Tafakur Cinta Mualaf

Tafakur Cinta Mualaf
Hamil


__ADS_3

Dua bulan kemudian...


"Hueek..." Fiha ingin muntah.


Sudah bolak-balik ke kamar mandi, selama kurang lebih puluhan kali. Masih saja perutnya terasa mual, padahal Hasbi sudah memberikan teh hangat.


"Sayang, kita ke rumah sakit saja yuk." ajak Hasbi.


"Gak usahlah sayang, aku baik-baik aja kok." jawab Fiha.


"Tapi, aku khawatir sama kamu sayang." ujar Hasbi.


"Kita ke rumah sakit, kalau besok aku masih seperti ini." jawab Fiha.


Hasbi menuruti keinginan Fiha, dan mengangkat tubuhnya ke atas ranjang tidur. Yunah tersenyum sambil membawa makanan, lalu meletakkannya di atas meja.


"Ibu tahu, kalau sebenarnya Fiha hamil." ucap Yunah menduga-duga.


"Kok Ibu bisa berpikiran seperti itu." jawab Hasbi.


"Waktu dulu Ibu mengandung kamu, Ibu juga merasakan hal yang sama." ujar Yunah.


"Oh gitu iya Bu." jawab Hasbi.


Keesokan harinya, Fiha masih mual juga. Mereka segera pergi ke rumah sakit, untuk memeriksa kondisinya. Nah benar saja, ternyata Fiha hamil.


"Berdasarkan hasil pemeriksaan, istri anda hamil. Selamat iya Pak, Bu, usianya satu bulan." ujar dokter.


"Terimakasih Dok." jawab Fiha.


Mereka keluar dari ruangan itu, dengan mata berbinar-binar. Saking bahagianya, rasa ingin melompat.


"Hmmm sayang... aku senang banget mendengar kabar baik ini." ucap Fiha.


"Iya sayang, kita akan siapkan kejutan untuk Ibu." jawab Hasbi.


Mereka segera pergi ke kampus, setelah selesai urusan di rumah sakit. Stayli dan Wanda berjalan mendekat ke arah Fiha.


"Hai mualaf, yang ngajinya cuma huruf Hijaiyah." Stayli tersenyum mengejek.

__ADS_1


"A... alif, Ba, Ta, Tsa, membaca dengan terbata-bata." Wanda menahan tawa.


Fiha malas meladeni mereka, memilih untuk segera pergi. Stayli dan Wanda saling bersenggolan tangan.


"Eh, dia gak peduli gitu. Terus kita harus gimana, bikin dia kesal." bisik Stayli.


"Manusia itu ada batasnya, ayo terus ganggu dia." jawab Wanda.


Mereka baru saja ingin mengganggu Fiha, namun langkah kaki terhenti. Ada seorang pria paruh baya, yang menghampiri Fiha.


"Hai Fiha sayang, lama kita tidak berjumpa." ujarnya.


"Om Spanyol, ngapain kau di sini." Fiha terkejut.


"Memangnya kenapa? Aku hanya rindu, kencan bersama kamu." ujarnya bersemangat.


"Lebih baik, Om segera pergi." Fiha mengusirnya dengan tegas.


"Hahah... kenapa penampilanmu menjadi kuntilanak." Pria itu menahan tawa.


"Jauhi istriku, karena dia tidak akan pernah bersamamu." Hasbi segera menarik tangan Fiha.


"Om Spanyol, mari kita bekerjasama." tawar Stayli.


"Apa untungnya aku bekerjasama dengan kalian." jawabnya.


"Sangat menguntungkan, karena Om akan bisa bersamanya." ujar Stayli.


"Benar Om, apalagi kampus ada acara." tambah Wanda.


"Oke, aku setuju. Kalian beritahu aku saja, bila waktunya telah tiba." jawabnya.


Stayli dan Wanda mengacungkan dua jempolnya. Mereka melangkahkan kakinya, menuju ke kelas.


"Aqila!" seru Hasbi.


"Iya." jawabnya singkat.


"Apa kamu mau, menghindari aku seperti ini terus?" tanya Hasbi serius.

__ADS_1


"Bisa gak, aku minta tolong banget sama kamu. Tolong, kamu jauhi aku mulai sekarang." jawab Aqila.


"Kamu 'kan, akan menjadi rekan bisnis Fisbi Boutique lagi." ucap Hasbi.


"Maaf Hasbi, aku sudah memutuskan untuk tidak kembali lagi." jawabnya.


"Aqila, Ibu ingin sekali mengobrol seperti dulu sama kamu." ucap Hasbi.


"Nanti aku ke rumahmu." jawab Aqila.


Pulang dari kampus, Fiha bergelayut manja pada tangan Hasbi. Dia sibuk meminta belikan cilok. Hasbi menuruti saja, apa yang Fiha mau.


"Sayang, kamu beliin aku pecel lele juga iya." pinta Fiha.


"Bukankah baru beli cilok." jawab Hasbi.


"Kamu keberatan sama istri sendiri?" Fiha cemberut.


"Gak sayang, cuma aku lucu aja lihat kamu." jawab Hasbi.


”Fiha, kamu tidak biasanya bertingkah manja. Jangan seperti ini di depan Aqila, aku bingung untuk menyeimbangkan perasaan kalian.” batin Hasbi serba salah.


Aqila terlihat diam saja, menoleh ke sembarang arah. Kalau tidak karena Hasbi yang mengajak pulang bersama, mungkin dia sudah pergi duluan.


"Hasbi, aku pergi ke rumah kamu duluan aja." ujar Aqila.


"Sabar dulu, tunggu sejenak. Gak lama kok, cuma beli pecel lele." jawab Hasbi.


Mereka sudah sampai, setelah beberapa menit dalam perjalanan. Yunah menyambut kedatangan Fiha dan Aqila, lalu menyuruh mereka makan bersama.


"Bu, kami berdua ada kabar gembira." ucap Hasbi.


"Kabar apa Nak." jawab Yunah.


"Fiha sekarang sedang hamil anakku." ucap Hasbi, dengan semringah.


"Alhamdulillah, Ibu ikut senang mendengarnya." jawab Yunah.


Hasbi menuang air putih dalam gelas, lalu Fiha segera meneguknya. Tidak lupa pula menyendok sayuran untuk Fiha. Aqila hanya menahan cemburu, ketika melihat perhatian Hasbi ke Fiha.

__ADS_1


”Hmmm... aku benar-benar cemburu, tolong aku Tuhan untuk tetap berlapang dada.” batin Aqila.


__ADS_2