Tafakur Cinta Mualaf

Tafakur Cinta Mualaf
Mencari Aqila


__ADS_3

Ali, Hasbi dan Fiha merasa kecewa, karena sudah berharap ketemu Aqila. Bisa menanyakan hal ini dan itu, tapi orang yang diharapkan malah tiada.


"Yah, tidak ada siapapun juga." ujar Fiha.


"Kita cari di tempat lain lagi." jawab Hasbi.


"Iya sayang, kita harus terus berusaha." ucap Fiha.


"Kita memang harus berusaha, karena Aqila adalah teman bersama." jawab Hasbi.


"Jujur, aku masih penasaran sama orang baik yang mau mendonorkan jantungnya." sahut Ali.


"Iya sama, aku juga ingin tahu siapa orangnya. Tapi kalau orangnya sendiri ingin merahasiakan, aku bisa apa." jawab Fiha.


Mereka segera pergi dari masjid tersebut, dan pulang ke rumah. Yunah heran melihat mereka, yang sering pulang lewat dari jam biasanya.


"Kalian ada jam tambahan mata pelajaran?" tanya Yunah.


"Tidak Bu, kami pulang terlambat karena mencari Aqila." jawab Hasbi.


"Memangnya dia tidak masuk kuliah?" tanya Yunah.


"Tidak Bu, dia sudah lama menghilang. Rektor kampus pun bertanya-tanya, dimana dia sekarang. Di rumahnya sudah kami cari, namun tidak ada siapapun juga." jelas Hasbi, panjang dan lebar.


"Kalau dia pindah kuliah, pasti pamitan dulu sama kalian." ujar Yunah.


"Iya Bu, ini anehnya gak ada sama sekali." jawab Hasbi.


Hasbi dan Fiha segera ke kamar mandi, untuk membersihkan diri masing-masing. Setelah usai dengan hal tersebut, mereka melaksanakan salat ashar berjamaah. Berdoa bersama, merupakan hal yang sudah jadi kebiasaan keduanya.


"Ya Tuhan, kami mohon petunjuk agar segera menemukan Aqila. Kami ada rasa khawatir, karena takut terjadi apa-apa padanya. Permudahkan lah jalan kami, karena tidak ada sesuatu yang mudah tanpa kehendak mu." ujar Hasbi.


"Aamiin." jawab Fiha.

__ADS_1


Ali sedang meminum kopi, sambil duduk santai. Ali teringat ucapan Aqila, yang mengatakan bahwa saat itu pertemuan terakhir kali.


"Haduh, kenapa aku lupa mengatakannya pada Hasbi." Ali bergumam-gumam lirih.


Keesokan harinya, Fiha membantu persiapan pernikahan Qalam dan Halifah. Filda merasa senang, bisa satu keluarga dengan Fiha.


"Filda, kenapa Paman kamu baru menggelar pernikahan sekarang. Kakak dengar-dengar, sudah beberapa bulan lalu lamarannya?" tanya Fiha penasaran.


"Itu karena Kakak lagi koma. Kami ingin, Kakak ikut menyaksikan pernikahan mereka juga." jawab Filda, berterus terang.


"Masya Allah, ternyata kedatanganku diharapkan." Fiha merasa senang.


"Iya dong Kakak cantik." jawab Filda.


Fiha memotong daging ayam, dan Filda yang mencucinya. Mereka bekerjasama untuk memasak opor ayam.


"Filda, nanti kamu masukkan bumbunya ke dalam blender. Kakak mau merebus ayamnya dulu, soalnya ayam kampung tua keras." titah Fiha.


"Iya Kak, Paman Qalam dan Kak Hasbi sedang membuat kue." jawab Filda.


"Iya, iyalah, kita harus merayakannya. Kakak pasti senang, karena aku punya Papa baru." jawab Filda.


Yunah dan Halifah membersihkan piring yang kotor. Yunah yang mencucinya, dan Halifah yang mengelapinya. Kini pekerjaan mereka sudah selesai, karena bersama-sama menyelesaikannya.


Malam hari pukul 21.00, pernikahan Qalam dan Halifah telah usai dilaksanakan. Mereka duduk bersanding, dengan baju pengantin. Hasbi, Yunah, Fiha, dan Filda mendekat ke arah mereka.


"Selamat iya, kalian sudah menjadi pengantin baru." ujar Yunah.


"Terima kasih Kak." jawab Halifah.


"Selamat iya Bibi." ucap Fiha.


"Terima kasih ipar ponakan." jawab Halifah.

__ADS_1


Fiha dan Hasbi segera duduk di kursi, yang telah disediakan. Mereka makan nasi dan lauk pauk bersama. Sesekali, pandangan mereka fokus ke arah tamu.


"Ramai sekali iya kenalan Bibi Halifah." ucap Fiha.


"Iya dong sayang, 'kan Bibi Halifah seorang pebisnis. Berapa banyak kenalannya, mungkin tak dapat terhitung." jawab Hasbi.


"Tanpa terasa, anak kita yang menikah." ujar Fiha.


"Iya, waktu terus berjalan. Hal itu semua akan membuang waktu, dan semakin memperpendek usia kehidupan." jawab Hasbi.


Fiha menopang dagunya. "Dunia ini benar-benar tidak terasa, bila sedang bahagia. Namun seolah lama, bila sedang berduka. Bekal apa yang akan kubawa, bila seperti ini terus-menerus."


"Maka dari itu, kita harus memperbanyak ibadah sayang." jawab Hasbi.


Keesokan harinya, mereka pergi ke kampus. Fiha masih menyelidiki diam-diam, siapa orang yang telah mendonorkan jantung untuknya. Dia juga mencari Aqila, saat pulang dari kampus.


"Hari ini, kita tunggu sampai sedikit malam. Siapa tahu, dia pulang ke rumah." ujar Ali.


"Baiklah, aku sekalian tidur bersandar." jawab Fiha.


Nion memperhatikan Hasbi, Ali, dan Fiha yang berdiri di depan rumah Aqila. Dia segera menghampiri mereka.


"Kakak mencari Kak Aqila iya?" tanya Nion.


"Iya Dik, dia sudah lama tidak masuk kampus tanpa keterangan." jawab Hasbi.


"Sebelumnya dia pernah bilang padaku, bahwa itu pertemuan terakhir kali. Lalu setelahnya, kami tidak jumpa lagi." ujar Nion.


"Kok sama seperti aku. Dia juga bilang seperti itu padaku." jawab Ali.


"Kapan dia mengatakannya?" tanya Fiha, ingin tahu.


"Kalau tidak salah, sekitar pertengahan bulan Agustus." jawab Nion.

__ADS_1


”Berarti kurang lebih bersamaan denganku, yang sedang menjalankan operasi.” batin Fiha.


__ADS_2