Tafakur Cinta Mualaf

Tafakur Cinta Mualaf
PSG


__ADS_3

Waktu yang ditunggu akhirnya tiba, ruang lingkup sekolah telah berlalu. Kami semua mempersiapkan diri, magang di PT. Cahaya. Aku dan Eli pergi pagi-pagi sekali, namun berada di kosan teman terlebih dulu. Ichi dan Lianti magang di kantor Taspen, yang berada di kota Jambi. Semua siswa dan siswi berkumpul, di halaman rumah ibu Ima. Mereka sibuk foto bersama pak Mizi. Aku tidak ikutan, memilih duduk di sebuah batu. Enggan untuk bergabung bersama, karena aku bukanlah orang penting. Yang ada menjadi bahan olokan, karena beberapa orang tidak menyukaiku.


”Sakit tak terkira, melihat Rulif menghindari ku. Setidaknya bila dia ingin menjauh silahkan saja, namun tidak perlu membuang muka. Aku bagaikan lalat menjijikan, dan kau sangat takut terkena kumannya.” batinku.


Aku dan Eli baru mengetahui, ternyata pergi ke desa Sinar Berseri menggunakan motor. Sementara saat pergi tadi, aku dan Eli diantar. Aluna membawa motor sendiri, tapi tidak bisa untuk berboncengan. Eli menumpang dengan Ulia, sedangkan aku terpaksa menghubungi bapakku. Dengan mata jelas aku melihat, Rulif dan Yura membawa motor masing-masing. Namun, aku enggan untuk menumpang.


”Mengapa, mengapa kau tidak magang di kota saja. Aku benar-benar ingin melupakan kamu, meski aku tidak tahu akan berhasil atau tidak. Aku bukan ingin mengusirmu Rulif, namun aku seperti makhluk transparan di hidupmu. Seperti tidak terlihat, meski sebenarnya ada.” batinku.


Aku hanya melihat dirinya di kejauhan, sulit bagiku untuk menggapainya. Aku cukup tahu diri, bahwa aku memang diasingkan. Ibu Ima menyingkirkan aku, namun tidak seimbang dalam hatiku. Andai saja bisa menghilang, aku ingin meminta Rulif sejauh-jauhnya saja. Aku tidak ingin melihatnya sekilas, namun tidak bisa menegurnya ataupun berteman. Itu akan sangat tersiksa, melebihi hatinya yang tidak peka.


Ulia menawariku untuk pergi bersamanya, dan aku menerimanya. Sementara Eli berboncengan bersama Rulif, tidak jadi menumpang dengan Ulia. Aku pasrah saja, untuk pergi bersama Ulia. Sementara yang aku tahu, hatiku terus fokus. Aku memikirkan cara, agar tidak bertemu Rulif. Aku memang orang yang sulit melepaskan perasaan, namun mungkin orang yang tidak bisa kembali setelah mengikhlaskan. Apalagi saat itu, hatiku dipaksa melepaskan. Tidak bisa santai sebebasnya, padahal rasa suka adalah urusanku. Bukan urusan teman-teman Rulif, atau siapapun juga.


Aku bersama Surti dan Aluna beserta Ibu Ay, menuju ke PT. Cahaya bagian kantor kebun. Sedangkan Eli, Ulia, Rulif, dan Yura bagian kantor pabrik. Aku benar-benar ingin berteriak, mengungkapkan isi hatiku. Tapi aku tidak tahu, harus mengadu pada siapa rasa tidak terima ini. Aku sudah mencurahkan semuanya pada Tuhan, dan meminta jauhkan dari Rulif bila bukan yang terbaik.

__ADS_1


Dalam diam ku terpaku, ditinggal ibu Ay setelah sesi perkenalan. Orang di kantor kebun ramah-ramah, para pekerjanya benar-benar baik. Kami diajari cara menginput, laporan mandor panen, dan lain sebagainya. Disuruh juga scan kertas, sehingga membuat kami mendapatkan ilmunya. Aku merasa lega, sedikit melupakan kesedihanku. Menjalani hari di sana, jauh lebih baik. Terkadang aku sengaja mencari celah, untuk tidak berpapasan dengan Rulif. Karena kantor kami cukup jauh, tidak akan bisa bertemu juga. Hari-hari terus berlalu dengan baik, hanya diawal magang saja kami bertemu.


"Firsya, kamu tidak tidur di mes?" tanya Meta.


