
Pulang dari sekolah, Syansa duduk di ruang makan. Wajahnya tampak murung, hanya dia yang mengerti. Apa yang sebenarnya dipikirkan, dan tidak enak di hati.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Fiha.
"Aku gak kenapa-kenapa kok Bunda." jawab Syansa.
"Iya sudah, kalau kamu tidak mau cerita. Bunda juga tidak akan memaksa." ujar Fiha.
"Iya Bunda." jawab Syansa.
Syansa tidak ingin mengatakan, bahwa dia menyukai Umar. Teman masa kecilnya, yang sering bermain ke rumah. Rasanya perasaan bertepuk sebelah tangan, bukanlah pasangan naik pelaminan. Tidak perlu diramaikan, sedang sejagat kampung. Syansa memilih bersenandung shalawat saja, untuk menjadi pelipur lara.
Syai’ lillah.. Syai’ lillah..
Syai’ lillah.. Syai’ lillah..
Baldatun al-Auliya’
Baldatun al-Auliya’
Syai’ lillah.. Syai’ lillah..
Syai’ lillah.. Syai’ lillah..
Bijahi Ba ‘Alawi
Bijahi Ba ‘Alawi
Syai’ lillah.. Syai’ lillah..
Syai’ lillah.. Syai’ lillah..
Syai’ lillah.. Syai’ lillah..
Syai’ lillah.. Syai’ lillah..
Saqqofuna waliyyun
Saqqofuna waliyyun
Syai’ lillah.. Syai’ lillah..
Syai’ lillah.. Syai’ lillah..
Al-Muhdlor wal ‘Aydarus
Al-Muhdlor wal ‘Aydarus
Syai’ lillah.. Syai’ lillah..
Syai’ lillah.. Syai’ lillah..
__ADS_1
Al-Haddad wal ‘Aththos
Al-Haddad wal ‘Aththos
Syai’ lillah.. Syai’ lillah..
Syai’ lillah.. Syai’ lillah..
Syai’ lillah.. Syai’ lillah..
Syai’ lillah.. Syai’ lillah..
Wa jamii'i alwalii
Wa jamii'i alwalii
Syai’ lillah.. Syai’ lillah..
Syai’ lillah.. Syai’ lillah..
Wa hum dhuriyatun annabi
Wa hum dhuriyatun annabi
Syai’ lillah.. Syai’ lillah..
Syai’ lillah.. Syai’ lillah..
Syai’ lillah.. Syai’ lillah..
Syai’ lillah.. Syai’ lillah..
Bijaahu annabi
Bijaahu annabi
Syai’ lillah.. Syai’ lillah..
Syai’ lillah.. Syai’ lillah..
Bijaahu syaikhona
Bijaahu syaikhona
Syai’ lillah.. Syai’ lillah..
Syai’ lillah.. Syai’ lillah..
Syai’ lillah.. Syai’ lillah..
Syai’ lillah.. Syai’ lillah..
__ADS_1
Setelah hatinya sedikit tenang, Syansa memasuki kamar mandi. Dia ingin segera mandi, karena sebentar lagi waktunya kegiatan ekstrakurikuler. Pukul 16.00. dia mengayunkan tangannya, keluar dari rumah setelah berpamitan. Kendaraan roda dua yang dikendarai olehnya, melaju menuju sekolah tempatnya menimba ilmu.
"Eh Syansa, kamu sudah datang?" tanya Umar.
"Kalau sudah ada di sekolah, itu artinya sudah datang." jawab Syansa.
"Oh iya, dasar aneh." Umar menepuk jidatnya, seolah menyalahkan tindakan diri sendiri.
"Aku duluan iya, sudah buru-buru." Syansa memilih segera pergi, tidak ingin berlama-lama.
Sore itu Aliya tidak ikut kegiatan ekstrakurikuler, kelihatannya jatuh saat bermain basket masih terasa sakit. Syansa sudah masuk ke ruangan ekstrakurikuler, yang dipenuhi oleh banyak siswa dan siswi.
"Syansa, kamu akhirnya datang. Aku dari tadi menunggu." ucap Kichi.
"Jangan ditungguin, aku lama datangnya." Syansa tersenyum ke arahnya.
"Tidak peduli, bila harus sekian purnama pun. Paling terpenting, pulang nanti kita ngebakso." Kichi merayu Syansa.
"Kita lihat nanti iya, kalau Bundaku mengizinkan." jawab Syansa.
Kegiatan ekstrakurikuler mengaji telah dimulai, guru menerangkan tentang hukum tajwid. Manusia kadang-kadang lupa, perlu diulang-ulang meski sudah paham. Tidak pula enggan, Syansa ingin bertanya.
"Syansa, apa yang tidak kamu mengerti?" tanya ibu guru.
"Aku tidak mengerti, bagian halaman delapan dua." jawab Syansa.
Matahari sudah tenggelam, tinggal sosok senja menganga. Menampilkan sinar keemasan di puncak langit. Ada bayangan Syansa di bumi, sedang mengendarai motor menuju rumah. Fiha membukakan pintu saat mendengar ucapan salam.
"Sudah pulang sayang?" tanya Fiha.
"Sudah kok Bunda." jawab Syansa.
Syansa sudah melaksanakan salat ashar, di masjid sekolah tadi. Jadi pulang ini, tinggal beristirahat saja. Syansa melihat foto masa kecilnya, bersama Umar dan Aliya.
"Dulu saat kecil, aku dan Aliya pernah menjatuhkan es secara bersamaan. Namun, kau malah lebih memperhatikannya. Kau mengelap krim yang tertumpah pada bajunya, dan membiarkan aku membersihkan sendiri." Syansa menyentil foto keduanya.
Dalam perjalanan pulang, Hasbi melihat nenek-nenek kelaparan. Dia meminta beras pada setiap pengguna jalan. Satu-satunya orang yang mau memberi, hanya Hasbi seorang. Nenek segera pergi, setelah mengucapkan kata terima kasih.
"Sayang, bagaimana hasil penjualan hari ini?" tanya Fiha.
"Berada di tahap sedang, tidak naik dan juga tidak turun." jawab Hasbi.
"Syukur alhamdulillah." ucap Fiha.
"Apapun itu ucapkan alhamdulillaah, supaya kau tidak menjadi orang kufur nikmat." jawab Hasbi.
Hasbi masuk ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan dirinya sendiri. Tak berselang lama, Hasbi sudah keluar. Dia melihat Yunah, Syansa, dan Fiha yang sedang kumpul bersama.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Hasbi.
"Seputar kucing dengan bulu tiga warna." jawab Fiha.
__ADS_1