Tafakur Cinta Mualaf

Tafakur Cinta Mualaf
Mengidam


__ADS_3

Malam hari pukul 21.00. Fiha browsing internet. Fiha menjulurkan lidahnya, ketika melihat gambar siomay pada ponsel.


"Hmmm... aku ingin ini sayang." Fiha menghadapkan ponselnya pada Hasbi.


"Baiklah, aku beli sekarang juga." jawab Hasbi.


Hasbi segera keluar dengan menggunakan motor, namun ternyata ada motor yang menyerempetnya. Hasbi terjatuh, lalu membantu tubuhnya sendiri berdiri.


Setelah sampai kedai, dia memesan siomay banyak. Saat hendak pulang, tiba-tiba hujan turun dengan deras. Hasbi nekat menerjang hujan, demi memberikan makanan ke istrinya. Jika berteduh dulu, pasti istrinya menunggu lama.


"Sayang, kamu hujan-hujanan?" Fiha melihat Hasbi, yang baru sampai.


"Iya sayang, aku ingin kamu memakan siomaynya selagi hangat." jawab Hasbi jujur.


Fiha tersenyum. "Terima kasih sayang."


"Iya sayang." jawab Hasbi.


"Loh tangan kamu kenapa?" Fiha melirik tangannya yang berdarah.


"Tidak kenapa-kenapa kok." jawab Hasbi.


"Jangan bohong sayang, kelihatannya ada darah. Terus lengan baju kamu sedikit sobek." Fiha menatap, dengan penuh selidik.


"Oh, ini hanya terluka sedikit. Sudah, jangan dipikirkan lagi." Hasbi tidak ingin Fiha mengetahuinya.


Fiha segera menarik tangan Hasbi, sehingga kakinya ikut berjalan. Fiha mengobati luka Hasbi, lalu meniupnya dengan pelan.


"Mengapa bisa seperti ini, katakan dengan sejelas-jelasnya." ujar Fiha.


"Aku tidak sengaja diserempet oleh motor." jawab Hasbi.


Manajer Gus melompat kegirangan, saat mendengar penuturan Fiha. Bagaimana tidak, nama merek kali ini lebih menarik.

__ADS_1


"Fiha, ternyata ada untungnya produk itu ditiru. Kalau tidak ada kekeliruan, mana mungkin minta tolong padamu." ujar Gus.


"Ini namanya hikmah di balik musibah Pak." jawab Fiha.


Fiha keluar dari ruangannya, dan duduk di kursi. Dia kembali menghadap laptopnya, mengerjakan tugas yang belum diselesaikan. Tiba-tiba saja, bos keluar dari ruangannya. Dia membawa radio yang digantung pada lehernya. Bos berjoget sambil merangkak di dinding, seperti cicak yang punya sayap mendadak.


"Kenapa Pak bos tertular dengan kelakuan manajer Gus." ujar Tris.


"Aku juga tidak tahu." jawab Fiha.


"Ternyata, orang-orang di kantor ini aneh semua." ucap Tris.


"Tidak semuanya seperti itu. Sudahlah urus pekerjaan saja, mengapa mengurus orang yang sedang menghibur diri sendiri. Lagipula, dia tidak mengganggu kita." jelas Fiha.


"Aku merasa risih melihatnya, berasa bukan melihat bos yang dulu." ujar Tris.


"Anggap saja, bos sedang ingin saingan dengan manajer Gus." Fiha tersenyum, sambil memainkan huruf pada papan tombol laptop.


"Hasbi, blind date yang kalian lakukan waktu itu semakin populer. Sekarang penjualan perusahaan meningkat, jadi bulan depan kalian akan dapat bonus." ujar bos.


"Terima kasih bos." jawab Hasbi.


"Oh iya, berkat kalian juga perusahaan menerima pesanan pernikahan. Produk jajanan terbaru, akan dijadikan jamuan para tamu. Ini baru terjadi pertama kalinya, sungguh luar biasa kalian berdua." ujar bos, dengan takjub.


"Bukan kami yang luar biasa, tapi Tuhan dalam mengatur pemikiran skenario. Dunia ini bukan apa-apa, jika Allah tidak mengatur kehidupan seisinya." jelas Hasbi.


Pulang dari kerja, ternyata benar saja Fiha bawa hadiah. Terlihat seseorang memasukkan kursi pijat, ke dalam rumah Yunah.


"Jadi ini, hadiah yang kamu maksud?" tanya Yunah.


"Benar sekali Bu." jawab Fiha.


"Ini bisa digunakan untuk duduk santai dong." Yunah bertepuk tangan ria.

__ADS_1


"Bukan hanya itu, bisa digunakan sebagai kursi pijat." jawab Fiha.


"Terima kasih iya Fiha." ujar Yunah.


"Iya Bu." jawab Fiha.


Syansa melihat kursi terbaru, yang dibeli oleh bundanya. Syansa memandangnya berkali-kali, dengan penuh rasa takjub.


"Masyaa Allah, Bunda membeli kursi pijat iya?" tanya Syansa.


"Iya sayang, ini buat Nenek." jawab Fiha.


"Baguslah kalau Bunda membelinya. Nenek selalu pegal-pegal, ketika baru pulang dari butik." ujar Syansa.


"Harap maklum, Nenek ini sudah lanjut usia." jawab Yunah.


Sementara di sisi lain, terlihat Ali yang sedang berjalan ke rumah Hasbi. Fiha membuka pintu, lalu menyuruhnya untuk masuk.


"Silakan masuk, Hasbi ada kok di dalam." ujar Fiha.


"Iya Fiha, ada yang ingin aku bicarakan." jawab Ali."


Ali masuk ke dalam, dan mulai membuka pembicaraan dengan Hasbi. Sebuah hal penting, yang akan dibicarakan dengan serius.


"Hasbi, sebenarnya aku ingin melamar Filda. Bisakah kau temani aku ke rumahnya?" tanya Ali.


"Oh iya, boleh-boleh. Tidak aku sangka, ternyata kau menyukainya." jawab Hasbi.


"Mencoba membuka lembaran baru tidak salah bukan?" tanya Ali.


"Tentu tidak, daripada terkurung masa lalu." jawab Hasbi.


Syansa keluar dengan membawa teh hangat, tidak lupa pula cemilan peyek. Dia meletakkannya di atas meja, lalu Hasbi menawari Ali untuk memakannya.

__ADS_1


__ADS_2