
Ucapan Stayli masih terbayang-bayang, Aqila memikirkan bahwa mungkin ada benarnya. Bisa saja Fiha ingin membanggakan diri, karena berhasil memenangkan hati Hasbi. Mereka sudah cukup jauh, dari Stayli dan Wanda.
"Aku ke kelas duluan iya Ali." ucap Aqila.
"Iya, tenangkan dirimu." jawab Ali.
Awalnya, Aqila masih bisa berpura-pura biasa saja. Tapi sekarang, sungguh sangat memalukan. Bagaimana tidak, perasaan yang selama ini tersembunyi menjadi perbincangan kampus. Sudah susah payah dia menyembunyikannya, namun malah ketahuan. Rasanya seperti aib saja, yang tidak boleh diketahui.
”Bagaimana cara aku menghadapi Hasbi, pasti akan bertemu terus. Kami sekelas, dan dia sudah punya istri.” batin Aqila.
Dosen Dedew masuk ke dalam kelas, memandang ke arah kursi Hasbi dan Aqila. Dia mengetahui kabar angin, tentang perasaan Aqila yang sesungguhnya.
"Anak-anak, Ibu mau memberitahu pada kalian semua. Bahwa dalam beberapa hari ini, Ibu melihat ada pertumbuhan luar biasa. Dalam belajar di kampus, mahasiswi ini mencakup pelajaran dengan tanggap. Kalian mungkin tidak kenal, dia merupakan mahasiswi pindahan. Namanya Fiha, dari kelas Ekonomi." jelas Dedew panjang dan lebar.
"Wah, itu istri kamu 'kan Hasbi." Seorang pria sekedar iseng, mencubit pelan lengan Hasbi.
"Heheh... iya dia istriku." jawab Hasbi.
"Aqila, kamu bakalan kalah tuh sama Fiha."
"Cepat pepet terus suami orang. Janganlah nanti aku yang disalahin, kalau kamu jadi pelakor."
"Tidak ada kesempatan, untuk kamu bisa memiliki dia. Sudahlah mundur saja, kamu sudah kalah tragis."
__ADS_1
"Dalam medan perang, kamu hanyalah prajurit. Sedangkan Fiha adalah magnetnya."
Suara riuh itu masih saja memecah kesunyian, semakin menyingkirkan Aqila agar cepat menjauh. Pernyataan yang mereka lontarkan seolah benar adanya. Aqila pun merasa begitu, kalah dengan tragis. Karena sangat malu, dirinya diam saja. Tidak percaya diri lagi untuk sekedar bertanya, terus menundukkan kepala supaya tidak melihat Hasbi.
"Sudah, sudah, kalian semua diam. Jangan sibuk iya, Ibu mau menjelaskan materi." ujar Dedew.
Sepanjang pelajaran dimulai, Aqila tidak konsentrasi seperti biasanya. Pikirannya tidak bisa dipaksa untuk fokus. Saat pelajaran usai, Aqila berjalan ke parkiran. Kedua bola matanya melihat Fiha, namun tubuhnya melalui tanpa berhenti. Fiha menoleh ke belakang, menatap motor Aqila yang mulai melaju.
”Aqila, aku tahu perasaan kamu. Aku tahu kamu hancur banget, saat melihat aku menikah dengan Hasbi. Belum lagi yang sekarang, saat kamu menjadi bahan olokan kampus. Semua mata dosen dan juga rektor, yang mempertanyakan di dalam benak masing-masing.” batin Fiha sedih.
Fiha bukanlah orang yang tega, melihat orang lain tertindas. Apalagi dia tahu, sebab patah hati itu darimana. Namun untuk membuat Aqila tersenyum, yaitu dengan dia meninggalkan Hasbi. Fiha tidak mungkin mau kalau hal itu, dia akan tetap memperjuangkan. Ikatan sah telah mempererat keduanya.
"Sayang, kamu sudah lama menungguku?" tanya Hasbi.
Hasbi mencubit kedua pipinya dengan gemas. Mereka segera pulang ke rumah, dengan menggunakan motornya.
"Eh, kalian sudah pulang." Yunah melihat mereka, yang baru saja datang.
"Iya Bu, kami tadi banyak jadwal pelajaran." jawab Fiha.
"Oh iya, apa Aqila sudah mau kembali lagi?" tanya Yunah.
"Tidak tahu Bu, dia belum bilang apa-apa." jawab Fiha.
__ADS_1
Setelah meletakkan tas di kamar, Hasbi dan Fiha makan siang bersama. Mereka berencana akan pergi ke Fisbi Boutique, setelah mengisi perut yang terasa lapar.
"Ibu berharap, kalian berdua segera punya anak. Biar rumah ini semakin bertambah ramai." ujar Yunah.
"Iya Bu, aku juga mengharapkan kehadirannya." jawab Fiha.
Aqila berdiri di atas bukit, lalu menjerit sekuat-kuatnya. Tidak memperhatikan sekitar, karena telinganya tidak mendengar suara manusia. Hanya ada suara jangkrik, kodok, kumbang, dan burung saja.
"Hasbi, kenapa aku masih tetap mencintaimu. Rasanya teramat sakit, bila dipaksa harus melepaskan. Aku ingin membiarkannya saja, sampai menghilang sendiri. Tapi kenapa, malah aku yang menjadi perbincangan hangat."
Bulir-bulir cairan bening menetes, dari sudut matanya. Ternyata ada seseorang, yang masih peduli dengan Aqila. Mungkin saja, lebih dari itu. Perasaan yang selama ini, tidak dia ungkapkan. Dia adalah Ali yang berpura-pura tegar, dan berharap bisa benar-benar kuat.
"Aqila, kenapa kamu menyendiri lagi?" tanya Ali.
Aqila mengusap air matanya. "Kamu kok muncul tiba-tiba lagi. Sengaja iya, mau membuntuti aku."
"Tidak juga, tadi aku melihat laju motormu ke arah sini." ujar Ali.
"Iya, aku sedang melihat pemandangan hijau." jawab Aqila.
"Di sini memang tenang dan sejuk, sangat bagus untuk melepaskan uneg-uneg." ucap Ali.
"Lepaskanlah beban dirimu, jika memang ada." jawab Aqila.
__ADS_1