
Ayam berkokok menandakan pagi sudah tiba, setelah semalam tidur tanpa mentari. Sebentar lagi akan tergantikan dengan tatapan mata pada sekeliling. Syansa sudah bangun lebih awal, dia sedang menggoreng tempe di dapur. Pandangan mata Fiha tertuju pada genteng milik tetangga, setelah beralih ke arah emperan loteng. Burung-burung berterbangan, seiring dengan tangan Fiha, yang menggeser tirai jendela.
"Eh Syansa, sepertinya dia masak. Baunya tercium, sampai ke ruangan kamar ini." Hidung Fiha berdenyut, sibuk mencari wajah suaminya. Hasbi ada di dapur, baru datang si sebenarnya.
"Syansa, kamu masak apa?" Hasbi menepuk pundaknya.
"Eh Ayah, mengejutkan aku saja. Aku sedang masak tempe dicampur hati ayam." jawab Syansa.
"Tampaknya enak sekali, boleh dong makan sekarang." Hasbi mendekatkan indera penciumannya, ke arah kuali. "Benar-benar membuat Ayah berselera." Bibirnya mengerut, bersamaan dengan hidungnya.
"Eh kucing, kamu mau maling iya." Fiha menjewer telinga Hasbi, dan mendapatkan ledekan dari Syansa.
"Aduh... duh... ampun sayangku. Jangan galak-galak gitu dong." Hasbi meringis.
"Pagi-pagi disuguhi drama rumah tangga. Lucu sekali Ayah dan Bunda ini." Syansa menutup mulutnya sambil tertawa-tawa.
Fiha memasukkan nasi ke dalam bekal, dan yang terakhir lauk pauknya. Dia berencana akan makan siang di kantor, bersama dengan Tris temannya.
"Eh, cucu Oma sudah masak." Yunah terlihat mengelap rambutnya yang basah.
Syansa tersenyum-senyum sendiri, melihat keluarganya. "Aku suka kekompakan keluarga kita. Semoga tetap utuh, dan saling cinta."
Kaki nan indah sibuk menendang-nendang sebuah botol, yang sejak tadi tergeletak di lantai. Dibawa ke sana dan kemari, ntah apa maksud hati si Kichi.
"Eh, kamu seperti tidak ada kerjaan." tegur Syansa.
__ADS_1
"Makanya, berikan aku pekerjaan." jawab Kichi.
"Pulang sekolah ikut aku saja yuk." Syansa menawarinya, dengan raut wajah semringah.
"Boleh, tapi dalam rangka acara apa." Kichi menduga ada hal penting.
"Ini acara pernikahan anak tiri dari Paman Ayah." ujar Syansa.
"Oh, Kak Filda iya." Kichi manggut-manggut, pernah sempat bertemu di acara majelis ilmu keagamaan. Memang dia perempuan baik, yang sering memimpin acara pengajian.
Sudah menata selera sebaik mungkin, dengan menikmati pempek yang baru dibelinya. Tiba-tiba melihat Umar dan Aliya, yang sedang latihan basket di lapangan. Umar mengajari Aliya, cara memasukkan bola ke ring.
"Nah, benar 'kan kamu cemburu. Aku bilang juga apa, raut wajahmu tampak berubah. Kalau cinta iya cinta saja, mana bisa kamu berkata tidak." Masih mengoceh, sambil memasukkan gigitan pempek dalam kerongkongannya.
Diguncang plastik yang berisi kuah cuka, kecap hitam itu tampak kental. Sudah biasa mereka langganan, sudah tahu bahwa makanan itu enak.
Akhirnya jam pelajaran melanda, setumpuk latihan diberikan guru. Kali ini membentuk kelompok, yang benar-benar menguji kesabaran. Aliya, Umar, dan Syansa satu kelompok lagi.
”Bokehkah aku berteriak kesal, aku benar-benar ingin mengelak. Aku tidak ingin berdekatan dengan mereka. Ya Allah kuatkan aku, atas perasaan yang terpendam.” batin Syansa.
Srek!
Eh, terkena baju Syansa. Iya, pisau yang dibawa oleh Aliya. Harap maklum kerja kelompok begitu sibuk. "Maaf iya Syansa, aku tidak sengaja."
Meski tahu bajunya robek sedikit, namun pada akhirnya mengatakan tidak apa-apa. Sampai Aliya memulai pembicaraan pusaka, karena dia memang bertanggungjawab. "Biar aku jahit baju kamu, saat pulang sekolah nanti."
__ADS_1
"Tidak perlu, aku bisa menjahitnya sendiri." Syansa menolak cepat, seiring langkah kaki menjauh. Dia malah melihat kelompok Kichi, yang sibuk mengiris daun pisang. Ada yang usil menjahili temannya, dengan sekadar candaan dan rayuan.
"Eh Kichi, kamu sudah membuat karya kreatif apa?" tanya Syansa.
"Hmmm... karya kreatif anyaman piring." jawab Kichi.
"Hmmm... mungkin hasilnya unik sekali." ujar Syansa, sembari pikirannya membayangkan.
"Semoga saja. Memangnya kelompok kalian akan membuat apa?" Menjawab, tetapi juga melemparkan pertanyaan balik.
Syansa berdehem, lalu ngedumel lirih. "Mungkin sebuah rumah, yang di dalamnya dilapisi kardus.
"Iya sudah, mulai sana buat." Sudah memegang kedua pundak Syansa, seolah dia guru yang sedang mengarahkan siswanya.
"Eh Aliya, bagaimana bila di dalamnya kita buat boneka. Itu adalah kita berdua, dan kamu Syansa diibaratkan obat nyamuk." ledek Umar.
"Iya, terserah kamu saja." Memilih mengalah, malas untuk menggubris.
"Syansa, kamu kenapa akhir-akhir ini menjauh dari kami. Kalau kami ada salah, tolong katakan baik-baik." Umar mencari cela, untuk mengetahui keganjalan hatinya.
"Tidak ada, aku hanya sedang ingin sendiri." jawab Syansa datar.
"Lah, tapi kamu dan Kichi berteman." Terheran-heran sendiri.
"Dia partner olahragaku, memangnya kamu mau gantiin posisinya." jawab Syansa lagi.
__ADS_1