Tafakur Cinta Mualaf

Tafakur Cinta Mualaf
Jadi Mualaf


__ADS_3

Fiha bingung harus memulainya darimana, Yunah membimbingnya seperti anak sendiri. Fiha akhirnya mengucapkan kalimat syahadat, mengikuti bimbingan Yunah. Meski dengan gelagapan, akhirnya dia berhasil.


"Hasbi, aku berhasil." ucap Fiha, dengan semringah.


"Iya Fiha, pertahankan iya." Hasbi tersenyum.


Keesokan harinya, mereka salat subuh berjamaah. Hasbi yang menjadi imam dalam salat. Fiha dan Hasbi pergi ke kampus, saat sudah usai sarapan pagi. Di dalam perjalanan, Hasbi berhenti sejenak.


"Kamu mau ngapain?" tanya Fiha.


"Aku mau mengajak kamu, untuk mengganti baju. Lihatlah, yang kamu pakai adalah baju Ibu. Terlihat kebesaran, nanti diketawain sama orang-orang." jawab Hasbi.


"Benar juga, aku jalan tidak leluasa. Sudah seperti kuntilanak akan melayang." ucap Fiha.


"Iya sudah, ayo masuk ke dalam." ajak Hasbi.


Mereka segera masuk ke dalam, lalu Fiha mengambil baju gamis berwarna hitam. Fiha memilih ukuran sedang, yang tidak terlalu sempit. Karena hal itu juga, akan memperlihatkan lekuk tubuhnya. Tak berselang lama, Fiha sudah keluar dari ruang ganti.


"Masyaa Allah, kamu lebih bagus mengenakan jilbab Fiha." ucap Hasbi.


"Ini memuji atau menghibur." jawab Fiha.


"Sesuai anggapan kamu saja." ujar Hasbi.


"Oke deh, kalau gitu aku anggap memuji saja." Fiha tersenyum sipuh.


Mereka sudah sampai, ke kampus Universitas Bersinar. Semua mata memandang Fiha, yang bagaikan bidadari turun dari langit.


"Kenapa semua mata memandangku?" tanya Fiha.


"Jangan dihiraukan, jangan pula membalasnya." jawab Hasbi.

__ADS_1


"Hasbi, kenapa kamu menyetujui permintaan Ibu?" tanya Fiha.


"Karena aku memang mau menikahimu." jawab Hasbi.


"Tapi, aku gak mau nikah tanpa cinta." ucap Fiha.


"Menikah gak harus cinta, tapi bisa membangun cinta di dalamnya." jawab Hasbi.


”Kalau aku tolak, aku belum tentu punya kesempatan ini. Lebih baik aku terima saja, sambil membuat Hasbi jatuh cinta.” batin Fiha bahagia.


Aqila dan Ali menghampiri Hasbi, mereka ingin mengajak Hasbi bicara. Hasbi mengajak Fiha, untuk ikut juga.


"Hasbi, kita akan bicara urusan Fisbi Boutique. Harusnya, kamu tidak membawa orang lain. Karena meski berteman, soal bisnis cukup kita saja." ujar Aqila.


"Siapa yang kamu maksud orang lain, Fiha juga akan ikut bergabung ke konveksi kita." jawab Hasbi.


"Tapi, perannya 'kan sama seperti yang lain sebagai reseller." ucap Aqila.


"Kamu kok cepat banget, percaya sama dia. Bukankah kamu juga baru bertemu kembali." ujar Aqila.


"Aqila, kamu kenapa tiba-tiba seperti ini." Habsi merasa heran.


Fiha dan Aqila saling bertatapan, mata mereka beradu tanpa ekspresi. Keduanya sama-sama ingin, mendapatkan hati Hasbi.


”Sepertinya, dia dekat banget sama Hasbi. Aku akan mencari tahu siapa dia. Lihatlah, dia hari ini berubah penampilan. Aku tidak tahu ntah itu dari hati, atau karena suka sama Hasbi.” batin Aqila.


”Sepertinya, dia gak suka aku dekat Hasbi. Dia ingin, aku menjauh dari Hasbi. Kelihatan banget, dari sifatnya itu.” batin Fiha.


"Kamu kenal dengan Fiha berapa lama?" tanya Aqila.


"Aku kenal dengan Fiha sejak kecil, sekitar lima belas tahun lalu." jawab Hasbi.

__ADS_1


"Oh gitu, pantas akrab." Aqila tersenyum paksa.


Mereka pergi ke kantin sebentar, karena pelajaran belum dimulai. Hasbi memesan makanan seperti biasa, mentraktir teman-temannya dengan rezeki yang diperolehnya. Karena Hasbi tahu, sebagian hartanya ada milik orang lain. Hasbi berencana untuk memberitahu teman-temannya, tentang rencana pernikahannya dengan Fiha.


"Aqila, Ali, kalau aku menikah kalian datang iya." ucap Hasbi.


Aqila yang sedang minum, langsung tersedak sampai kerongkongan. "Aku gak salah dengar?"


"Gak Aqila, ini benar adanya. Kamu harus datang, apalagi partner bisnis. Kamu juga teman aku, sekaligus anggota BEM." ucap Hasbi.


"Iya." jawab Aqila singkat.


Wajah Aqila murung seketika, ingin rasanya dia menangis. Tapi dia tidak mau ada yang tahu, bila dia mencintai Hasbi.


"Siapa calonnya Hasbi? Selama ini aku gak pernah lihat, kamu jalan dengan perempuan." ujar Ali.


"Dia adalah, orang yang ada di sebelah Aqila." Hasbi melihat ke arah Fiha.


"Teman-teman, kayaknya aku harus ke kelas duluan. Tadi aku lupa, kalau teman aku menunggu." ujar Aqila.


"Teman kamu yang mana Aqila, biasanya juga sering bersama Hasbi dan aku." jawab Ali.


"Ada, cuma kamu gak kenal." Aqila segera beranjak dari duduknya.


"Aqila tunggu sebentar, makanannya sudah dipesan." jawab Hasbi.


"Gak apa-apa, titip aja untuk dibungkus. Nanti aku ke sini lagi, untuk mengambilnya pada pelayan." ucap Aqila.


"Iya Aqila, tenang aja. Bagian kamu aman kok." canda Ali.


Aqila segera masuk ke dalam toilet, meneteskan air matanya yang dari tadi tertahan. Rasanya jantung Aqila ingin copot, saat mendengar kabar tersebut. Sakit tak terkira, tanpa bisa menjelaskannya.

__ADS_1


__ADS_2