
Ali tidak sengaja terinjak tali sepatu, jadi Fiha jatuh bersamaan dengannya. Fiha merasa ini adalah ujian terindah, karena mungkin akan menghapus dosanya. Meski sakit, perih, terluka, berdarah-darah, direndahkan, namun dia tidak akan meninggalkan Allah.
Satu cinta abadi, adalah tentang manusia dan Tuhannya. Cinta manusia dan manusia bisa terputus, namun bila cinta pada Allah sampai mati. Bahkan kekal selamanya, tidak pupus oleh apapun. Maka dari itu Fiha akan berusaha, meski dia hanya dipandang sekedar mualaf.
Ali membantu Fiha berdiri, lalu mereka segera masuk ruangan rektor. Ali harus menjelaskan pada pihak kampus, bahwa dia dan Fiha tidak apa-apa. Para dosen hanya duduk diam, masih memperhatikan gerak-gerik keduanya.
"Fiha, Ali, sebenarnya kami tidak ingin ikut campur. Kalian sudah dewasa, bukan anak sekolah dasar lagi." ujar Didit.
"Namun, bila kalian selingkuh dan membuat kelas tercemar. Aku sebagai wali kelas, akan sangat merasa malu. Aku harus bertindak tegas, untuk seseorang yang membuat sensasi." timpal ibu Irma.
"Bu, tolong percaya padaku. Aku tidak selingkuh dengan Ali, dan bukan pembuat sensasi pada kampus." jawab Fiha.
"Benar Bu, ini sangat tidak adil untuk kami. Banyak orang melakukan kesalahan, tapi pihak kampus tidaklah seheboh ini. Sedangkan kami berdua untuk hal yang belum jelas, sampai di panggil ke ruangan rektor." tambah Ali.
"Kalian berdua bisa menyangkal, namun Kemdikbud negeri tidak suka. Bila kasus ini tidak cepat diusut, maka kalian berdua harus terima untuk dikeluarkan. Belum lagi, tentang berita anak yang kamu kandung. Banyak orang mengatakan, itu bukanlah anak Hasbi." jawab Irma.
”Ternyata, sakitnya seperti ini difitnah. Siapa yang tega melakukan ini, kenapa dia begitu kejam. Memanfaatkan situasi darurat, dan membuatku tertimpa batu bersamaan.” batinnya menangis.
Ali melihat mata Fiha yang berkaca-kaca. Dia menjadi tidak tega, karena Fiha terus menengadahkan kepalanya ke atas. Sepertinya, dia tidak ingin menangis di depan bapak rektor. Apalagi ada dosen, yang menjadi wali kelas Ekonomi.
__ADS_1
"Pak, Bu, tolong beri kami kesempatan." ujar Ali.
"Ali, kamu mungkin bisa mendapat kesempatan. Namun untuk sementara, jauhilah Fiha. Sampai situasi benar-benar membaik, karena ada seorang pria mengaku Ayah dari anak tersebut." Irma menunjuk perut Fiha.
"Siapa dia Bu orangnya?" tanya Fiha.
"Dia adalah pria paruh baya dari Spanyol. Kamu pasti mengenalnya Fiha, karena dia punya foto bersamamu." jawab Irma.
”Dosa besar apakah pada diriku, sehingga Engkau menghukum aku seperti ini. Kamu bodoh Fiha, jelas-jelas kamu memang manusia paling hina. Kamu dulu pemabuk berat, kamu dulu juga berpacaran. Kamu jalan dengan sembarang pria, lalu tidak menutup aurat.” batin Fiha, rasanya sudah ingin pergi.
"Bu, Pak, aku akan mencari bukti untuk hal ini. Tolong, berikan temanku ini kesempatan." ucap Ali.
Mereka berdua keluar ruangan rektor. Fiha segera berlari, tanpa menunggu Ali lagi. Dia sudah tidak tahan, untuk meneteskan air mata. Tubuhnya sampai menabrak, siapapun orang yang dilaluinya. Kini dia sudah berada, di puncak gedung kampus. Setelah menapaki beberapa tangga, akhirnya dia sudah duduk di lantai atas.
Fiha menangis tersedu-sedu, sambil melihat jalanan kota yang ramai. Namun tidak dengan hatinya, yang selalu merasa sepi. Dia selalu mencari sosok Hasbi, di dalam hati kecilnya. Namun pria itu, kini tidak mau bicara dengannya. Rasanya dia mendapatkan lara berlapis-lapis, menghujam perih pada sekujur tubuh.
"Fiha, kamu tidak boleh putus asa. Allah paling membenci sikap itu, seperti yang telah diterangkan dalam Al-Qur'an." ujar Ali.
"Aku tidak putus asa, aku masih berusaha untuk mengobati sakit. Namun manusia terkadang, hanya menganggap dirinya yang paling berkuasa. Seolah di langit, tidak akan ada langit lagi." Fiha menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
"Sudah, sudah, jangan menangis lagi. Aku akan membantumu, untuk membuat bukti." ujar Ali.
"Mencari bukti, dengan apa." jawab Fiha, yang masih terisak.
"Aku akan menemui Om Spanyol, tolong kamu membantu kerjasama." ucap Ali.
"Baiklah, aku tahu dimana dia suka membawa dirinya." jawab Fiha.
"Kemana dia pergi?" tanya Ali.
"Dia biasanya suka nongkrong di dalam bar." jawab Fiha.
Stayli dan Wanda mengunci pintu dari luar, agar mereka terus berada di atas gedung. Fiha dan Ali hendak keluar, namun pintu tidak bisa terbuka.
"Ali, bagaimana ini pintu terkunci." ujar Fiha.
"Pasti ada yang sengaja menguncinya dari luar." jawab Ali.
Mereka berdua cemas, sambil menatap matahari di atas kepala mereka.
__ADS_1