
Pulang dari kerja, Fiha dan Hasbi segera ke rumah sakit. Seperti hari kemarin, mereka menjenguk Syansa.
"Umar, Aliya, kalian sudah ada di sini?" tanya Fiha.
"Iya Tante, kami menemani Syansa." jawab Umar.
"Kalian memang teman setia iya." Fiha berdecak kagum.
"Tidak Tante, masih ada neneknya Syansa juga di dalam sana." jawab Aliya.
Fiha dan Hasbi masuk ke dalam ruangan, dan Syansa tersenyum melihatnya. Mereka berdua duduk di sisi ranjang pasien.
"Kata Dokter, Syansa sudah boleh pulang." ujar Yunah.
"Alhamdulillah, aku jadi lebih lega." jawab Fiha.
"Apa Bunda mengkhawatirkan aku?" Syansa mulai bercanda.
"Kamu pikir ada, seorang Ibu yang bersantai ria. Kalau anak di rumah sakit, nasi di makan pun rasa sekam." jawab Fiha.
Keesokan harinya, Fiha dipanggil ke ruangan manajer Gus. Dia merasa deg-degan, karena sejak tadi Tris menakutinya.
”Apa benar pak Gus sedang marah-marah di dalam ruangan.” batin Fiha.
Tok! Tok!
Fiha memberanikan diri, untuk mengetuk pintu ruangannya. Meski dari tadi kaki bergemetar, untuk meneruskan langkah. Gus membalikkan kursi putarnya, seketika Fiha sudah duduk di hadapannya.
"Fiha, kau tahu kenapa aku memanggilmu?" tanya Gus.
"Aku tidak tahu Pak." jawab Fiha.
"Itu karena produk vampire level 20 yang ditiru. Padahal seingat ku, produk ini masih menjadi rahasia perusahaan." ungkap Gus.
"Maafkan aku Pak, aku tidak tahu sebabnya." jawab Fiha.
"Kamu dekat dengan pria yang masuk kafe kemarin?" tanya Gus.
__ADS_1
"Tidak juga, dia minta tolong memotret saja." jawab Fiha.
"Pria itu sepertinya punya maksud. Dia pasti terlibat sabotase produk baru ini." ujar Gus.
"Mungkin saja Pak. Untuk membuktikannya, harus dilakukan penyelidikan." jawab Fiha.
"Tidak perlu, kita rubah saja nama merek jajannya. Ini tugas kamu untuk memikirkannya." ujar Gus.
"Baiklah Pak." jawab Fiha.
Fiha keluar dari ruangan, dengan raut wajah yang sulit diartikan. Tris melihat ke arah Fiha, sambil menikmati cemilan keripik kentang.
"Ini aku bawakan rendang untukmu." ujar Tris.
"Ternyata kamu selalu mengingatku." jawab Fiha.
"Sebenarnya bukan dibuat khusus, namun karena masak kebanyakan. Orangtua lagi pergi, Adik pun juga pergi." ucap Tris.
"Oh pantas saja." jawab Fiha.
"Jadi tidak sabar, supaya cepat jam makan siang." ucap Fiha.
"Bila kau tak sabar, bahkan bisa dimakan sekarang." jawab Tris.
"Mana mungkin, aku sedang ada tugas dari manajer Gus." ujar Fiha.
"Makan saja dulu, jangan terlalu terburu-buru." jawab Tris.
Fiha bertepuk tangan sekali, hingga mengejutkan Tris. "Aku telah memikirkan, apa nama yang pas untuk produk kita. Dosa level 20, lalu tambahan makanan penutup dengan nama merek Taubat level 30."
"Wah ini lebih keren, daripada nama yang manajer Gus beri." jawab Tris.
Seperti biasanya, pukul 17.00 Fiha dan Hasbi pulang ke rumah. Fiha melihat Yunah yang sedang memegangi pundaknya. Fiha segera menghampiri Yunah, sambil menekan pelan pundak Yunah.
"Ibu kenapa, terlihat lelah sekali?" tanya Fiha.
"Iya, tadi baru saja menyelesaikan pesanan." jawab Yunah.
__ADS_1
"Ibu sudah waktunya untuk istirahat, kenapa tidak tambah karyawati baru saja." ujar Fiha.
"Ini sudah lebih dari cukup, dan karyawati sudah ada sepuluh orang." jawab Yunah.
"Besok, Fiha bakalan kasih hadiah buat Ibu." ucap Fiha.
"Jadi penasaran, menantu Ibu akan kasih apa." jawab Yunah.
"Sebenarnya tidak terlalu besar, namun bisa membuat tubuh Ibu santai." ujar Fiha.
"Menantuku sangat perhatian, aku jadi bahagia." jawab Yunah.
Fiha senang jika Yunah senang, karena dia adalah ibu kandung Hasbi. Orang yang telah banyak berjuang, untuk membesarkan suami yang dicintainya.
"Ibu sudah seperti orangtuaku sendiri, aku juga sudah kehilangan orangtua kandungku. Tinggal Ibu, Syansa dan Hasbi, yang sekarang paling dekat denganku." ungkap Fiha.
"Iya, Ibu juga menganggap mu seperti anak kandung sendiri." jawab Yunah.
"Terima kasih Ibu." ujar Fiha.
"Iya, cepat mandi sana. Hasbi sudah selesai membersihkan diri." Yunah menunjuk orang, yang menghampiri mereka.
Fiha mengangguk lalu melangkahkan kakinya ke kamar. Dia mengambil handuk, lalu masuk kamar mandi. Hasbi melihat Syansa yang baru saja pulang.
"Syansa, kamu kemana saja?" tanya Hasbi.
"Aku pergi olahraga bersama Kichi." jawab Syansa.
"Ayah lihat, sekarang kamu jarang bersama Aliya dan Umar." ujar Hasbi.
"Kami memang tidak begitu akrab." jawab Syansa.
"Loh, bukannya dari kecil kalian berteman?" tanya Hasbi penasaran.
"Iya, namun melakukan pengembangan diri juga bagus. Kita bisa merubah kebiasaan sehari-hari, dengan cara merubah pertemanan." jawab Syansa.
Syansa melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar. Dia mengambil handuk, dan bergantian dengan Fiha.
__ADS_1