
Fiha semakin hari terlihat pucat, tubuhnya juga lemas tak bertenaga. Dia menutupi wajah lesunya, dengan pelembab bibir berwarna merah muda.
”Dengan seperti ini, Hasbi tidak akan tahu bila aku sakit. liptint merek Candy telah menjadi perantara, dalam membantuku.” batin Fiha.
Langkah kakinya tidak dapat seimbang, dengan tubuhnya. Pada akhirnya, Fiha terduduk di lantai.
Bruk!
Hasbi terkejut melihat Fiha. "Kamu kenapa terlihat lesu sayang?"
"Tidak kok, ini cuma bawaan capek saja." jawab Fiha.
"Yang benar saja kamu, jangan membohongi aku." Hasbi tersenyum menggodanya.
"Iya sayang, aku serius." jawab Fiha.
"Kalau gitu, kita pulang saja yuk. Kamu perlu istirahat." Hasbi membantunya berdiri, dan meninggalkan bungkusan yang berserakan di lantai.
"Kak Hasbi antar Kak Fiha saja, biar kami yang menyelesaikan ini." ujar Anis.
"Iya Anis, kamu dibantu sama Horiyah iya." jawab Hasbi.
Mereka berdua mengangguk setuju, lalu Hasbi segera berpamitan pada Yunah. Hasbi dan Fiha pulang ke rumah, dengan berboncengan berdua di atas motor.
Halifah, Filda, dan Qalam sudah sampai ke pulau Ciredeng. Ternyata rumah orangtua Qalam begitu dekat, dengan rumah orangtua Halifah.
__ADS_1
"Jadi, orangtua Pak duda tinggal di sana." Filda menunjuk rumah, yang tidak begitu besar.
"Iya Filda, sewaktu kecil Bapak sering bermain petak umpet di halaman rumah." jawab Qalam.
Aqila sedang duduk santai, sambil membuka buku hariannya. Tiba-tiba pandangannya jatuh pada seorang anak kecil, siapa lagi bila bukan Nion. Dia sedang melempar anak ayam, yang sedang mengais makanan.
"Eh Nion, kamu jangan seperti itu. Kasian ayamnya, mereka mau makan." ujar Aqila mengingatkan.
"Gak apa-apa, aku cuma sekadar mengajak bermain." jawab Nion.
"Masih banyak yang bisa dijadikan mainan. Contohnya saja lompat tali, dan juga injit-injit semut." ucap Aqila.
"Kenapa si, Kak Aqila selalu mengganggu saja." jawab Nion.
Nion segera berlari, meninggalkan Aqila yang berdiri mematung. Sementara Aqila, merasa sangat iba. Tidak tega rasanya, seperti dituduh mengambil kebahagiaan anak kecil tersebut.
”Apa yang dia lakukan di dapur, aku harus mengintipnya untuk mengetahui yang sebenarnya.” batin Hasbi.
Hasbi menuruni ranjang tidur, lalu mengintip istrinya dari balik tembok pembatas. Dia melihat Fiha yang sedang memasukkan obat, ke dalam mulutnya sendiri. Wajahnya masih meringis, bagaikan orang yang menahan sakit.
"Fiha, kamu sedang sakit iya?" tanya Hasbi.
"Tidak kok, aku sedikit tidak enak badan saja." jawab Fiha.
"Obat apa yang kamu minum?" Hasbi hendak mengambil plastik obatnya.
__ADS_1
Fiha segera menangkis tangannya, dan plastik obat terjatuh ke lantai. "Kamu tidak perlu ingin tahu secara detail, aku cuma sakit kepala karena demam doang."
"Sejak kapan, kamu menjadi kasar seperti itu?" tanya Hasbi.
"Maafkan aku sayang, aku tidak berniat menyinggungmu." jawab Fiha.
Fiha segera mengambil plastik obat, dan menyembunyikannya dalam genggaman tangan. Lalu setelahnya, Fiha melangkahkan kaki menuju kamar. Hasbi mencari sisa plastik obat, di dalam tong sampah. Hasbi bolak-balik memeriksa tempat sampah. Satu persatu diraih oleh tangannya, tanpa merasa jijik.
"Kok tidak ada iya, aku penasaran banget." monolog Hasbi.
Karena sudah beberapa menit mencari, akhirnya Hasbi menyudahi pencariannya. Hasbi mencuci tangan, di dalam toilet. Setelah itu masuk kembali ke kamarnya. Fiha sudah terlelap, tidak bangun lagi.
Hasbi pelan-pelan merogoh saku baju Fiha, dan mendapatkan plastik obatnya. Dia membaca tulisan di luarnya, yang ternyata obat penghilang nyeri. Hasbi meletakkan kembali, di dalam saku baju Fiha.
Keesokan harinya, Fiha dan Hasbi pergi ke kampus bersama. Fiha melihat bungkus obat, yang ada di tangannya. Kini bertemu dengan Ali diam-diam, di teman belakang kampus.
"Ali, semalam Hasbi memergoki aku." ujar Fiha jujur.
"Kok bisa si, padahal kamu sudah menyembunyikannya bukan?" jawab Ali.
"Sepandai apapun kita menyembunyikan, ada masanya akan ketahuan." ucap Fiha.
"Lalu, hal selanjutnya apa yang harus kita lakukan." jawab Ali.
"Aku ingin ke rumah sakit An-Nur. Apa bisa kita pergi sekarang, di sana menyediakan pendonor jantung." ujar Fiha.
__ADS_1
"Kita harus pergi sekarang, dan meminta izin dengan wali kelas. Kalau pulang sekolah, aku malah takut diketahui Hasbi." jawab Ali.
Fiha pun menyetujui usulan ide dari Ali. Mereka segera pergi diam-diam, setelah mendapatkan izin dari wali kelas. Sesampainya di rumah sakit An-Nur, mereka segera mencari dokter bedah untuk menangani penyakit tersebut.