Tafakur Cinta Mualaf

Tafakur Cinta Mualaf
Bonchap 1


__ADS_3

Yang paling tidak membuatku rela adalah, saat kamu kembali setelah aku berhasil. Aku tidak ingin kamu hadir, sebagai pengacau ruang hatiku. Sudah cukup ada aku yang terkurung, aku terjebak rasa tanpa bisa keluar lagi.


Bukan soal rasa cinta, namun soal rasa sakit. Iya cintanya sudah pergi, namun tinggal rasa sakitnya yang menari. Aku pernah berpikir, mengapa ada kisah serumit ini? Tentang siapa yang menjadi pendamping, itu bukanlah masalah yang sebenarnya. Namun tentang rasa malu, aku tentu sangat tertekan.


Kamu berhasil melekat dalam diriku, tanpa aku pinta. Semua terjadi begitu saja, tanpa bisa aku kendalikan. Ajaib sekali takdir, bahkan aku tidak bisa mengelak. Rongga kepalaku dipaksa memasukkan hal yang menusuk, ke dalam laci kenangan terdalam. Berantakan melebur, ke dalam dasar hati.


Apa kamu tahu? Apa kamu tahu? Aku tidak ingin menginjak kakiku, pada tempat di mana kita bertemu. Aku tidak ingin melihatnya selama empat tahun, karena begitu dalam logika ingin membuang mu. Betapa susah payahnya aku berjuang, untuk menghempaskan kamu dari daya ingat ku. Kamu tidak tahu, bahkan mungkin sekalipun tidak terlintas.

__ADS_1


Bukan soal dendam, bukan soal apa, tapi segala kenangan begitu pahit bagaikan empedu bercampur racun. Bila ditekuni diri tetap tinggal, aku akan terus merasakan tidak nyamannya. Namun bila aku ingin pergi, aku tidak dapat melawan takdir.


Takdir menginginkan aku di sini, terus saja hanyut bersama luka lama. Aku ingin pergi yang jauh, namun orangtua tidak mengizinkan. Aku tidak tahu harus bagaimana, sehingga selalu bilang tidak apa-apa.


Percuma aku menunjukkan betapa menyedihkan, itu tidak mengurangi beban juga. Lebih baik bibir tersenyum, meski rasanya sangat menyakitkan. Jangan tanya soal kesiapan, tentu aku sangat tidak siap. Namun situasi memaksa aku untuk menerima, hingga hati ini mati rasa. Jika ada pilihan aku ingin melempar kalimat, meluap-luap untuk melepaskan segala sesak.


Semua orang heran, siapa kamu? Siapa kamu, sehingga dapat mencuri hatiku. Perempuan yang pernah dikenal susah ditaklukkan, karena cueknya pada para pria. Kalimat itu seolah telah tenggelam, hanya menjadi sejarah zaman purbakala.

__ADS_1


Apa kamu sehebat itu? Apa kamu setinggi itu untukku, hingga harga diri ini direndahkan. Buah bibir gila cinta itu tenar kembali, membangkitkan setumpuk kenangan yang telah terkubur. Hei, apa kamu tahu? Apa kamu empati sedikit saja, aku tersiksa.


Ingin rasanya minta pertanggungjawaban, tapi tidak tahu harus pada siapa. Hanya ada rasa tidak terima, yang menyeruak di dalam sanubari. Namun hanya jiwa yang terkulai sendiri, sampai tidak ingin lama berdiri. Aku lemas, aku terkejut dengan cara manusia. Ini benar-benar di luar dugaan, aku tidak terbiasa, aku sungguh tidak terima.


Aku mungkin sudah terlupakan, jauh ke dalam rongga kepalamu. Aku juga mungkin sudah menghilang, dari posisi hatimu yang dangkal. Belum sampai berada pada dasar hati terdalam, namun waktu sudah duluan berakhir. Aku terlalu payah untuk mengambil hatimu, sehingga sampai detik ini aku tidak memiliki jabatan apapun. Aku sampai sekarang, hanyalah bergelar teman sekilas.


Jujur, aku sudah rela sekali. Bahkan, sudah bisa mencintai kehilangan. Namun satu hal yang paling melekat dalam ingatanku. Kita perang dingin berkali-kali, disebabkan oleh mereka. Langkah paling terbaik adalah, saling menghilangkan diri masing-masing. Aku dapat menganggapnya usai, ketika takdir bersedia memberiku lingkungan baru. Aku ingin sekali, menepis semua rasa sakit.

__ADS_1


Aku tidak ingin mengingat, bagaimana diri ini dipermalukan, dicemooh, bahkan dituduh. Aku ingin menenggelamkan kamu, selama-lamanya. Membiarkan kamu terkubur bersama karang laut, menghempaskan dengan buih-buih ombak. Tanpa ada pasir-pasir yang tertinggal, mengapung di sisi pantai. Aku tidak ingin apapun tentangmu tersisa.


__ADS_2