
Fiha berbicara dalam batinnya, duduk merenung di atas loteng sekolah. Tidak ada cara, untuk meminta pertolongan. Menopang dagunya, dengan pikiran berlari-larian. Lantai tertinggi pada bangunan tersebut, memang jarang dikunjungi kecuali sesekali saja.
Tampaknya kini, dunia ingin memberi kejutan akhir. Aku harus melewati setiap badai, ujian yang sedang menerpa. Dianggap atau tidak dianggap ada oleh dunia, Tuhan akan tetap menganggap ku ada. Dia bisa menghargai jerih payahku, yang telah berpegang teguh.
"Fiha, kamu jangan sedih terus." ujarnya.
"Kita gak bisa keluar, aku juga gak bawa ponsel. Tidak mungkin, kita semalaman di sini." jawab Fiha.
Cukup lama mereka di sana, namun tidak ada tanda-tanda pintu terbuka. Masih saja sama, tetap terkunci pintunya.
Jam pulang kampus telah tiba, Hasbi berjalan dengan perlahan. Fiha menunjuk Hasbi yang ada di bawah, berusaha memperlihatkannya pada Ali. Fiha hendak berteriak, namun Ali membungkam mulutnya.
"Kamu kenapa melarang aku memanggilnya?" tanya Fiha.
"Fiha, kalau dia melihat kita di sini itu akan menimbulkan salah paham. Lebih baik minta pertolongan, pada orang lain saja." jawab Ali.
"Maksudmu, Hasbi sudah mulai tidak percaya lagi?" tanya Fiha.
"Kamu benar, itu yang aku rasakan." jawab Ali.
Fiha bersandar pada dinding tembok. "Apa benar begitu, aku hampir tak percaya."
"Kamu jangan rapuh, yang paling utama fokus untuk kesembuhan diri kamu." jawab Ali.
Aqila pergi ke Fisbi Boutique, dia sengaja menemui Yunah. Di sana Aqila juga membantu Yunah, yang sibuk mengurus toko besar tersebut.
__ADS_1
"Aqila, Ibu senang kamu ada di sini. Sudah lama, kamu tidak datang ke sini." ujar Yunah.
"Iya Bu, aku sedang sibuk." jawab Aqila.
"Apa tugas kuliah akhir-akhir ini menyerbu?" Yunah tersenyum.
"Tidak juga, aku ada urusan dengan seseorang." jawab Aqila.
"Siapa seseorang itu, calon suamimu iya." canda Yunah.
Hasbi tiba-tiba muncul, dengan membawa nampan. "Seseorang itu aku Bu, kami sering mendiskusikan hal bersama."
"Wah, ternyata kalian punya hubungan sebaik ini." ujar Yunah.
Hasbi ikut duduk di sebelah ibunya. "Ibu seperti baru tahu saja, bukankah dari dulu seperti ini."
"Oh iya, Fiha mana Hasbi?" tanya Yunah.
"Fiha masih di kampus." jawab Hasbi.
"Kenapa tidak diajak pulang bersama?" tanya Yunah.
"Karena saat aku ingin ke kelasnya, aku mendengar beberapa orang berbicara. Katanya Fiha dan Ali meninggalkan jam pelajaran akhir, maka dari itu aku tidak mengajaknya pulang bersama. Aku langsung melangkahkan kaki ke parkiran, dan pulang bersama Aqila." jelas Hasbi, panjang dan lebar.
Pada sore harinya, Hasbi masih sendiri di rumah. Sedangkan Yunah, belum pulang dari toko tersebut. Dia merasa heran, kenapa Fiha belum kembali.
__ADS_1
"Fiha kemana iya, ini sudah jam berapa." Hasbi bergumam-gumam lirih.
Hasbi menghubungi nomornya, namun tidak diangkat juga. Hasbi masih mencoba menghubungi, lalu setelah itu memutuskan pergi. Dia ingin mencarinya, ke ruangan kampus.
Hasbi masuk ke dalam kelas Ekonomi, namun tidak melihat siapapun. Dia mencari lagi, ke seluruh area kampus.
"Fihaaa...!" Hasbi berteriak, ketika berjalan mendekati pintu arah loteng.
Fiha dan Ali sama-sama terkejut, ketika mendengar suara Hasbi memanggil Fiha. Pintu yang terkunci dari luar, mulai dipukul oleh Hasbi.
"Ali, kita panggil aja Hasbi. Aku gak mau kalau terkurung di sini terus." ucap Fiha.
"Sebaiknya jangan, itu hanya akan membuatnya tahu. Aku tidak ingin, bila dia berpikiran macam-macam." jawab Ali.
"Tapi, kita di sini berdua tidak jauh lebih baik." ucap Fiha.
"Sekali ini, tolong turuti ucapan ku. Ini juga demi hubungan kamu dan Hasbi." jawab Ali.
"Aku akan berusaha diam, biarlah dia tidak mengetahui keberadaan ku." ujar Fiha.
"Bagus, kamu telah mengambil keputusan yang tepat." jawab Ali.
Hasbi duduk di anak tangga, pikirannya sudah terbayang kebersamaan mereka. Kedua matanya tadi menyaksikan, tas Ali dan Fiha ada di dalam kelas.
”Fiha, apa benar kamu sekarang menghabiskan waktu bersama sahabatku sendiri. Dimana hatimu sebagai istri, pergi tanpa izin suami. Kamu bilang, ingin selalu di sisiku. Kamu bilang, kamu mencintai aku. Tapi, nyatanya sekarang kau nyaman dengan pria lain. Memilih tempat sandaran, dengan orang yang paling dekat denganku.” batin Hasbi, bergumam-gumam.
__ADS_1
Hasbi segera menjauh dari lantai tertinggi tersebut. Fiha menahan sakit di kepala dan dadanya, sambil menangis tersedu-sedu. Kalau boleh jujur, dia ingin memeluk Hasbi suaminya.