Tafakur Cinta Mualaf

Tafakur Cinta Mualaf
Bajak Laut


__ADS_3

Malam hari tidak bisa tidur, Syansa memilih keluar ke emperan. Tanpa sengaja memergoki beberapa orang yang menyiram minyak tanah, bahkan api sudah membakar hingga merata.


"Tolong!" Syansa berteriak, supaya semua orang keluar dari rumah.


"Ada apa Syansa?" tanya Fiha.


"Itu, ada orang yang mau membakar rumah kita." Syansa menunjuk beberapa orang, yang membawa jerigen plastik berisi minyak tanah.


"Hei tunggu kalian!" Fiha berteriak.


"Jangan lari begitu saja." timpal Syansa.


"Kami tidak akan mau berhenti." Korek kayu menyala, lalu dilemparkan ke rumah.


Fiha dan Syansa buru-buru masuk ke dalam rumah, lalu mengambil air dengan terburu-buru. Fiha membangunkan Hasbi supaya membantu memadamkan api.


"Sayang, ada kebakaran! Cepat bangun, bantu kami menyiramnya." ujar Fiha.


"Iya Fiha, tunggu sebentar." Hasbi mengedipkan mata berulang kali, lalu melangkahkan kaki jalan.


"Aku duluan." Fiha lari dengan terburu-buru.


"Iya sayang, aku akan segera menyusul." Hasbi terpikir untuk membawa selang.

__ADS_1


Hasbi menyiram api dengan cepat, sehingga api cepat dipadamkan. Yunah ikut panik, melihat apa yang terjadi.


"Hasbi, ada apa?" tanya Yunah.


"Ada orang yang mencoba membakar rumah kita." jawab Hasbi.


"Ya Allah, sungguh tega orang tersebut." ujarnya.


"Kita akan laporkan ke polisi." jawab Hasbi.


Mereka berjalan ke dermaga, lalu masuk ke dalam ruangan. Kapal di atas air mulai bergerak, membawa para penumpang. Angin pagi itu lumayan kencang, seperti ributnya pikiran Fiha yang bertarung.


"Kamu membuat apa?' tanya Fiha, saat melihat Syansa membuka buku.


"Aku membuat buku harian." jawabnya.


"Hahah... lucu juga iya. Kalau begitu, Bunda menggunakan kedua cara bersamaan." Syansa tidak memberikan saran sungguhan.


Kapal yang dikendarai Syansa, tiba-tiba diserang oleh bajak laut. Mereka tidak segan-segan menembakkan peluru ke arah jendela kapal.


"Ayo, kalian serahkan semua uang dan benda" ujar ketua dari mereka.


"Kami tidak mau, karena itu bekal utama." jawab salah satu pria baya.

__ADS_1


Bugh!


Sebuah pukulan melayang ke arahnya, karena berani melakukan perlawanan. Tapi hal itu tidak menyurutkan keinginannya. Dia tetap mempertahankan harta benda yang dimiliki. Hasbi, Fiha, Syansa, dan Yunah diam saja.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Syansa.


"Membiarkan mereka merampas barang kita, bukan hal baik juga." jawab Fiha.


Hasbi diam-diam mengirimkan pesan pada polisi, lalu mengajak Yunah untuk bersembunyi. Hasbi takut terjadi sesuatu pada ibunya, karena sulit melakukan perlawanan.


"Nenek berdiam diri di sini, jangan keluar sebelum Hasbi datang." ujarnya.


"Iya Hasbi, kamu hati-hati." jawab Yunah.


Setengah jam kemudian, terlihat mobil polisi di atas kapal. Bajak laut melihat dari kejauhan, lalu memberikan serangan tembak. Seorang polisi menangkap laki-laki, yang merampok perempuan lanjut usia di kapal.


"Kamu ini tidak punya hati, melukai orang yang tak bersalah. Apa alasan kamu melakukannya."


"Karena aku pernah di-bully, makanya aku melampiaskannya dengan ini. Dulu sekolah di SMA Velvet angkatan 2021, aku sangat kesepian karena kerap kali disudutkan."


"Hah, kamu Nicko?" Pistol yang dipegangnya seketika jatuh, kaget dan tak berdaya.


"Kenapa kamu bisa tahu namaku?"

__ADS_1


Tiba-tiba memeluknya. "Maafkan aku, karena telah merubah mu menjadi seperti ini. Dulu, akulah ketua yang menyuruh temanku membully kamu." Meneteskan air mata, tidak menyangka perbuatannya membuat orang lain jadi penjahat masyarakat.


Nicko mendorongnya. "Kata maaf sudah terlambat, lebih baik tembus dosamu di masa lalu."


__ADS_2