
Hasbi dan Fiha baru saja pulang dari kampus, dan mendapatkan teguran dari ibunya.
"Hasbi, kamu mendapatkan undangan dari Paman Qalam. Dia menyuruhmu untuk memandu pengajian malam ini." ujar Yunah.
"Iya Bu, aku akan datang insyaa Allah." jawab Hasbi.
Pyarrr!
Tiba-tiba terdengar suara pecahan beling, yang terjatuh ke lantai. Suaranya bersumber dari kamar Fiha dan Hasbi. Fiha sedang meminum obat pereda sakit sementara. Hasbi membuka pintu, lalu melihat Fiha.
"Kenapa kamu minum obat lagi?" Hasbi melihat Fiha memegang bungkus obat.
"Ini obat untuk sariawan." jawab Fiha beralasan.
"Benarkah, kenapa aku tidak percaya." ucap Hasbi.
"Aku beli di apotek, sudahlah jangan banyak tanya." Fiha meringis, menahan rasa sakitnya.
"Kamu jangan bohong, orang kelihatan sakit gitu." Hasbi mendekatinya, lalu membantu tubuh Fiha bersandar.
"Ini tuh cuma kelelahan aja, harap maklum efek hamil. Kamu lihat tuh, aku sampai keringatan seperti ini." Fiha memperlihatkan dahinya.
"Oh syukurlah, aku bisa bernafas lega kalau kamu baik-baik aja." Hasbi mencium pipinya.
Fiha mengangguk. "Iya, aku baik-baik saja."
Hasbi segera membuka bungkus obat yang polos itu. Lalu, Hasbi menuangkan air minum lagi. Fiha meminum obat, bersamaan meneguk air.
"Fiha sayang, aku mencintai kamu. Jangan pernah menyembunyikan kesusahanmu, tolong terbukalah padaku." ucap Hasbi lembut.
Fiha menggenggam telapak tangannya. "Kesusahan apa yang bisa aku sembunyikan dari kamu. Kita suami istri, akan menerjang badai kehidupan bersama."
__ADS_1
"Aku mau mandi dulu iya, aku mau pergi ke acara pengajian. Paman Qalam mengundang aku untuk hadir." ujar Hasbi.
"Iya sayangku." Fiha mencium pipi Hasbi.
Hasbi segera mengambil sapu, untuk membersihkan pecahan kaca. Setelah itu dia baru masuk ke kamar mandi.
"Huaaa... Ini sakit sekali. Aku tidak sanggup, sakit sekali." Fiha meneteskan air matanya.
Tak berselang lama, Hasbi telah keluar dari kamar mandi. Fiha memperlihatkan raut wajah biasa saja, seolah tanpa beban. Hasbi dapat melihat matanya yang tersisa air, meskipun Fiha telah menghapusnya.
"Kamu habis nangis iya sayang?" tanya Hasbi.
"Gak kok sayang, kenapa kamu bisa berpikir seperti itu." Fiha tersenyum.
"Iya sudah, lebih baik sekarang kita mengaji bersama." ujar Hasbi.
"Tadi aku sudah sayang, kamu aja yang mengaji sendirian. Sebentar lagi 'kan Maghrib, kita harus salat berjamaah." jawab Fiha.
"Fiha, kamu sedang ada di dalam iya?" Yunah mengetuk pintu.
"Benar Bu, aku sedang ingin sendiri." jawab Fiha.
"Pantas saja, bila pintunya dikunci. Oh iya, Ibu mau pergi ke butik, kamu mau ikut gak?" tawar Yunah.
"Gak Bu, Ibu aja iya." jawab Fiha lembut.
"Iya sudah, kamu hati-hati di rumah. Ibu tinggal dulu, assalamualaikum." ucap Yunah.
"Wa'alaikumsalam." jawab Fiha.
Setelah ibu mertuanya pergi, Fiha membuka pintu kamar. Fiha berjalan perlahan, lalu terjatuh ke lantai. Fiha menangis tersedu-sedu, menahan rasa sakitnya.
__ADS_1
"Huaa... sakit sekali, aku tidak tahan." Fiha memukul-mukul tembok.
Semakin hari, dia merasa keadaannya tidak enak. Dia berpikir bagaimana cara menyembunyikannya dari Hasbi, supaya rahasia besarnya tidak ketahuan.
Filda sedang bermain kembang api bersama temannya. Saat lewat depan rumah Hasbi, terdengar suara pecahan beling.
"Eh, ada apa iya di rumah itu." ujar Filda.
"Aku juga gak tahu." jawab Sania.
Mereka baru saja ingin mendekati pintu, namun sudah disuruh pergi oleh pria paruh baya. Dia mengetuk pintu, lalu Fiha membukanya.
"Hai Fiha sayang!" sapanya.
"Om, ngapain kau di sini." jawab Fiha cemas.
"Melihatku seperti iblis saja, kenapa tidak menawari masuk." ucapnya, dengan senyum menyeringai.
"Untuk apa aku menawari, lebih baik sekarang Om pergi." Fiha mengusirnya.
Pria itu hendak melangkahkan kakinya, masuk ke dalam rumah. Fiha ingin segera menutup pintu, namun kalah tenaga dengannya.
"Fiha, Fiha, kamu kenapa menjadi tertutup seperti ini. Biasanya juga mengenakan rok mini." Om Spanyol tertawa, melihat penampilannya dari atas sampai bawah.
"Haruskah aku beritahu alasannya, pada pria asing. Lebih baik, kau segera pergi." teriak Fiha.
Pria itu mendekat ke arah Fiha, lalu pundaknya mendapatkan pukulan vas bunga. Fiha segera berlari, meski dengan pelan-pelan. Fiha masuk kamar kembali, lalu mengunci pintunya rapat-rapat.
"Aku harus minta tolong Hasbi, jantungku sakit sekali." Fiha segera mengambil ponselnya, yang berada di atas nakas.
Fiha berbicara secepat mungkin, saat telepon di rumahnya tersambung. Hasbi segera berlari keluar masjid, saat tahu istrinya dalam bahaya. Untung saja, dia sudah selesai memandu acara pengajian.
__ADS_1
"Fiha tunggu aku di rumah, aku pasti tidak akan membiarkan pria itu mengganggu." monolog Hasbi.