Tafakur Cinta Mualaf

Tafakur Cinta Mualaf
Merasa Janggal


__ADS_3

Ada perlombaan yang telah selesai dilaksanakan, Hasbi mewakili seluruh mahasiswa dan mahasiswi. Dia mengambil piala, yang ada di meja depan lapangan.


"Selamat iya Hasbi, karena kali ini kelas Agama Islam menang lagi." ujar rektor kampus.


"Iya Pak, terima kasih." jawab Hasbi.


Fiha menahan rasa sakitnya, dan hampir saja terjatuh. Beruntung Ali segera membantunya, yang sedang tidak sanggup berolahraga. Hasbi dan Aqila melihat dari kejauhan.


”Apa jangan-jangan, Ali juga suka sama Fiha.” batin Aqila.


Fiha dan Ali ke perpustakaan bersama, dan Habsi mengikuti diam-diam. Tidak ingin menuduh selingkuh, karena belum mempunyai bukti. Namun kedekatan mereka, memang membuat Hasbi merasa janggal. Hasbi merasa, ada apa-apa di antara keduanya.


"Ayo, kita pergi ke kantin." ajak Ali.


"Pergi terus, baru juga masuk perpustakaan." jawab Fiha.


"Tentu saja, karena aku ingin makan bersamamu." ujar Ali.


"Iya si, menghabiskan waktu bersama teman sebelum berakhir." jawab Fiha.


Mereka melangkahkan kaki, keluar dari perpustakaan. Hasbi masih mengikuti mereka, lalu bersembunyi di antara kumpulan banyak manusia.


"Aku kok merasa ada yang mengikuti." ungkap Fiha.


"Siapa memangnya, dari tadi hanya ada kita berdua." Ali celingak-celinguk.


"Iya, memang cuma kita berdua. Namun, bisa saja orang lain diam-diam mengikuti. Memangnya, kamu tidak merasa janggal." ujar Fiha.


"Gak tuh, aku malahan asyik sendiri." jawab Ali.


Mereka duduk di kantin, dan Aqila sedang membeli air minum. Aqila berjalan menghampiri mereka, dan segera duduk tanpa menunggu dipersilakan.


"Ada apa Aqila?" tanya Ali.

__ADS_1


"Memangnya gak boleh gabung." jawab Aqila.


"Gak dilarang si, tapi aku ingin berdua dengan Fiha saja. Ada yang ingin aku bicarakan." ucap Ali.


"Nanti aja bicaranya, aku juga baru duduk." jawab Aqila.


Ali mendelik. "Cepat de, pergi dari sini. Kamu tuh mengganggu aja, benar-benar harus bicara sekarang."


"Baiklah, aku akan pergi." Aqila beranjak dari duduknya.


Setelah Aqila pergi, Fiha merasa bersalah. Sikap Ali tadi terlihat kasar, meski tidak membentak.


"Ali, kenapa kamu bersikap seperti tadi. Bagaimana, bila Aqila tersinggung." ujar Fiha.


"Biarkan saja, aku memang mau berbicara empat mata denganmu." jawab Ali.


"Kamu mau bicara apa?" tanya Fiha.


"Aku telah mendapatkan informasi, mengenai orang yang mau mendonorkan ginjalnya untukmu." jawab Ali.


"Iya, nanti sore kita bisa pergi bersama." jawab Ali.


"Oh oke, kamu telepon saja iya." ucap Fiha.


"Iya Fiha, sekalian kamu check up kandungan." jawab Ali.


Pulang dari kampus, Fiha bersiap-siap untuk pergi. Hasbi melihat istrinya yang begitu rapi, padahal mereka tidak ada janji.


"Fiha sayang, kamu mau kemana?" tanya Hasbi.


"Aku mau pergi sayang." jawab Fiha.


"Kemana tujuannya?" tanya Hasbi.

__ADS_1


"Kamu gak perlu tahu, ini urusan pribadi." jawab Fiha.


"Aku ini suami kamu." ujar Hasbi.


"Sudah iya sayang, jangan memperlambat waktu." Fiha mencium pipi Hasbi.


Fiha segera melangkahkan kakinya keluar rumah, setelah mencium punggung telapak tangan suaminya. Fiha segera naik taksi, menuju ke rumah sakit. Fiha tidak menyadari, bahwa Hasbi mengikutinya.


"Fiha, akhirnya kamu sudah datang juga." ujar Ali.


"Iya dong, aku 'kan harus bertemu sama orangnya." jawab Fiha.


Mereka terlihat akrab ketika mengobrol, dan Hasbi benar-benar merasa cemburu. Ali dan Fiha berjalan pelan-pelan, namun langkah kaki keduanya terhenti.


"Kamu merasa ada yang mengikuti kita gak?" tanya Ali berbisik.


"Iya, maka dari itu aku berhenti. Kita harus hati-hati, gak boleh ada yang tahu." jawab Fiha, dengan berbisik.


Mereka berdua segera berlari dengan kompak, masuk ke sebuah ruangan. Hasbi segera keluar dari persembunyiannya, mengikuti jejak mereka yang sudah berlalu. Hasbi mengacak rambutnya, karena kehilangan sosok dua orang tersebut. Fiha mengintip dari jendela kaca, dia merasa sedih melihat Hasbi mengikutinya.


"Kamu kenapa Fiha?" tanya Ali.


"Dia sudah mulai curiga, pasti karena hatinya merasa ada yang aneh." jawab Fiha.


"Sudah, sudah, kamu yang tenang. Lagipula, dia belum tahu kalau kamu sakit." ucap Ali.


Fiha meneteskan air matanya. "Tapi, aku takut Ali. Aku takut dia tahu, sebelum aku sempat dioperasi."


"Aku akan membantu menjaga rahasia ini Fiha. Hasbi itu sahabat aku, jadi tidak mungkin aku senang melihat dia terluka." jawab Ali.


"Terima kasih iya Ali, kamu sudah banyak bantuin aku." ujar Fiha.


"Jangan sungkan, ini sudah seharusnya. Bukankah, aku yang bersedia sejak awal." jawab Ali.

__ADS_1


Hasbi kembali ke rumahnya, setelah berputar-putar di lokasi rumah sakit. Karena percuma juga, yang didapat hanya lelah. Hasbi tetap tidak menemukan Ali dan Fiha.


”Kamu tega Fiha, urusan pribadi namun berbagi dengan pria lain. Kamu menyembunyikan dari suamimu, dan lebih percaya pada teman.” batin Hasbi, merasa kecewa.


__ADS_2