Tafakur Cinta Mualaf

Tafakur Cinta Mualaf
Bonchap 3


__ADS_3

Lagi-lagi aku menemukan hal aneh, yang alasannya tetap kamu. Tidak masuk akal, namun bersikeras untuk teguh. Tidak tahu lagi logika harus menasehati hati. Ntah sudah berapa kali, atau bahkan ribuan hari. Dia tetap memilih tunggal, tanpa ingin menambah jumlah.


Sebenarnya tidak gitu konsepnya, mungkin tidak sama rata saja. Tidak tahu yang mana aku rasa, sebenarnya aku menyesal atau sekadar bersedih. Menguntai banyak dialog, hanya untuk mengutarakan suara hati. Aku menulisnya dengan menangis, di dalam kepedihan yang tertancap.


Aku dapat menerima kita telah usai, sebelum ada hubungan asmara. Namun yang paling menyakitkan, nama ini yang dipertaruhkan. Sakit rasanya disalahpahami, sakit rasanya dipermalukan, sakit rasanya diolok-olok. Bagaikan terjatuh, lalu tertimpa bangunan raksasa. Hanya air mata yang mampu menjelaskan, saat aku telah kehabisan kata.


Aku sebenarnya lelah, ketika melangkah jauh. Sudah susah payah, namun ada yang mengungkitnya kembali. Itu menyakitkan, seperti mimpi buruk yang ingin dianggap tiada. Mengapa aku terjebak rasa, yang tidak karuan seperti ini. Menghubungi kamu saja sudah tidak bisa lagi, namun tidak juga dapat dikatakan mustahil suatu hari.

__ADS_1


Aku benar-benar manusia malang, yang tidak didengarkan oleh siapapun. Sudahlah terima saja, bahwa aku bukan orang penting. Aku mungkin hanyalah mutiara bernoda. Aku hanyalah manusia biasa, yang diberikan daya ingat. Semuanya hanyalah tentang rasa sakit, tanpa ada ukiran indah.


Aku tatap air sungai mengalir, deras, tanpa jeda. Jelas saja terlihat lancar, karena atas kehendak-Nya. Alur cerita yang menimpaku, tidak lebih karena ketetapan-Nya. Aku hanya ingin pergi, lari dari lingkungan sekitar. Aku ingin membuka lembaran baru, dan membuang kenyataan yang sekarang.


Dulu mungkin aku ingin berjumpa denganmu, namun sekarang rasanya sudah tiada lagi. Bahkan menyebutkan namamu dalam doa, sudah terasa enggan sekali. Kamu sudah mulai asing di dalam hati, dan itu sungguh jauh baik sekali. Aku harus menyadarkan hati, dengan nasehat logika.


Jujur sekali, aku tidak bisa menerima cinta dalam hidupku. Sekarang aku benar-benar ingin sendiri. Mengumpulkan bongkahan koin, hanya untuk menumpuk materi. Biarkan saja seperti ini, karena realita memang membutuhkan pertahanan. Saat sakit dia menjadi perantara, untuk membawa aku ke dokter.

__ADS_1


Cinta? Hahah... itu bukanlah hal penting sekarang. Aku tidak membutuhkannya, aku sangat tidak butuh. Aku hanya ingin sendiri, ditemani batinku yang utuh. Sungguh mengerikan jatuh cinta, ternyata lebih takut daripada ketinggian. Jika patah bisa berkeping-keping, membuat hati berantakan.


Dalam hidup ini Tuhan adalah skenarionya, alur cerita ditentukan sebagai takdir. Bahkan tidak ada satu manusia di bumi pun, yang mempu merubah rancangan di Lauhul Mahfudz. Jadi percuma saja, mau diperjuangkan setinggi apapun. Begitu pula sebaliknya, mau dihindari dan dijauhi pasti bertemu. Iya seperti itulah, cara kerja Tuhan.


Mari kita ikuti saja, sampai di mana Tuhan menghentikan. Aku juga tidak kesepian dalam masa lajang ini. Aku sudah cukup bahagia, bahkan merasa berharga. Hanya dengan cara aku setia pada ayat suci-Mu, itu adalah bukti cinta yang paling sungguhan. Perihal rasa pada manusia, memang sebaiknya tidak perlu. Aku tidak ingin ambil pusing, dengan perkara dunia tiada guna.


Cinta bisa hilang seiring berjalannya waktu, namun ingatan tentang luka akan ada. Oleh sebab itu, aku tidak pernah ingin pacaran. Kita tidak menjalin hubungan saja, bisa semenyakitkan ini. Apa lagi, bila terjalin sebuah ikatan. Aku tidak akan pernah tahu, memori trauma ini bisa hilang atau tidak.

__ADS_1


Aku sudah berusaha, sejauh ini sudah sangat terbiasa. Namun, lidah ini bangkrut untuk berkata-kata. Sekelebat kenangan buruk selalu menari-nari, di dalam daya ingat ku yang kuat.


__ADS_2