
Oak! Oak! Oak! Oak!
Syansa sudah terbangun dari tidurnya, hingga dia menangis meraung samar. Terus memanggil ibunya, tanpa ucapan kata.
"Syansa, Bunda kamu sedang keluar rumah. Dia sedang membayar ulahnya yang ceroboh, kenapa belanjaan harus dilemparkan ke lantai." Yunah mengusap lembut pipinya.
Setengah jam kemudian, Fiha telah kembali ke rumah. Sudah banyak barang belanjaan yang dibeli olehnya. Sekalian membelikan pampers untuk si Syansa.
"Fiha, kamu kok lama sekali?" tanya Yunah.
"Aku menambah barang belanjaan." jawab Fiha.
"Nambah barang belanjaan, tapi yang sudah dibeli malah dilempar." ujar Yunah.
"Aku tadi sebenarnya menolong seorang Nenek yang cacat, hendak naik tangga eskalator. Mana mungkin aku membuang makanan, sama saja perbuatan sia-sia." jawab Fiha, dengan jujur.
"Masyaa Allah, menantu Ibu benar-benar berhati mulia." puji Yunah.
"Ibu bisa saja bercanda, kenyataannya tidaklah demikian." jawab Fiha.
Fiha bergantian menggendong Syansa, karena Yunah sudah dari tadi menjaganya. Sekarang giliran Fiha, karena itu memang kewajibannya.
"Syansa sayang, kamu kenapa rewel." Fiha mencubit kedua pipinya.
"Karena aku sudah haus, tapi Bunda lama pulang." Yunah menjawab, dengan meniru suara anak kecil.
Fiha membawanya ke dalam kamar, untuk menyusui anaknya. Beberapa jam kemudian, Hasbi telah kembali. Dia masuk ke dalam rumah, dengan melangkahkan kaki kanan terlebih dulu. Sudah menjadi adab kebiasaannya, jadi dia tidak lupa.
"Fiha, kamu dimana sayang?" tanya Hasbi.
__ADS_1
"Aku di sini sayang, biasalah mengeram dalam kandang kamar." Fiha menjawab, sambil tertawa kecil.
"Oh, sudah menjadi ayam ternyata." ujar Hasbi.
"Heheh... sudah lama sayang." jawab Fiha terkekeh.
Fiha menyalami tangan Hasbi, lalu mencium punggung tangannya. Setelah itu Hasbi mencium Fiha, lalu meraih handuk pada gantungan. Dia memasuki kamar mandi, lalu menutup pintunya.
"Syansa, sudah tidak haus lagi 'kan?" Fiha mengusap punggungnya, dengan minyak telon.
Fiha tidak ingin, bila anaknya kedinginan. Cuaca sangat tidak mendukung, untuk Fiha bersantai tentang Syansa. Saat hari panas, anaknya kadang biang keringat. Menjadi seorang ibu, harus siap siaga.
Tubuh Hasbi terlihat basah, karena dia baru saja mandi. Hasbi mengambil pakaian, yang telah disiapkan oleh istrinya. Setelah itu, dia menghampiri anaknya yang mulai tertidur.
"Apa seharian ini Syansa rewel?" tanya Hasbi.
"Tentu saja sayang, jadinya sedikit merepotkan Ibu heheh..." jawab Fiha.
"Iya tentu sayang, hari ini Ibu mau membuat kue bolu. Ini untuk acara syukuran, yang akan diselenggarakan di masjid." jawab Fiha.
Keesokan harinya, saat berada di kampus. Fiha keluar dari kelas, untuk membeli air putih. Saat Fiha sedang berjalan santai, tiba-tiba matanya melihat seorang perempuan terjatuh dari motor. Fiha segera berlari, untuk membantunya menegakkan kendaraan roda dua tersebut. Gadis bertatto itu segera beranjak, dari duduknya yang sembarangan.
"Mbak gak apa-apa?" tanya Fiha lembut.
"Tidak apa-apa, terima kasih." jawabnya ramah.
Fiha tersenyum. "Iya, sama-sama."
"Kamu sangat lembut dan anggun, mengingatkan aku dengan masa lalu. Dulu aku juga seperti kamu, selalu mengenakan jilbab kemana-mana. Tapi sekarang, seperti yang kamu lihat." jawabnya.
__ADS_1
Fiha hanya tersenyum, namun tidak ingin menghakimi. Dirinya saja hanya seorang mualaf, harus banyak belajar lagi.
Seseorang itu meneruskan ucapannya. "Maaf, aku jadi curhat."
"Tidak apa-apa, masa laluku dulu seperti dirimu yang sekarang. Di dunia ini, seperti putaran misteri angan. Tidak akan ada yang tahu, bagaimana fakta seseorang diakhir hidupnya." jelas Fiha.
"Kalau boleh tahu, kenapa dulu kamu tidak berjilbab?" tanyanya penasaran.
"Karena aku tidak mengenal Islam saat itu." jawab Fiha.
"Oh gitu iya." ujarnya.
"Iya." jawab Fiha.
Fiha dan perempuan tersebut, saling bertukar nomor kontak. Setelahnya pergi ke tujuan masing-masing. Fiha merasa bahagia, karena bisa membantu sesamanya. Saat dalam perjalanan akan kembali ke kampus, Fiha melihat nenek-nenek sedang kedinginan.
"Nek, kau kenapa?" tanya Fiha.
"Aku sedang tidak enak badan, tubuhku menggigil kedinginan." jawabnya.
Fiha melepaskan jaketnya, lalu menutupi tubuh nenek tersebut. Tubuh yang semula dingin, menjadi hangat. Fiha juga melepaskan sepatunya, lalu mengenakan pada kaki si nenek. Kini dia kembali ke kampus, hanya dengan kaki berbalut kaos kaki.
"Sayang, sepatu kamu mana?" tanya Hasbi.
"Aku berikan pada nenek-nenek sayang. Aku melihatnya begitu kedinginan." jawab Fiha.
Hasbi merangkul pundaknya. "Istri shalihah, nanti kita beli sepatu baru iya."
"Iya sayang, terima kasih." jawab Fiha.
__ADS_1
Ali tersenyum, melihat kebahagiaan mereka. Meski pada akhirnya, Aqila tiada lagi. Namun Ali tetap akan berbahagia, seperti ketulusan cinta Aqila.
”Fiha, Hasbi, kalian adalah sahabat baikku. Aku doakan, semoga hubungan kalian langgeng.” batinnya.