Tafakur Cinta Mualaf

Tafakur Cinta Mualaf
Menyembunyikan Lara


__ADS_3

Fiha dan Ali bertemu dengan dokter, sekaligus dengan orang yang ingin mendonorkan jantungnya. Dokter menggelengkan kepalanya, saat usai memeriksa keadaan, perempuan paruh baya tersebut.


"Fiha, sepertinya dia tidak cocok menjadi pendonor mu. Jantungnya juga tidak sehat, berwarna hitam kelam. Dia sering mengonsumsi rokok, dan pastinya menghirup asapnya." jelas dokter.


"Iya Dok, gak apa-apa." jawab Fiha.


Saat malam hari, Hasbi mengambil ponsel Fiha. Hasbi melakukannya saat Fiha sedang tertidur pulas.


”Maafkan aku Fiha, aku harus diam-diam seperti ini. Aku sangat cemburu, kamu sangat dekat dengan Ali. Aku takut, kalian berdua punya hubungan diam-diam.” batin Hasbi.


Hasbi memeriksa log panggilan, ternyata banyak sekali Ali menghubunginya. Belum lagi, dia melihat obrolan WhatsApp mereka. Banyak sekali stiker ketawa dari Ali, seakan dia merasa bahagia.


Hasbi meletakkan kembali, benda pipih itu di atas nakas. Batinnya merasa dikhianati, oleh cinta mualaf tersebut. Selama ini diacuhkan istri, namun mendapati orang yang dicintai blak-blakan. Bukan dengan suaminya, tapi dengan orang lain.


Keesokan harinya, Hasbi sudah bersiap untuk pergi. Nimah sudah pergi dari pagi ke tempat biasanya, yaitu Fisbi Boutique. Sementara Fiha, memilih untuk tetap di kamar saja.


"Fiha, kamu tidak pergi kuliah?" tanya Hasbi.


"Tidak, kamu duluan aja sana." jawab Fiha.


"Kenapa kamu sering tidak masuk, tidak biasanya kamu pemalas." Hasbi mulai curiga.


"Kamu tahu 'kan aku sedang hamil, ini adalah bawaan bayi." jawab Fiha.


Fiha segera mendorong Hasbi, agar cepat keluar rumah. Fiha merasa jantungnya benar-benar sakit, nafasnya tercekat secara dadakan.


"Fiha, kamu kenapa si sayang. Buka dong pintunya, aku mau bicara sama kamu. Terus terang aku gak nyaman, dengan sikap kamu yang seperti ini. Aku merasa, kamu menyembunyikan sesuatu di belakangku." ujar Hasbi.

__ADS_1


"Aku tidak menyembunyikan apapun, lebih baik cepat pergi sana. Aku benar-benar tidak bisa membuka mata, aku ingin cepat tidur sangat mengantuk." jawab Fiha.


Stayli dan Wanda menyebarkan gosip, kalau Ali dan Fiha sedang selingkuh. Foto kebersamaan mereka, sengaja diletakkan pada majalah dinding kampus.


"Gak nyangka iya, kalau mualaf itu pandai buat sensasi."


"Padahal mahasiswi baru di kampus ini."


Stayli berkacak pinggang. "Dia itu simpanan sugar Daddy juga loh."


"Benar, Om Spanyol pernah datang ke kampus." timpal Wanda.


"Wah parah, cuma pencitraan doang hijrahnya." jawabnya.


Hasbi yang baru sampai kampus, melihat mereka bergosip sana-sini. Hasbi segera menjelaskan pada semuanya, bahwa hubungan Fiha dan Ali hanya teman.


"Betul banget, kami tahu Fiha bukan wanita baik-baik. Dia menjadi simpanan Om Spanyol." timpal Wanda.


"Kalian benar-benar keterlaluan iya. Bisakah sehari saja, untuk tidak bergosip." jawab Hasbi.


"Ini bukan gosip, melainkan fakta yang sengaja disembunyikan." ucap Stayli.


"Terserah kalian mau berbicara apa, namun satu hal yang perlu kalian ingat. Siapa yang menyebar fitnah, maka dia akan menjadi bahan bakarnya di neraka." jawab Hasbi.


Hasbi melangkahkan kakinya menuju ke kelas. Pikirannya masih tentang Fiha, tentang istrinya yang tidak jujur. Banyak menyembunyikan sesuatu, hingga dirinya merasa dikhianati.


"Hasbi, di luar ramai sekali gosip tentang Fiha. Tapi aku yakin, Fiha dan Ali hanya berteman." ujar Aqila.

__ADS_1


"Aqila, tolong bantu aku iya. Aku merasa ada yang janggal sama mereka." jawab Hasbi.


"Kamu mau minta tolong apa?" tanya Aqila.


"Tolong kamu awasi Ali, dan aku akan mengawasi Fiha." jawab Hasbi.


"Baiklah, namun mereka tidak boleh tahu bila kita menyelidiki. Nanti, mereka akan mengira kita ikut campur." ujar Aqila.


"Aku ini suaminya Aqila, aku berhak tahu apa yang mereka lakukan. Aku juga berhak tahu, apa yang sebenarnya terjadi." jawab Hasbi cemas.


Aqila mengganggukan kepalanya, sebanyak tiga kali. Sedangkan Hasbi menyampaikan isi pikirannya berulang kali, supaya Aqila mengerti dan mau bekerjasama.


Fiha sedang duduk, dengan menuang air minum ke dalam gelas. Lalu dia meneguknya dengan perlahan, membawa cerek ke dapur.


"Hasbi gak boleh lihat aku seperti ini, dia hanya boleh tahu kalau aku baik-baik aja." monolog Fiha.


Fiha melangkahkan kakinya, membuka lemari di dalam kamar. Ternyata obat pereda nyerinya habis, harus segera keluar untuk mencarinya lagi. Fiha segera menelepon Ali, supaya dia cepat datang ke rumah. Fiha benar-benar membutuhkan bantuan, karena sendirian dalam rumah.


"Ali, tolong belikan obat untukku." pinta Fiha.


"Iya, kamu tunggu sebentar." jawab Ali.


"Cepat sedikit iya Ali, aku hampir tidak kuat." pinta Fiha.


Ali segera berlari keluar kelas. "Iya, aku akan secepatnya sampai. Ini baru menuju ke parkiran."


Aqila melihat Ali yang pergi dengan terburu-buru, lalu dia segera memberitahu Hasbi.

__ADS_1


__ADS_2