Tafakur Cinta Mualaf

Tafakur Cinta Mualaf
Wisuda


__ADS_3

Pada siang harinya, Fiha membawa Syansa untuk imunisasi. Banyak sekali ibu-ibu, yang mendaftarkan diri di sana. Dua dokter membantu pelaksanaan kegiatan tersebut, agar berjalan lancar.


"Eh Syansa, jangan nangis iya. Gak sakit kok disuntiknya, paling cuma nyut-nyutan." rayu Fiha, sambil mengusap-usap lengannya.


Jarum suntik mulai mencoblos lengannya, dan Syansa menangis tersedu-sedu. Fiha berusaha menenangkannya, yang mulai meringis.


Oak! Oak! Oak!


Tetesan demi tetesan air mata, berjatuhan dari pelupuk matanya. Bayi itu tidak ingin disuntik, namun tidak bisa mengatakan apa yang dirasakan.


Fiha berusaha menenangkannya, lalu membawa Syansa pulang. Bayi itu dilindungi dengan payung, agar matahari tidak langsung menyentuh kulitnya.


Hari berganti hari, bulan berganti bulan, kini bayi Syansa sudah besar. Fiha dan Hasbi akan pergi ke kampus, mengikuti acara wisuda di tempat mereka menimba ilmu.


"Anak-anak Ibu, kalian sudah lulus mau ngapain?" tanya Yunah.


"Aku mau kerja di perusahaan Bu. Tapi, menunggu Syansa besar terlebih dulu." jawab Fiha.


"Kalau aku mengurus butik terlebih dulu. Karena itu sangat penting, untuk masa depan Syansa juga." timpal Hasbi.


Mereka pergi ke kampus, ditemani oleh Yunah. Hati mereka merasa sangat bahagia, akan mengenakan baju wisuda dan topi toga. Berencana akan mengabadikan momen, bersama dengan Yunah juga nenek dan kakek.


"Selamat iya Fiha." ujar Yunah.


"Iya Bu, terima kasih." jawab Fiha.


Fiha membenarkan topi toganya, yang hampir terbang terbawa angin. Temannya membidik kamera, untuk memfoto Fiha. Dia sudah memasang berbagai gaya, kadang dengan keluarganya. Ada juga dengan Hasbi, dan cukup dirinya sendiri saja.


Hasbi dan Fiha merayakan wisuda, dengan makan-makan bersama keluarga. Mereka berdua berharap, perjalanan ke depan lebih mudah. Impian mereka untuk sukses, sedang memenuhi otak masing-masing.

__ADS_1


"Fiha, Hasbi, cukup lama juga iya perjalanan kalian." ujar Yunah.


"Iya Bu." jawab Fiha.


Yunah meraih gagang pintu, saat sudah sampai ke rumah. Satu persatu manusia mulai masuk, membiarkan ruangan tamu dipenuhi wajah lelah. Broto dan Ulfa memegangi kedua pinggangnya, yang terasa pegal sejak tadi.


"Apa yang sakit Nek?" tanya Fiha.


"Orangtua seperti kami sudah terbiasa di rumah, makanya sekali jalan seperti digebuki manusia sekampung." ujar Ulfa.


"Kalau gitu, biar aku urut saja." tawar Fiha.


"Tidak perlu, nanti juga membaik sendiri." jawab Ulfa.


Hasbi membantu kakek Broto untuk duduk, karena kelihatannya dia sangat lelah. Hasbi dan Fiha segera berjalan perlahan, mengambilkan air putih untuk kakek dan nenek.


"Iya sayang." jawab Fiha.


Fiha melangkahkan kakinya, masuk ke dalam kamar mandi. Sudah waktunya, untuk Syansa mandi. Bayi mungil yang hampir menginjak balita tersebut, terlihat senang mendapati air segar yang mengenai tubuhnya.


Setelah Syansa kecil mandi, barulah giliran Fiha yang mandi. Ada Yunah yang menjaganya di dalam ayunan. Sementara Hasbi memasak, untuk makan malam. Pukul 20.00. Hasbi baru menyajikan makanan di atas meja.


"Sekarang, sudah waktunya untuk makan malam." ujar Fiha.


"Iya Fiha sayang." jawab Hasbi.


Hasbi mengambilkan makanan dan minuman untuk semuanya. Tinggal Hasbi yang paling terakhir, mengambilkan makanan untuk dirinya sendiri. Fiha melihat ada lalat yang terbang, lalu segera mengubahnya dengan tangan. Fiha dan Hasbi mengambil pengelap, hampir secara bersamaan.


Keesokan harinya, Hasbi kembali pergi ke butik. Begitupula dengan Yunah, yang akan membantu pekerjaan di sana. Fiha bertugas membereskan rumah, dan menjaga Syansa.

__ADS_1


"Rasanya, aku ingin sekali bekerja. Bosan, seperti ini terus menerus." monolog Fiha.


Tiba-tiba saja, ada suara ketukan pintu. Fiha membukanya, dan melihat Filda yang membawa selebaran kertas.


"Ini untuk Kak Fiha." ujar Filda.


"Apa ini?" Fiha bingung.


"Sudahlah, buka saja isi dalamnya. Nanti juga Kakak akan tahu, apa isi dari kertas tersebut." ucap Filda.


"Baiklah." jawab Fiha.


"Aku permisi dulu Kak, mau pergi ke sekolah. Assalamualaikum." ujar Filda.


"Wa'alaikumus'salam." jawab Fiha.


Fiha membuka kertas berwarna putih, yang biasa disebut amplop tersebut. Lalu, membaca semua kata yang tertera di sana. Ternyata itu dari Ali, yang menawarkan pekerjaan untuknya.


"Kalau aku terima, kira-kira Hasbi boleh gak iya. Masa si dia akan ngelarang, ini 'kan demi masa depan juga. Dalam cita-cita, pasti selalu ada pengorbanan." Fiha bergumam-gumam lirih.


Di dalam perjalanan, Filda bertemu dengan Yunah. Dia segera bersalaman tangan, dan juga mengucapkan salam.


"Assalamualaikum Bude, mau kemana nih?" tanya Filda.


"Bude mau membeli benang, karena mendadak habis. Begitu banyak pesanan, yang baru datang Filda." jawab Yunah.


"Semangat terus, semoga berkah." ucap Filda.


"Aamiin." jawab Yunah.

__ADS_1


__ADS_2