawabku.


"Semangat Firsya, berubah mulai dari sekarang. Ibu lihat kamu jarang tersenyum, sering menundukkan kepala. Kamu tidak berbaur, bersama yang lain. Soal cinta santai saja, kalau berjodoh pasti akan bertemu. Seperti Ibu dan Pak Mizi." ujar ibu Ima.


"Iya Bu." Tersenyum menutupi kesedihan.

__ADS_1


Deg!


Hatiku menolak, aku tidak mau praktik di sekolah sendiri. Sepertinya, hatiku lebih cepat menangkap yang akan terjadi. Aku merasa, sesudah ini hariku tidak akan baik-baik saja. Ibu Ima telah salah paham padaku. Sepertinya ada mulut yang memutarbalikkan fakta, aku harus mencaritahu pikirku.


"Baiklah, bila keadaanmu membaik. Kita akan mengaturnya kembali." ujar ibu Ima.


"Iya Bu." Menjawab singkat.


”Bu, kau bahkan jauh dari harap ku. Kau malah menyalahkan aku, seolah aku


sakit hati sepenuhnya karena cinta. Apa Ibu tahu, aku ini anak didikmu. Tidak bisakah, aku meminta sedikit perlindungan. Kau bahkan tidak menanyakan sama sekali, mengapa aku tidak ingin berbaur. Apa Ibu pikir aku suka sendirian terus, aku juga ingin punya banyak teman. Hua... hiks... hiks...” batinku.


Eli tidak tahu apa-apa, hanya aku yang paham tentang perasaanku sendiri. Hanya aku yang menangis diam-diam sendiri. Aku masuk ke kelas, dengan air mata yang masih aku tahan. Bila dijelaskan akan sangat rumit, makanya aku memilih diam. Rasanya ingin aku jadikan buku, cerita yang telah aku alami.


Aku melihat manusia-manusia dalam kelas, bercanda ria bersama teman-temannya. Sakim, Ido, Riyadi dan Ansyah juga ada di sana. Jika tidak berlandaskan rasa sabar, mungkin papan tulis bisa aku hancurkan. Dan kemungkinan terburuk dari lupa diri, yaitu melemparkan kursi-kursi pada orang yang dituju.


Aku melangkahkan kakiku keluar kelas, dan melihat Rulif membuang muka. Aku jadi mengira, bahwa dia benar-benar membenciku. Sama seperti surat di atas meja, yang aku temukan beberapa bulan lalu. Dalam surat yang memaki-maki itu menyatakan, bahwa dialah pengirimnya. Di sana juga mengungkapkan, sebuah hal miris di hatiku.

__ADS_1


"Wajahmu yang seram, membuatku selalu terbayang. Wahai bidadari dari pelimbahan, aku ketakutan dan berlari terbirit-birit. Jelek, dekil, bla... bla..."


Kurang lebih begitulah isi suratnya, dan inti pokoknya adalah menghina. Dengan sangat dalam, aku ingin membuktikan kebenarannya. Aku juga ingin mencari, siapa yang telah mengadu domba pada ibu Ima.


”Apakah aku begitu menjijikan seperti itu, sampai kau membuang muka saat melihatku Rulif. Ternyata kau pun sama seperti Ibu Ima, tidak mempercayaiku sama sekali. Atau mungkin, kau memang hanya berpura-pura tidak tahu. Karena kau lebih memilih teman-temanmu, dibandingkan aku ini.” batinku.


Benar-benar mendapati lara yang sedalam-dalamnya, aku menangis saat pulang ke rumah. Aku mengambil air wudhu, lalu menangis sejadi-jadinya usai salat. Aku mengadu semua isi hatiku yang tidak bisa dijelaskan. Tidak tahu berapa tetes air mata yang tumpah, selama aku sekelas dengan mereka.


Aku benar-benar ingin membuktikan, apa dia penulis surat tersebut. Aku hanya bisa melalui sosial media, karena bila aku bertanya langsung akan menjadikan pusat perhatian. Aku memberanikan diri kali itu aku menghilangkan gengsi, dan menambahkan dia sebagai teman. Namun tidak disangka, beberapa menit setelahnya ada tanda putih. Aku tidak bisa meminta pertemanan dengannya lagi, sebelum dikonfirmasi. Aku meminta bantuan pusat Facebook, ternyata penyebabnya karena dia memblokir permintaan pertemanan.


Aku memang bukan malaikat, tidak bisa juga seperti nabi. Mungkin keputusasaan Siti Maryam, seperti keputusasaan ku saat itu. Dikucilkan, difitnah, diremehkan bertahun-tahun bukanlah hal mudah. Bila ada orang yang kalian anggap paling sabar, bawalah dia di hadapanku pada masa kini pikirku. Aku menulis status bukan kata mutiara lagi, tanpa samaran sama sekali.


"Rulif Cakraandas, kau benar-benar jahat. Kau tega memblokir Facebook ku, aku benci kau."


Ntah mengapa aku berani sekali meluapkannya di Facebook. Aku benar-benar sakit hati, atas penghinaan yang tertoreh di kertas itu. Aku kira benar-benar Rulif, yang menulisnya untukku. Aku memang bagaikan berada pada ujung tanduk, bila tidak berteriak meminta tolong aku akan terjatuh. Aku berharap ada yang mau mendengarkan aku, daripada bertanya kenapa dan menyalahkan tindakanku. Tubuhku meringkuk di atas ranjang tidur, tetesan air mata terus mengalir. Cinta bertepuk sebelah tangan, tidak sebanding dengan sakitnya diadu domba, difitnah, dan diremehkan.


Dalam beberapa menit saja, ratusan like membanjiri akun milikku. Status yang aku buat tadi, iya status tentang Rulif.

__ADS_1


”Aku akan pergi, semoga kau jauh lebih bahagia. Aku mengaku kalah, sebelum berjuang mengambil hatimu. Aku tidak akan pernah memulainya lagi, setelah aku mengakhirinya. Kelak setelah lulus sekolah, aku akan berusaha untuk tidak bertemu denganmu. Semampu yang aku bisa, sekuat yang aku usahakan. Kecuali, untuk perihal memperbaiki silaturahmi. Bila sewaktu-waktu Tuhan sengaja mempertemukan, aku akan menghindari. Bila sewaktu-waktu keadaan berputar balik menjadi dirimu yang mencintai, aku berjanji akan menolak meski usiaku sudah cukup untuk menikah. Aku janji, aku bakalan menolak dirimu. Aku tidak akan mau, aku pasti tidak akan mau. Aku janji akan menolak, aku janji pada diriku sendiri.” batinku.


Aku tahu, kenapa kepalaku pusing. Mungkin juga karena masalah rumit ini, karena aku berada di jalan buntu. Aku tidak menemukan titik terang sama sekali. Aku menghadapi badai seorang diri, hingga luluh lantak tak berarti. Bahkan dalam hidup, untuk pertama kalinya aku sakit lama. Terhitung sejak awal, dua bulan lamanya terjadi.


__ADS_2