Tafakur Cinta Mualaf

Tafakur Cinta Mualaf
Aqila Menghilang


__ADS_3

Jam pulang kampus akhirnya tiba, Hasbi dan Ali mencari Aqila ke rumahnya. Sudah diketuk berulang kali, namun tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Benar-benar sepi, dan tidak terdengar suara apapun.


"Hasbi, ternyata Aqila juga tidak ada di rumah." ucap Ali.


"Dia kemana iya, dosen pada nanyain dia semua." jawab Hasbi.


"Barangkali, dia pergi ke toko buku langganannya. Ayo kita cari, siapa tahu di sana." Ali berharap menemukannya.


"Iya juga, ayo cari sekarang." jawab Hasbi.


Ali dan Hasbi akhirnya sampai, setelah beberapa menit dalam perjalanan. Hasbi masuk ke dalam duluan, barulah Ali lagi yang masuk.


Mereka keliling lorong rak buku, namun tidak terlihat juga Aqila. Mereka sudah menanyai beberapa pegawai, dan Aqila sudah beberapa hari tidak pergi ke sana.


"Tuh 'kan, dia memang menghilang. Jangan-jangan dia diculik lagi." Ali mulai berpikiran, yang tidak-tidak.


"Hus, ucapan adalah doa. Jangan berbicara sembarangan, dan berpikir negatif." jawab Hasbi.


Pada malam harinya, Hasbi baru sampai ke rumah sakit. Fiha melihatnya, yang sedang berjalan menghampirinya. Wajahnya terlihat kusut, tidak ada kesegaran yang terpancar. Hanya ada peluh bercucuran, karena begitu lelah.


"Sayang, kok kamu kelihatan bingung gitu?" tanya Fiha.


"Aqila tiba-tiba menghilang, semua dosen menanyakan dia. Benar-benar tanpa keterangan, dan tidak ada yang tahu dimana dia. Aku dan Ali juga sudah ke rumahnya, tetapi tetap tidak menemukannya." jelas Hasbi.


"Kok aneh iya sayang, kenapa dia tidak ngomong terlebih dulu." ujar Fiha.

__ADS_1


"Aku juga gak tahu, dia 'kan orangnya tertutup." jawab Hasbi.


"Semoga dia baik-baik saja." ujar Fiha, penuh harap.


"Aamiin, aku juga berharap hal seperti itu." jawab Hasbi.


Sudah waktunya untuk makan malam, suster membawakan makanan dalam nampan. Hasbi menyuapi makanan ke mulut istrinya.


"Hasbi, terima kasih tidak meninggalkan aku. Terima kasih tetap bersamaku, meskipun aku koma." ucap Fiha tulus.


"Fiha, tidak ada kata terima kasih di antara kita. Kamu dan aku adalah ibarat satu batang pohon, kita saling melengkapi satu sama lain." jawab Hasbi.


Seminggu kemudian, Fiha sudah keluar dari rumah sakit. Dia masuk pelajaran kuliah lagi, mengejar materi yang telah tertinggal jauh.


"Iya, terima kasih." jawab Fiha.


Dosen masuk ke dalam kelas Hasbi, lalu memberikan materi pada mahasiswa dan mahasiswi. Hasbi menyimak dengan baik-baik, lalu


"Hasbi, baca Al-Qur'an surah Ar-rahman ayat 1 sampai 20." titah ibu Ana.


"Iya Bu." jawab Hasbi.


"Ar-raḥmān, 'allamal-qur'ān, khalaqal-insān, 'allamahul-bayān, asy-syamsu wal-qamaru biḥusbān, wan-najmu wasy-syajaru yasjudān, was-samā`a rafa'ahā wa waḍa'al-mīzān, allā taṭgau fil-mīzān, wa aqīmul-wazna bil-qisṭi wa lā tukhsirul-mīzān, wal-arḍa waḍa'ahā lil-anām, fīhā fākihatuw wan-nakhlu żātul-akmām, wal-ḥabbu żul-'aṣfi war-raiḥān, fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān, khalaqal-insāna min ṣalṣāling kal-fakhkhār, wa khalaqal-jānna mim mārijim min nār, fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān, rabbul-masyriqaini wa rabbul-magribaīn, fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān, marajal-baḥraini yaltaqiyān, bainahumā barzakhul lā yabgiyān."


Hasbi sudah selesai membaca Alqur'an, dan suaranya terdengar merdu. Hasbi sangat memahami tajwid, jadi membacanya sangat fasih. Ibu Ana merasa sejuk, setiap kali mendengar suara Hasbi mengaji.

__ADS_1


Nion melihat rumah Aqila yang tertutup, seketika dia menjadi rindu dengan teguran darinya. Kalimat tentang pertemuan terakhir yang diucapkan Aqila, menari-nari di dalam pikirannya.


”Apa ini yang dimaksud Kak Aqila, dia sengaja memberi kode karena ingin pindah rumah.” batin Nion.


Pulang dari kampus Fiha dan Hasbi menjenguk anak perempuannya. Seorang bayi kecil, yang berada dalam tabung oksigen. Harap maklum saja, dia lahir prematur.


"Kasian dia, belum diperbolehkan pulang." ujar Fiha.


Hasbi menyentuh kaca ruang NICU dengan lekat. "Iya Fiha, dia terlalu kecil untuk menanggung rasa sakit."


"Setelah ini, kita cari Aqila lagi." ujar Fiha.


"Iya Fiha, Ali juga mau ikut." jawab Hasbi.


Mereka meninggalkan rumah sakit, lalu menemui Ali yang sudah menunggu di sebuah kedai. Hasbi dan Fiha menghampirinya, yang sedang duduk melamun.


Brak!


Fiha menepuk meja pelan, membuat Ali sedikit telonjak dari duduknya. Kini langsung terdiam bersamaan, tatkala mendengar suara mengaji dari arah masjid.


"Eh, kok itu mirip suara Aqila. Ayo kita segera samperin." ajak Fiha.


"Iya Fiha, ayo cepat." jawab Ali bersemangat.


Mereka segera berlarian ke arah masjid, dan mendapati kenyataan tidak ada siapapun. Jarak masjid dan kedai lumayan jauh, harap maklum kalau mereka terlambat datang.

__ADS_1


__ADS_2