Tafakur Cinta Mualaf

Tafakur Cinta Mualaf
Mendapatkan Donor Jantung


__ADS_3

Aqila berpamitan pulang, karena sudah lelah. Begitupula dengan Ali, yang berpamitan pulang dengan Hasbi. Saat Aqila baru sampai di depan pintu, dia melihat Nion yang sengaja mencabut bulu kucing.


"Eh Nion, kamu jangan seperti itu. Apa kamu tidak melihat, bahwa kucing itu kesakitan." Aqila segera menggendong kucing, yang tidak punya dosa itu.


"Kak, aku bosan dengan celoteh mu. Kau selalu mengganggu keseruan hidupku." jawab Nion.


"Kau tidak akan lama lagi, mendengar celoteh dari mulutku. Anggap saja, ini adalah kenangan yang tidak akan kau lupakan." ujar Aqila.


"Mengapa Kakak bilang seperti itu, seolah akan pergi selamanya saja." jawab Nion.


Yunah membawakan makan malam untuk Hasbi, yang dimasukkan ke dalam rantang makanan. Hasbi membuka rantang besi tersebut, lalu mulai memasukkan makanan ke dalam mulut.


"Sudah lama Ibu tidak masak ini, tumben Ibu masak sayur ini." ungkap Hasbi.


"Ini makanan yang paling buat kamu semangat, waktu kamu sedih ditinggalkan Fiha dulu. Kamu pasti akan menghabiskan pancake durian, sampai menjilati bekasnya yang menempel pada tangan." jelas Yunah.


"Ibu masih saja mengingatnya, sungguh masa kecil yang tak terlupakan. Begitu manjanya aku pada Ibu, ketika aku benar-benar terpukul." ucap Hasbi.


"Dan saat sudah dewasa, kamu bahkan tidak mau berbagi. Kamu memilih memendam kesedihan seorang diri." jawab Yunah.


"Bukan tidak mau cerita pada Ibu, namun aku tidak ingin terlihat manja." ujar Hasbi.


"Seorang anak akan tetap menjadi putra kecil, di mata Ibunya. Meskipun usianya sudah dewasa, dan memiliki kehidupan baru." jawab Yunah.


Keesokan harinya, Hasbi izin tidak masuk kuliah lagi. Dia ingin menunggu Fiha lebih lama, daripada sibuk belajar dan membiarkan istrinya sendirian. Dokter masuk ke ruangan Fiha dirawat, lalu menghampiri Hasbi dengan mata berbinar-binar.


"Hasbi, ada seseorang yang ingin mendonorkan jantungnya untuk istri anda." ujar dokter.

__ADS_1


"Masya Allah, siapa orangnya Dok." jawab Hasbi.


"Maaf, pendonor ini tidak ingin diketahui oleh siapapun." ucap dokter.


"Semoga Tuhan membalas kebaikannya." Hasbi berdecak kagum.


Tak berselang lama, Fiha dibawa ke ruang operasi. Hasbi dengan setia menunggu di luar, sampai operasi berjalan dengan lancar. Beberapa jam kemudian, Ali juga berada di rumah sakit.


"Hasbi, aku dengar Fiha dapat pendonor jantung iya." ujar Ali.


"Iya Ali, sekarang operasinya baru saja selesai." jawab Hasbi, yang merasa lega.


"Oh iya Hasbi, tadi aku mau mengajak Aqila ke sini. Tapi dia tidak ada di kelasnya, dan di rumahnya juga tidak ada. Aku pikir, dia ke rumah sakit duluan." Ali sengaja memberitahu.


"Gak ah, Aqila dari tadi gak ada ke sini." jawab Hasbi.


"Iya juga, tidak biasanya dia seperti ini. Mungkin dia ada urusan pribadi, yang sangat penting."


Ali memperlihatkan layar ponsel yang telah melakukan panggilan telepon pada Aqila, sebanyak lima puluh kali. Namun tidak ada satupun, yang diangkat olehnya.


"Subhanallah, ini di luar dugaan. Aku kok merasa, ada firasat yang tidak enak." ucap Hasbi.


"Sama, kali ini kita punya argumen serupa." jawab Ali.


Hasbi dan Ali masuk ke ruangan Fiha dipindahkan. Ternyata, perempuan itu telah membuka matanya.


"Fiha sayang, akhirnya kamu sadar. Sudah empat bulan kamu tidak bangun." ucap Hasbi.

__ADS_1


"Aku dimana Hasbi, apa yang terjadi." jawab Fiha.


"Kamu ada di rumah sakit. Empat bulan yang lalu kamu jatuh tergeletak, saat sedang melakukan sujud." ujar Hasbi.


"Sungguh memprihatinkan kondisiku saat itu, bagaimana dengan anak kita." jawab Fiha, dengan raut wajah cemas.


"Anak kita ada di ruangan NICU. Dia masih harus dalam pengawasan tenaga medis." ujar Hasbi.


"Alhamdulillah, anakku bisa diselamatkan. Meskipun, dia harus lahir prematur." jawab Fiha.


Fiha meneruskan ucapannya. "Lalu, siapa yang telah mendonorkan jantung untukku?"


"Aku juga tidak tahu, orang tersebut merahasiakan namanya." jawab Hasbi.


Fiha meminta diambilkan air, karena ingin segera berwudhu. Banyak salatnya yang telah tertinggal, dan Fiha ingin menggantinya sekarang.


Keesokan harinya, Hasbi dan Ali masuk kuliah. Mereka sudah keliling kampus, untuk mencari Aqila. Namun dia tetap ditemukan, baik di toilet, perpustakaan, kantin, semua ruang kelas, bahkan sudah bertanya pada banyak orang.


"Dimana iya Aqila, kok tumben dia gak masuk kuliah." ujar Ali.


"Bisa jadi dia sedang izin." jawab Hasbi, yang masih berpikir positif.


"Hasbi, tidak mungkin Aqila izin tanpa memberitahu." ucap Ali.


"Namun, kenyataannya sekarang dia gak ada. Iya sudah begini saja, pulang dari kampus kita ke rumahnya." Hasbi mengusulkan idenya.


Mereka segera melangkahkan kaki, menuju ke kelas masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2