Tafakur Cinta Mualaf

Tafakur Cinta Mualaf
Kenyataan Yang Sebenarnya


__ADS_3

Fiha melangkahkan kakinya, menuju ke ruangan dokter bedah. Di sana banyak sekali brankas pasien, yang pernah dirawat di rumah sakit tersebut. Fiha akan menggunakan kesempatan, dengan sebaik-baiknya.


"Dok, aduh, aduh sakit sekali perutku." ujar Fiha.


"Ayo masuk ke dalam sini." Dokter membantu memapah tubuh Fiha, yang sedang berdiri di ambang pintu.


"Dok, sebenarnya perutku kambuh karena habis operasi jantung." ujar Fiha.


"Oh gitu, harus sering melakukan pemeriksaan ulang (check up) dan juga meminum obat pada tahap pemulihan." jawab dokter.


"Dok, kira-kira siapa iya yang mendonorkan jantung pada bulan Agustus." ujar Fiha.


"Untuk apa anda menanyakan hal ini. Tentu tidak bisa disebutkan satu persatu." jawab dokter.


"Apa ada seseorang yang membawa donor jantung, untuk pasien yang bernama Fiha." ucap Fiha.


"Aku tidak tahu, biar aku cek brankas." jawab dokter.


Ketika dokter memegang data pasien, tiba-tiba terdengar ketukan pintu. Dokter segera membukanya, dan ternyata itu Hasbi.


"Maaf Dok, aku adalah saudara dari seseorang yang mencari donor jantung untuk Fiha. Bolehkah bila aku melihat langsung, karena dia sudah lama menghilang." ujar Hasbi.


"Baiklah, aku akan memberitahu kalian. Aku rasa ini saat yang tepat, sebenarnya Aqila telah meninggal dunia. Aku masih menyimpan, surat yang telah diamanahkan olehnya." jawab dokter tersebut.

__ADS_1


Aqila dan Hasbi membuka surat itu, lalu membacanya bersama-sama. Mereka juga menahan air mata, yang hendak keluar. Tidak menyangka, bahwa Aqila lah yang telah mendonorkan jantungnya.


"Hasbi, saat kamu membaca surat ini, mungkin aku sudah gak ada lagi. Maafkan diriku yang merusak pertemanan kita yang murni, karena menyelipkan perasaan untukmu. Aku turut bahagia, karena bisa mendonorkan jantungku untuk Fiha. Setidaknya, aku tidak akan mendapati kamu yang bersedih lagi. Aku juga bisa ada dalam diri Fiha, dan menjadi yang kamu cintai. Jantungku ada di sana, silahkan sepuasnya memandang Fiha. Aku tidak akan merasa cemburu lagi. Tidak bisa aku jelaskan, intinya aku sangat bahagia. Terima kasih karena selama hidup, kamu telah membawa warna untukku."


"Aqila, kenapa kamu melakukan ini untukku." Fiha menangis tersedu-sedu, sampai air bening itu menetes pada kertas.


"Jangan menyesali yang telah terjadi, cara untuk berterima kasih adalah menjaga yang dia berikan." Hasbi merangkul pundaknya.


Fiha membenamkan kepalanya, pada dada bidang Hasbi. Bibir kecilnya mengatup, tanpa ingin berkata-kata lebih banyak. Air liurnya masih tersekat, untuk sekadar membasahi bibir.


Mereka berdua sudah sampai di kuburan, tidak butuh waktu lebih lama lagi. Kendaraan roda dua yang Hasbi miliki, lumayan cepat dalam bergerak maju.


"Hasbi, aku masih ingin belajar mengaji bersamanya. Sejak awal aku cemburu, dengan ilmu agama yang dimiliki oleh Aqila." ujar Fiha.


"Iya sayang, namun aku benar-benar kehilangan." ucap Fiha.


"Bukan hanya kamu saja, tapi Ali adalah orang yang akan lebih tertekan. Dia naksir sama Aqila sudah lama, dan sekarang takdir memperlihatkan kenyataan ini." jawab Hasbi.


Fiha jadi merasa bersalah, seolah telah mencuri kesempatan untuk Ali. Kalau tidak karena dirinya yang mengidap kanker jantung, pastinya tidak akan menghalangi kemungkinan mereka bersatu. Tapi dia juga mengerti, bukan dirinya yang ingin melahirkan takdir buruk.


"Sekarang sudah tengah hari, ayo kita pulang." ajak Hasbi.


"Iya sayang." jawab Fiha.

__ADS_1


Hasbi sudah berjalan duluan, lalu merasakan tidak ada Fiha di sampingnya. Dia menghentikan langkah, untuk sekedar melihat ke arah belakang. Fiha sedang duduk, tampaknya sangat lelah.


"Sayang, kenapa tidak berjalan lagi?" tanya Hasbi.


Fiha tersenyum penuh arti. "Aku capek sayang, kamu gendong aku iya."


Hasbi duduk berjongkok, lalu Fiha naik ke punggungnya. Mereka pulang bersama, dengan menggunakan motor. Tak berselang lama sudah sampai, dan disambut Yunah dengan sebuah handuk. Jilbab Fiha terlihat basah, karena rintikan hujan kecil.


"Fiha, ayo masuk ke dalam rumah." Yunah merangkul pundaknya.


"Iya Bu." Fiha melangkahkan kakinya, bersamaan dengan kaki Yunah.


"Haduh Hasbi, kenapa mantuku kamu buat kedinginan." gerutu Yunah lirih.


"Maaf Bu, kami tadi baru saja ke makam Aqila." jawab Hasbi, berterus-terang.


"Apa? Innalillahi Wa'innailaihi Raji'un. Kenapa tidak memberitahu Ibu." Yunah sampai memegangi dadanya, sangat terpukul ketika mendengar kabar tersebut.


"Maafkan kami Bu, karena hal ini baru diketahui." jawab Hasbi.


"Aqila, kenapa kamu pergi secepat ini Nak." Pandangannya getir, sambil meremas jari-jarinya.


"Ibu, ada kalanya kepergian tanpa persiapan dan tanpa kata perpisahan." Fiha mengusap punggung ibu mertuanya.

__ADS_1


__ADS_2