
Hasbi sudah sampai ke rumah, dan melihat pintu terbuka. Tapi sayangnya, om Spanyol sudah pergi.
"Fiha, kamu dimana sayang." panggil Hasbi, dengan setengah berteriak.
"Aku di sini, masuklah ke dalam kamar." jawab Fiha.
Hasbi segera membuka pintu kamar, yang sudah tidak terkunci lagi. Dia benar-benar khawatir dengan istrinya. Fiha langsung memeluk Hasbi, dengan tangisan bahagia dan sedih. Dia bahagia karena dicintai oleh suaminya, namun di sisi lain sedih karena tidak bisa menemaninya lagi.
"Sayang, Om Spanyol itu tidak menyakiti kamu 'kan?" tanya Hasbi.
"Tidak sayang, kamu tenang aja. Aku tadi sudah memukul pundaknya, dengan vas bunga di ruang depan." jawab Fiha.
Keesokan harinya Ali memanggil Fiha, lalu berjalan mendekatinya. Fiha melihat raut wajah cemas Ali, karena temannya itu mengetahui sesuatu.
"Fiha, kamu jawab jujur. Sebenarnya pemeriksaan waktu itu, kamu tidak baik-baik aja 'kan?" tanya Ali.
"Kok kamu bisa tahu." jawab Fiha, dengan kaget.
"Aku waktu itu berobat ke rumah sakit itu, karena alergiku mendadak kambuh lagi. Lalu dokter yang memeriksa kamu waktu itu memanggilku, dan mengatakan semuanya terus terang." ujar Ali.
"Iya, dokter mengatakan aku mempunyai penyakit jantung stadium akhir. Tapi aku mohon, jangan beritahu Hasbi." Fiha hampir saja menangis.
"Tidak, aku mana tega melihatmu seperti ini. Aku akan memberitahu dia." Ali hendak pergi.
"Ali aku mohon jangan, karena memberitahu dia tidak merubah apapun. Biarkan dia menikmati hari bersamaku, tanpa memikirkan ada akhir yang cepat." pinta Fiha.
"Baiklah, karena kamu sahabatku maka aku akan menutupinya. Tapi berjanjilah, bahwa kamu tidak akan berdiam diri. Telepon aku, bila kamu butuh bantuan." ujar Ali.
__ADS_1
"Iya Ali, terima kasih karena kamu peduli terhadapku." jawab Fiha.
Saat jam pelajaran dimulai, tiba-tiba Fiha merasakan sakit. Dia tidak ingin dosen mengetahui, jadi memilih untuk izin keluar kelas. Dia berjalan sambil menahan rasa sakit, berniat untuk meminum obat sembunyi-sembunyi.
"Fiha tunggu!" panggil Ali, dengan berteriak.
Fiha menoleh ke belakang. "Kenapa kamu ikut ke sini, bukankah sedang belajar di dalam kelas."
"Aku tahu, kamu harus minum obat. Maka dari itu, aku akan membelikan makanan untukmu." ucap Ali.
"Baiklah, kalau gitu aku akan menunggumu datang." jawab Fiha.
"Tunggu aku di belakang kampus." ujar Ali.
"Iya, sekarang aku akan menuju ke sana." jawab Fiha.
Fiha melangkahkan kakinya, menuju ke belakang kampus. Lalu Ali segera berlari ke kantin, dan Aqila tidak sengaja melihat.
Tak berselang lama, Ali sudah keluar dari kantin. Dia membawa makanan ke belakang sekolah, dan diikuti oleh Aqila. Tanpa diduga Ali menyodorkan makanan pada Fiha, dan juga air minum putih.
"Wah, ternyata kau rakus juga Fiha." canda Ali.
"Aku terburu-buru minum obat." Fiha menarik sedikit sudut bibirnya.
Aqila heran melihat mereka yang celingak-celinguk, seolah takut diketahui oleh siapapun juga. Aqila masih tetap berdiri di sana, ingin memastikan apa Aqila dan Ali diam-diam punya hubungan.
”Kalau benar Fiha mengkhianati Hasbi, kasian sekali dia. Aku tahu, Hasbi cinta dengan Fiha.” batin Aqila.
__ADS_1
Setelah Ali membuka botol air minum, dia memberi tisu pada Fiha. Ali melihat bibirnya terkena sisa makanan.
"Ali, kamu tidak boleh beritahu Hasbi." ujar Fiha.
"Kalau aku memberitahunya, sekarang pun aku bisa berteriak." jawab Ali, sedikit ketus.
Aqila kembali ke kelasnya, karena tadi dia izin sebentar. Hasbi menghampiri Aqila, setelah dosen keluar dari kelas.
"Aqila, kenapa kamu terlihat cemas?" tanya Hasbi.
"Gak apa-apa kok." jawab Aqila.
”Maafin aku iya Hasbi, aku tidak mau mengatakan yang sebenarnya. Aku tidak ingin ikut campur, dalam urusan rumah tangga kalian. Hanya saja aku tidak sengaja, memergoki mereka berdua bertemu.” batin Aqila, bergumam-gumam.
Beberapa jam kemudian, pelajaran telah berakhir. Hasbi keluar dari kelasnya, menuju ke kelas Ekonomi. Dia melihat Fiha, yang sedang dibantu oleh Ali berjalan.
"Fiha, Ali, kalian kenapa sedekat ini?" tanya Hasbi.
Ali menggaruk kepalanya. "Dia tidak sengaja jatuh."
"Biar aku saja yang membantunya." Hasbi segera menggendong Fiha.
"Hati-hati di jalan." Ali masih bersuara, di belakang punggung Hasbi.
Fiha meminta untuk dilepaskan, dengan berbisik lirih. Hasbi tidak mempedulikannya, karena sudah tersulut rasa cemburu. Dia menurunkan Fiha, saat sudah sampai ke parkiran.
"Hasbi, kamu kenapa si bersikap seperti tadi." ujar Fiha.
__ADS_1
"Sayang, jangan membantah iya. Cepat naik ke atas motor." jawab Hasbi.
Fiha naik ke atas motor, lalu memeluk pinggang Hasbi. Setelah itu motor melaju dengan kekuatan sedang, menuju ke Fisbi Boutique. Fiha tersenyum, sambil bergelayut manja pada Hasbi.