Tafakur Cinta Mualaf

Tafakur Cinta Mualaf
Bersama Lagi


__ADS_3

Sebuah tangan melambai-lambai di ujung gerbang, siapa lagi bila bukan Kichi. Syansa tersenyum ke arahnya, sambil membawa pisau golok.


"Aww... tidak, jangan kamu bunuh aku." teriak Kichi histeris, setengah cengengesan.


"Hih, ini untuk cincang daging ayam atau kerbau." jawab Syansa.


"Aku kira, kamu mau sembelih aku." canda Kichi.


"Baiklah, aku kabulkan doamu." Syansa sudah mengangkat goloknya, namun cepat menyembunyikan karena takut dipergoki. Nanti Fiha marah lagi, karena mainan pisau benaran.


Kichi tetap tidak bergerak, karena yakin Syansa tidak akan melakukannya. Tapi ada yang lucu, raut wajah meringis dengan mata merem melek.


"Hahah... aku tidak akan melakukannya." Menepuk pundak Kichi, tanpa merasa bersalah.


"Aku phobia sama alat tajam Syansa." Tertunduk lesu, seraya mengerucutkan bibir.


"Lah kenapa? kok bisa?" tanya Syansa.


"Lagi kecil pernah motong jari sendiri, gara-gara memotong kayu bakar." jawab Kichi.


Rewangan kali itu benar-benar ramai, dan tanpa diduga ada Aliya di sana. Umar pun turut serta hadir, ntah siapa yang mengundang mereka. Bukan karena benci yang membuat Syansa menghindar, hanya malas saja untuk menyaksikan mereka.


"Eh, kenapa kamu tidak bilang kalau rewangan. Dengan begitu, aku tadi bisa pergi bersama kamu." ujar Aliya.


"Kamu 'kan sudah pergi sama Umar. Jadi, aku pergi bersama Kichi saja." jawab Syansa.


"Iya apa salahnya, kita pergi berempat." Aliya masih membahas, mengenai Syansa yang menghindar. "Memang dasarnya kamu menghindari kami 'kan? Apa si salah kami berdua?"

__ADS_1


"Tidak ada." Tangan Syansa bergerak memecahkan batok kelapa.


"Bohong!" Aliya menjawab cepat. "Seharusnya mulutmu berbeda dengan hatimu."


"Lalu aku harus menjawab apa." jawab Syansa.


Aliya menoleh ke arah Kichi, namun malah dihindari. Kichi tahu bahwa Syansa menyukai Umar, meskipun baru perkiraan saja. Memicingkan mata, dan menggerakkan bibir. Pertanda apa iya? Mulai muncul tanda tanya di hati Kichi.


”Jangan-jangan dia mengancam aku, untuk mengatakan penyebab hubungan mereka renggang. Ah tidak, pasang kuda-kuda, berpamitan, kabur.”


Begitulah kira-kira celoteh Kichi, yang tak dapat didengar oleh siapapun. Baru melangkahkan kaki kanan, namun tangan kirinya lebih dulu terasa dicekal.


"Dia tak mungkin melewatkan dirimu, pasti bercerita 'kan?" Aliya bertanya tanpa ragu.


"Boro-boro dia mau cerita, kalau ditanya palingan bilang gak apa-apa. Gitu aja terus, mana mau si dia bilang." jelas Kichi.


"Lebih baik, kamu membantu membuat bumbu masak saja." seru Syansa.


"Baiklah, aku akan mengerjakannya." jawab Aliya, yang tampak bersemangat. "Nah gitu dong, jangan cuek lagi."


Fiha muncul sambil membawa baskom, yang berisi dengan piring kotor. Itu bekas makan orang-orang, setelah makan siang berlangsung. Aliya tersenyum ke arah Fiha, sambil menghidupkan mesin blender.


"Aliya, kamu jarang ke rumah sekarang." Fiha mulai basa-basi.


"Syansa sekarang sombong." Aliya mengedipkan mata ke arah Syansa, bermaksud mengajaknya bercanda.


Syansa hanya tersenyum, mendengar ledekan temannya tersebut. Tunggu dulu, sebenarnya Syansa tidak marah, tentang kedekatan Aliya dan Umar. Dia cuma tidak mau saja, kalau hatinya merasa cemburu.

__ADS_1


"Eh, kok aku juga dibawa-bawa." Raut wajah tidak terima, terlihat pada diri Syansa.


"Memang begitu, kamu selalu menghindar." Asal ceplos saja Aliya.


Fiha membiarkan mereka berdebat, karena diapun sibuk mencuci piring. Sudah sibuk sendiri, lalu keduanya tergelak tatkala kedatangan Filda.


"Kalian itu menggunakan bahasa alien berisik sekali." Meminum air dengan santai.


"Hih memalukan, ini semua karena Syansa." Filda menyudutkan, sambil memajukan bibir bawah.


Lomba bola basket sebelum diadakan, tentu harus berlatih dulu. Seperti pagi berikutnya, seolah laki-laki rajin berlatih. Bibirnya sibuk komat-kamit, mengucap nama Tuhan berulang kali. Mungkin banyak harapan Umar, agar bisa menang di tahun ini.


"Umar, lihat aku sekarang sama siapa." ujar Aliya.


Umar menoleh ke arah Syansa. "Nah gitu dong, gabung sama kita lagi."


Kichi menggaruk alisnya yang tidak gatal, serta-merta kelopak matanya berkedut. Ntah reaksi apa itu, tidak ada yang menduga. Hanya saja bingung dengan Syansa, yang memutuskan mendadak jadi dekat lagi.


"Umar, nanti kalau dapat medali emas kasih aku." ujar Syansa.


"No, itu untuk Aliya." Umar langsung menolak.


"Hih, aku 'kan sahabat kamu. Bukankah Aliya juga begitu?" Syansa bertanya lagi, membandingkan status mereka.


"Iya, status kalian sama saja. Namun, Aliya tetap saja berbeda." Mengistimewakan seseorang, di dalam hatinya dengan sangat jelas.


Pernikahan Ali dan Filda telah selesai acaranya, tinggal mengadakan resepsi pernikahan. Semua orang dibuat sibuk lagi, dalam beberapa hari. Namun itu gotong royong keluarga, harusnya tidak masalah.

__ADS_1


__ADS_2