
Pulang dari kampus, Hasbi kembali ke rumah. Fiha bertingkah manja pada Hasbi, sebagai kenangan terakhir kali pikirnya.
"Sayang, hari ini aku ingin menghabiskan waktu bersama kamu." ucap Fiha.
"Iya sayang, aku akan menuruti keinginanmu." jawab Hasbi.
Fiha memandangnya sambil tersenyum, lalu mereka segera masuk ke dalam ruang makan. Hasbi merasa ada yang janggal, dengan perilaku Fiha yang mendadak berubah. Namun, dia mencoba berpikir positif saja.
"Suapi aku sayang." Fiha memegang tangan Hasbi, takut kalau dia tidak bisa melakukannya.
"Kamu tidak perlu menangis gitu, aku pasti bakalan melayani istriku." Hasbi menyendok makanan, dan Fiha mengunyahnya.
”Hasbi, bagaimana mungkin aku tidak menangis. Kita baru saja bertemu, lalu bisa saja kita akan berpisah selamanya.” batin Fiha menangis.
Filda sengaja menarik tali ketapel, yang ada di tangannya. Batu kerikil itu mengenai kepala Qalam, hingga sang empu meringis kesakitan. Lalu Filda segera bersembunyi, di balik pohon besar. Qalam menghampiri Halifah, yang sedang berdiri di depan gerbang.
"Filda sudah pulang Pak?" tanya Halifah.
"Sudah dari tadi dia keluar kelas." jawab Qalam.
Qalam meneruskan ucapannya. "Ibu melihat anak kecil yang melempar kerikil tidak?"
"Tidak, dari tadi hanya aku di sini." ucap Halifah.
"Oh baiklah, saya permisi dulu." jawab Qalam.
Qalam segera melangkahkan kakinya, menjauh dari Halifah. Namun seketika membalikkan badan, dan melihat kertas putih menempel pada punggungnya. Qalam segera berjalan menghampiri Halifah, dan mengatakan apa yang dia lihat. Filda menahan tawa, tatkala Halifah mengambil kertas tersebut.
"Aku yang melempar batu kerikil padamu, karena aku ingin kamu mendekatiku. Aku ingin kamu melamar aku, lalu kita menikah dan hidup bahagia."
Halifah membacanya dengan rasa kesal, baru menyadari bahwa itu tulisan Filda. Lihat saja anak itu, pasti akan menerima hukuman batin Filda.
"Ini bukan aku yang menulis." ujar Halifah.
__ADS_1
"Iya, aku tahu. Mungkin, hanya anak kecil yang usil." jawab Qalam.
"Iya benar, tidak tahu yang usil bersembunyi dimana." ucap Halifah, dengan canggung.
"Saya pulang dulu, permisi." Qalam berpamitan untuk pergi.
Dia melangkahkan kakinya menuju les komunitas Islam. Di sana dia akan mengajari anak-anak, untuk memperdalam ilmu agama.
"Pak, apa yang dimaksud Mad arid lissukun dan mad wajib musttashil?" tanya Filda.
"Mad arid lissukun adalah apabila ada huruf mad bertemu dengan salah satu huruf hijaiyah di akhir kalimat. Maka cara membacanya harus dimatikan dulu baru dipanjangkan. Sedangkan Mad Wajib Muttashil adalah apabila ada huruf mad bertemu dengan hamzah pada satu kata, maka cara membacanya harus panjang lima harokat." jawab Qalam, panjang dan lebar.
Qalam meneruskan ucapannya. "Apa semuanya sudah mengerti?"
"Sudah Pak." jawab semuanya.
Keesokan harinya, Fiha sudah kembali ke kampus. Sesekali matanya memandang, semua perempuan yang berseliweran. Wajah mereka terlihat segar bugar, tidak seperti dirinya yang sakit-sakitan. Fiha benar-benar tidak berseri, terlihat kusut bagaikan nenek-nenek.
"Fiha, kenapa kamu memandang semua perempuan?" tanya Ali.
"Boleh si, cuma heran aja gitu." ujar Ali.
"Kalau aku meneteskan air liur, karena terbius oleh pesona pria baru kamu heran." jawab Fiha.
"Kenapa kemarin kamu tidak masuk kuliah?" Ali mengalihkan pembicaraan.
"Karena aku sakit, apa Hasbi tidak memberi surat." jawab Fiha.
"Dia sudah memberi si suratnya, cuma aku penasaran kamu sakit apa?" tanya Ali.
"Aku sakit." jawab Fiha.
"Sakit apa?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Hanya demam biasa kok." jawab Fiha.
Aqila kebetulan lewat, dia melangkahkan kaki menghampiri Fiha. Dia melemparkan senyuman untuk temannya tersebut.
"Fiha, kamu sudah masuk kampus?" tanya Aqila.
"Iya sudah." tersenyum paksa.
”Apa maksud pertanyaan kamu, apa mengharapkan aku tidak masuk kampus lagi. Kamu berharap 'kan, bisa dekat sama suamiku.” batin Fiha, cemburu lagi.
"Hai Fiha, kenapa kamu diam saja?" tanya Ali.
"Aku sedikit memikirkan sesuatu." Fiha memegang batang hidungnya sendiri.
"Jangan terlalu dipikirkan, nanti kamu cepat tua." ucap Ali.
"Iya, tapi tidak semua hal bisa seperti angin lalu." jawab Fiha.
"Fiha, kamu mau belajar mengaji lagi tidak?" tawar Aqila.
"Boleh banget tuh, sekalian ada yang mau aku bicarakan." jawab Fiha.
Mereka melangkahkan kaki masing-masing, menuju ke tempat wudhu. Setelah itu mencari tempat duduk dan Aqila membuka kitab Al-Qur'an.
"Sayang, kamu ngapain di sini?" tanya Hasbi.
"Aku mau belajar mengaji sama Aqila." jawab Fiha.
"Kamu belajar yang benar iya, karena Ibu adalah madrasah pertama untuk anak kita." Hasbi mengelus perut Fiha.
"Iya sayang, Insyaa Allah." jawab Fiha.
Aqila mulai mengajari Fiha dengan telaten, kelihatannya Fiha sudah lancar dari yang sebelumnya.
__ADS_1
”Pasti Hasbi membimbingnya terus.” batin Aqila.