"Tidak Mbak." jawabku.


"Aku sering lihat dua pria, dan dua perempuan di mes." ucap Mikaila.


Hatiku memang tidak bisa berbohong, dia terus saja mencintai Rulif. Bila dia bisa dihilangkan, ingin aku buang saja. Setidaknya aku tidak perlu menyimpan beban. Bukan tidak bersyukur atas anugerah ini, namun mencintai sendirian bukanlah hal baik. Aku diganggu dengan beberapa makhluk hidup, karena rasa yang kini mengendap di hatiku.


Bila jatuh cintanya dari mata, maka bisa melupakan saat tidak melihatnya. Namun jika yang jatuh cinta hati, ketahuilah bahwa sulit melupakannya meski tak terlihat. Seperti yang aku alami sekarang, sudah lama kami tak berjumpa. Kami tidak pernah komunikasi, namun masih saja hati mencintainya. Pikiran meminta lupakan, namun tidak bisa. Setelahnya aku memilih untuk tidak memaksanya. Membiarkan hilang sendiri saja, seiring berjalannya waktu.


Aku memang sudah mempunyai firasat, bahwa aku akan tetap mencintai dia sampai lulus sekolah. Melupakan Rulif, sama seperti ingin menyayat kulit sendiri. Sulit bagiku untuk melepasnya, meski sudah aku usahakan berkali-kali. Hingga aku terluka, menangis berdarah-darah, mendapatkan makian karena jatuh cinta. Aku tidak akan mencintainya dalam diam lagi, aku akan mencintainya dalam ikhlas. Tetap bertahan, meski sejatinya melepaskan.

__ADS_1


”Aku tidak tahu dengan isi hatiku, kenapa dia tidak bisa sejalan dengan pikiranku. Kenapa dia masih menginginkanmu, meskipun pikiranku meminta pergi sejauh mungkin. Kenapa harus ada rasa ini, padahal kau yang disebut cinta ntah kemana. Aku hanya ingin mencari kesibukan yang aku suka, tanpa harus menjadikan kamu yang terfokus.” batinku.


Pernah sekali, aku melihat Rulif, Yura, Ulia, dan Eli berjalan, tepat di depan kantor kebun. Aku secepat mungkin menyingkir, tanpa melemparkan senyuman. Aku sengaja tidak ingin bertemu dengannya. Biar Sakim, Ido, Riyadi, dan teman lainnya itu puas, melihat Firsya yang dianggap dekil menjauhi Rulif. Aku masuk kembali ke kantor kebun, saat para pekerja tidak ada lagi di sana. Mereka sudah keluar semua, untuk makan siang. Aku menangis di tempat dudukku biasanya. Tidak ada yang tahu, karena kantor sepi.


Beberapa hari setelahnya, seorang perempuan menghampiri aku. Dia menyuruh aku menulis di kertas, dan aku pun ikut ke ruangannya. Dia tersenyum melihatku, orangnya sangat ramah. Namanya Jannah, aku sering memanggilnya mbak.


"Firsya, tulisan kamu bagus sekali." pujinya, sambil tersenyum.


"Terimakasih Mbak." Aku melemparkan senyuman juga.


”Cita-citaku memang menjadi penulis buku, merangkai kata-kata penuh makna dalam hidupku. Maka dari itu, aku terus berjuang menggapainya. Sekarang aku sedang berproses, semangat Firsya. Buktikan pada dunia, bahwa kamu layak dicintai. Semangat, kamu pasti bisa sukses. Tuhan sudah melihat, betapa sedihnya masa sekolahmu. Dan kamu harus yakin, bahwa hadiah besar di masa depan menanti. Dia tidak mungkin menelantarkan hambanya, yang sedang bersungguh-sungguh namun dianiaya batin.”


Waktu pulang sekolah tiba, aku melajukan motor ku ke rumah. Mengendarainya dengan kekuatan sedang, sangat berhati-hati karena becek. Terkadang aku berpikir, bila aku berada di dalam sebuah tabel neraca lajur. Akankah aku tetap dipertahankan, bila menjadi beban penyusutan peralatan. Bayangkan saja, pasti aku akan terganti. Bukan tidak mungkin, waktu juga mengganti peralatan baru untukmu. Peralatan yang memang seharusnya memasuki kehidupanmu. Membantu setiap langkahmu, menapaki semua akun pada tabel laporan.

__ADS_1


__ADS_2