Tafakur Cinta Mualaf

Tafakur Cinta Mualaf
Gagal Lagi


__ADS_3

Fiha menunggu sendirian, namun Ali tidak datang juga. Dia masih tetap sabar, meski merasa jenuh.


"Katanya sudah mau pergi, tapi kok gak kelihatan juga." monolog Fiha.


Filda dan Halifah masuk ke dalam kedai, lalu memesan makanan dan minuman. Filda melambaikan tangannya pada Fiha, karena mengenalnya dengan sangat jelas.


"Kak, ayo duduk sini." ajak Filda.


"Iya Dik." jawab Fiha.


Fiha melangkahkan kakinya, duduk didekat Filda. Anak kecil itu bersiap untuk melemparkan pertanyaan, pada gadis di depannya.


"Kakak ingin ketemuan sama Kak Hasbi iya?" tanya Filda.


"Heheh... gak kok. Tiap hari juga sudah bertemu." jawab Fiha.


"Tapi, di luar sudah beda suasana." ucap Filda.


"Apa bedanya, perasaan sama saja." jawab Fiha.


"Bedanya bisa berduaan, tidak ada yang mengganggu." canda Filda.


"Anak kecil dilarang sibuk." Halifah memperingatinya.


Pesanan mereka sudah sampai, lalu Fiha mengirimkan pesan pada Ali. Dia sengaja menyuruh pria itu jangan datang, karena ada Filda dan Halifah.


Fiha meneguk air putih, yang telah dituangnya. "Dik, aku pulang dulu iya." ujar Fiha.


"Iya Kak, hati-hati di jalan." jawab Filda.


Filda juga berpamitan pada Halifah, lalu melangkahkan kakinya keluar kedai. Jalannya tidak terburu-buru, sedikit lamban juga.


Hari yang direncanakan, malah gagal di tengah jalan. Namun mau apalagi, semua hanya bisa berusaha. Perihal menentukan berhasil tidaknya, bukanlah tugas manusia.


”Padahal, tadi niatnya mau minta temani Ali ke rumah sakit An-Nur. Hmmm... malah ada kendala tidak terduga. Ditambah lagi, rumah sakit tersebut menyediakan donor jantung. Itupun tersisa satu lagi, kata postingan pengguna sosial media tadi.” batin Fiha.

__ADS_1


Pada sore harinya, Fiha sudah kembali ke rumah. Dia melihat ruangan masih sepi, pertanda Hasbi dan Nimah belum pulang.


"Lebih baik aku masak saja, sesudah salat ashar." monolog Fiha.


Fiha melangkahkan kakinya ke dapur, setelah usai melaksanakan salat. Dia menunggu sampai Hasbi dan Yunah pulang.


"Assalamualaikum." ujar Hasbi dan Yunah, secara bersamaan.


"Wa'alaikumussalam." jawab Fiha.


"Fiha, aku sudah kembali." ujar Hasbi.


"Kita makan bersama saja sekarang." jawab Fiha.


"Kamu masak untuk kami?" tanya Yunah.


"Iya Bu, kita 'kan satu keluarga." Fiha memeluk ibu mertuanya.


Yunah membalas pelukannya. "Kamu gak berniat ganti mertua 'kan."


"Insyaa Allah tidak Bu, kenapa harus cemburu gitu." jawab Fiha.


"Sayang, kalau usia kandungan kamu sudah bertambah, kita lakukan USG yuk." ajak Hasbi.


Fiha mulai cemas. "Jangan sayang, nanti uangmu habis. Biaya rumah sakit terlalu mahal, lebih baik ditabung saja."


"Kenapa harus perhitungan sekali, kamu itu istriku." ujar Hasbi.


"Bukan perhitungan sayang, sedikit hemat untuk biaya persalinan apa salahnya." jawab Fiha.


Keesokan harinya pukul 13.00 di kampus Cahaya Berseri. Fiha bersandar pada tembok, lalu berjalan gontai duduk di teras.


"Eh, aku pukul kamu kalau lesu terus. Setidaknya, kamu harus memiliki semangat empat puluh lima." ujar Ali.


"Sudah hidup segan mati tak mau, masih juga mau kamu gebukin. Kamu gak punya hati iya?" jawab Fiha.

__ADS_1


"Aku hanya mencoba membuatmu lebih semangat." ucap Ali.


"Banyak cara lain kok, salah satunya dengan olahraga bersama." jawab Fiha.


"Jangan, nanti Hasbi cemburu sama aku. Padahal, aku cuma suka sama Aqila." ujar Ali.


"Iya Ali, aku cuma canda doang." jawab Fiha.


Hasbi tiba-tiba muncul, lalu Fiha segera memeluknya. Dia tidak ingin, laki-laki tersebut salah paham.


"Sayangku sudah selesai belajarnya?" tanya Fiha.


"Sudah sayang, mojok berduaan yuk." canda Hasbi, sambil mengedipkan mata.


"Dosa sayang, nikahin dulu." Fiha tersenyum mengembang.


Hasbi menyentil dahinya. "Mau dinikahi dua kali iya."


Ali menepuk pundak Hasbi. "Bro, aku cuma berteman sama Fiha. Sampai kapanpun kamu itu saudaraku, jangan salah paham padaku. Aku minta maaf, karena telah diam-diam bertemu dengannya."


Hasbi tersenyum. "Iya Ali, aku percaya kok. Aku juga minta maaf, yang telah menaruh rasa was-was."


Pada sore harinya, Aqila sudah pulang dari kampus. Dia berhenti sejenak, pada peternakan ayam.


"Kasian sekali ayam sudah capek-capek bertelur, malah telurnya digoreng dalam kuali." monolog Aqila.


Aqila melihat anak kecil, yang mengganggu ayam mau bertelur. Dia hendak melarangnya, agar ayam itu tidak terganggu.


"Eh anak kecil, kenapa ayam jagonya kamu ambil?" tanya Aqila.


"Biar induk ayamnya nyariin, 'kan seru kalau dia bingung." jawab Nion.


"Jangan gitulah kasian, dia juga makhluk hidup punya nyawa." ujar Aqila.


"Dia punya nyawa, tapi tidak punya perasaan kok Kak." jawab Nion.

__ADS_1


"Kata siapa tidak punya perasaan, dia juga bisa ngerasa sakit kalau terluka. Cuma bedanya dia gak bisa ngomong." ujar Aqila.


"Iya deh, aku gak mengganggunya." Nion segera berlari.


__ADS_2