Tafakur Cinta Mualaf

Tafakur Cinta Mualaf
Kegelisahan Hasbi


__ADS_3

Fiha kian hari kian bertambah parah, belum juga sadar dari keadaan komanya. Seperti biasanya, Yunah membawa rantang makanan.


"Hasbi, kamu istirahatlah di rumah. Biar Ibu yang giliran menunggu Fiha, kamu pasti sekarang lelah." ujar Yunah.


"Iya Bu." jawab Hasbi.


”Kasian Hasbi, dia sudah izin lama tidak masuk kuliah.” batin Yunah.


Aqila duduk di bawah pohon, mengedarkan pandangannya ke arah keliling. Dia masih memikirkan Fiha, yang terbaring di rumah sakit.


"Hasbi sudah lama tidak masuk ke kampus. Hah, kenapa aku jadi memikirkan mereka. Secara bersamaan rasa sayang untuk Hasbi ada, dan rasa peduli untuk Fiha ada. Aku bingung dengan hatiku, kenapa masih sayang sama Hasbi." Aqila bergumam-gumam sendiri.


Dengan santainya, Ali duduk di sebelah Aqila secara dadakan. Hal tersebut membuatnya terkejut, karena tidak ada suara sedikitpun.


"Kamu ini bisa gak si, jangan kayak setan yang datang tak diundang. Mengejutkan orang saja, tidak memanggil nama atau mengucapkan salam." ujar Aqila.


"Maaf, aku tidak mau mengganggu lamunan kamu." jawab Ali.


"Memangnya kamu tahu, kalau aku sedang melamun?" tanya Aqila lagi.


"Iya tahulah, wajah kusut mu memberitahuku. Jangan terlalu dipikirkan, lelang orang tubuh yang gagal kemarin." jawab Ali.


"Bagaimana tidak dipikirkan, itu selalu mengganggu kepalaku." ujar Aqila.


"Iya dibuang saja, jangan dipikirkan dengan serius." jawab Ali.

__ADS_1


Keesokan harinya, Hasbi masuk kampus. Dia tidak terlalu murung, namun juga tidak terlalu bersemangat. Wajahnya datar dan biasa-biasa saja, namun dalam hatinya menyimpan genangan air mata. Bagaimana mungkin, dia baru mengetahui sekarang ini.


"Hasbi, bagaimana keadaan Fiha?" tanya seorang perempuan, yang juga sekelas dengannya.


"Keadaan Fiha sekarang masih belum sadar." jawab Hasbi.


"Apa ada tanda-tanda, bahwa akan segera membaik?" tanyanya lagi.


"Aku juga tidak tahu, tidak terlihat sama sekali." jawab Hasbi.


"Semoga Fiha lekas sembuh iya." ucap mereka, secara bersamaan.


"Aamiin, terima kasih atas doanya." jawab Hasbi.


Pulang dari kampus Hasbi segera ke rumah sakit lagi. Ali dan Aqila pun ikut, untuk menjenguk Fiha yang terbaring lemah. Saat sampai di depan ambang pintu ruangan, mereka melihat Yunah yang menangis sejadi-jadinya. Dia terus menggenggam tangan Fiha, sambil menyesali apa yang telah terjadi.


Hasbi dan Aqila menghampirinya secara bersamaan. Mereka memeluk Yunah, kecuali Ali, yang berdiri di samping ranjang pasien.


"Ibu, gak boleh menyesali apa yang telah terjadi. Ibu tidak sepenuhnya salah dalam hal ini, karena ini hanya bentuk kekeliruan saja. Jadi hal wajar, bila Ibu melakukan hal tersebut. Aku tahu, Ibu sangat sayang sama Fiha." ujar Hasbi.


"Iya Hasbi, Ibu mau menenangkan diri dulu." jawab Yunah.


Yunah melangkahkan kaki, keluar dari ruangan tersebut. Dia sengaja mengambil air wudhu, lalu masuk ke dalam masjid. Dia sengaja untuk menyendiri, dan memilih mengaji. Aqila, Ali, dan Hasbi pergi ke kantin dekat rumah sakit.


"Akhirnya terisi juga nih perut. Aku sudah lapar banget." ujar Ali.

__ADS_1


"Kamu kenapa Ali, apa diamuk sama cacing." canda Hasbi.


"Iya, aku belum makan dari semalam." ucap Ali.


"Kenapa kamu gak makan, bukankah terbiasa memasak." jawab Hasbi.


Ali terdiam, dan berbicara dalam batinnya. ”Tidak mungkin, kalau aku bilang kecapekan. Nanti Hasbi tahu, kalau aku berusaha untuk membantu Fiha. Kemarin sore sampai malam, aku 'kan pergi sama Aqila.”


Sementara di sisi lain, terlihat Filda yang sibuk mengajak Qalam ke rumah orangtua Halifah. Dia ingin pak duda melamar sang mama, pada kakek dan neneknya. Orangtua Halifah sudah terlihat sangat tua, pantas disebut lanjut usia.


"Nenek, Kakek, ada yang mau melamar Mama." ujar Filda.


"Ayo, silahkan masuk." Orangtua Halifah menawarkan, dengan ramah.


Qalam masuk ke dalam, lalu tersenyum mengembang. Halifah tersenyum malu-malu, namun tetap juga ikut duduk. Filda mengedipkan mata menggoda mamanya.


"Pak, Bu, kedatangan aku ke sini ingin melamar Halifah." ujar Qalam.


"Keputusan ada di tangan Halifah, kami tidak bisa memberi jawaban apapun. Biar dia yang menentukan pilihannya sendiri. Kami tidak mau melakukan kesalahan yang sama, saat menjodohkan dia dengan seorang pria." jawab ibu Halifah.


"Bagaimana Halifah, apa kamu mau menjadi istriku?" tanya Qalam.


Halifah menganggukkan kepalanya, sambil tersenyum. "Aku mau."


"Alhamdulillah, aku bakalan punya Papa." Filda melompat-lompat gembira.

__ADS_1


Bagaimana Filda tidak gembira, sebentar lagi akan memiliki papa yang dia inginkan.


__ADS_2