Tafakur Cinta Mualaf

Tafakur Cinta Mualaf
Membacakan Shalawat Di Telinga Bayi


__ADS_3

Embun di pagi buta, menebarkan air basah. Detik demi detik berlalu, itulah saat Fiha dibangunkan. Tirai jendela digeser oleh seorang pria, yang sudah rapi. Mengenakan celana panjang di atas mata kaki, dengan baju kemeja sepanjang pangkal paha.


"Sayang, ayo bangun. Sebentar lagi sinar matahari akan datang." ujar Hasbi.


"Masih mengantuk sayang, aku 'kan lagi tidak salat subuh." jawab Fiha.


"Aku tahu, istriku ini sedang lelah. Namun, tidur pagi tidak baik untuk kesehatan." ucap Hasbi.


"Iya, gendong aku ke kamar mandi." Kedua tangan Fiha diangkat, lurus ke depan mengambang di udara.


Hasbi tersenyum dengan permintaan sang istri, lalu digendongnya Fiha manja itu. Setelah Fiha sampai ke kamar mandi, Hasbi menghampiri keranjang bayi Syansa.


"Anaknya Ayah, kamu sudah bangun." Hasbi melihat wajah mungilnya.


Tangan Syansa setia menggigit jarinya sendiri, sambil tubuhnya menggeliat pelan. Mana mungkin menjawab ucapan Hasbi, dia tidak dapat berbicara. Masih terlalu kecil, untuk anak seumurannya berbicara lancar.


Hasbi mengangkat tubuhnya perlahan, lalu membelainya dalam gendongan hangat. Bayi Syansa membenamkan kepalanya, pada dada bidang Hasbi. Pria tampan tersebut menyenandungkan shalawat, untuk putrinya yang masih kecil.


Sholatullah Salamullahi


‘Alaa Thoha Rosulillah


Sholatullah Salamullahi


‘Alaa Yasiin Habibillah


Wabil Hadi Rosulillah


Wakulli Mujahidin lillah


Bi Ahlil Badri Ya Allah


Ilahi Sallimil Ummah


Minal 'Afaati Wan Niqmah


Wamin Hammin Wamin Ghummah


Bi Ahlil Badri Ya Allah


Sholatullah Salamullahi


‘Alaa Thoha Rosulillah

__ADS_1


Sholatullah Salamullahi


‘Alaa Yasiin Habibillah


Wabil Hadi Rosulillah


Wakulli Mujahidin lillah


Bi Ahlil Badri Ya Allah


Ilahi fil Waakrimna


Minaili Maqoolibil Minna


Wadhof'imasa 'Atin Anna


Bi Ahlil Badri Ya Allah


Sholatullah Salamullahi


‘Alaa Thoha Rosulillah


Sholatullah Salamullahi


‘Alaa Yasiin Habibillah


Wabil Hadi Rosulillah


Wakulli Mujahidin lillah


Bi Ahlil Badri Ya Allah


Fiha sudah keluar dari kamar mandi, dan berdecak kagum melihat tindakan suaminya. Fiha merupakan perempuan paling beruntung, dia harus banyak-banyak bersyukur. Dihadirkan pria shaleh, dan juga penyayang.


"Hasbi, kamu sudah mandi iya?" tanya Fiha.


"Iya dong sayang, kamu lihat aku sudah rapi." jawab Hasbi.


"Oh iya, kamu sarapan duluan saja. Aku yang gantian gendong Syansa." ujar Fiha.


"Kata Ibuku kita harus sarapan bersama. Ada Nenek dan Kakek juga di ruang makan." jawab Hasbi.


"Tapi, Syansa belum tidur." ucap Fiha.

__ADS_1


"Aku bisa menidurkan bayi kecil ini. Kamu cepat ganti baju sana." titah Hasbi, dengan suara yang lembut.


Fiha melangkahkan kakinya dengan cepat, dan butuh waktu lama keduanya sudah sampai ruang makan. Fiha sudah rapi, dengan jilbab pashmina yang dikenakannya.


"Fiha, ayo makan yang banyak. Kamu harus mengonsumsi banyak gizi. Ibu ingin kamu cepat hamil lagi." ujar Yunah.


Hasbi tersenyum. "Ibu buru-buru sekali, seperti hendak membentuk Timnas pemain bola."


"Itu juga bagus, tapi Ibu lebih ingin dia menjadi ustadz." ujar Yunah.


"Itu jauh lebih baik, bisa menyampaikan banyak kebaikan." jawab Fiha.


Setelah usai sarapan pagi bersama, Fiha dan Hasbi mengendarai motor. Mereka sudah sampai di kampus, lalu hendak menuju ke kelas masing-masing.


"Dadah sayangku!" Hasbi melambaikan tangannya, ke atas udara.


Fiha pun melakukan hal serupa. "Dadah sayang!"


Fiha dan Hasbi segera melangkahkan kaki, dengan tujuan yang berbeda. Fiha masuk ke dalam kelas, lalu melihat Ali yang sedang duduk. Fiha segera duduk, dan melihat ke arah Ali. Tetap saja pria tersebut cuek, tidak ingin bicara apapun juga.


"Hei Fiha, kamu sekarang terlihat segar bugar iya." puji teman perempuan, yang sekelas dengannya.


"Masa si, perasaaan dari dulu seperti ini." jawab Fiha.


"Iya, sejak kamu bertemu dengan Hasbi." Perempuan itu, hampir saja terbahak-bahak.


"Maksudnya, aku ceria karena menikah dengan Hasbi? Ada-ada saja, sebenarnya dulu aku sakit. Wajar saja, bila wajahku terlihat pucat." jawab Fiha.


"Loh, kok aku gak tahu?" Lagi-lagi, raut wajahnya dibuat bingung.


"Karena aku tidak memberitahu siapapun juga." jawab Fiha.


Filda jalan berlenggak-lenggok, melewati teman-teman nakalnya. Dia ingin mereka tahu, bahwa dirinya ada yang melindungi.


Filda kini berkacak pinggang. "Hei, kalian semua dengar iya. Tidak ada yang bisa menggangguku, karena aku punya guru sekaligus Ayah di sekolah ini."


"Meskipun kami tidak memiliki Ayah guru, kami tidak takut untuk mengganggu siapapun." jawab salah satu orang, dari mereka.


"Oh iya, buktikan dong!" Filda tersenyum masam.


Pria itu tersenyum mengejek, lalu berlari mengejar Filda. Tidak butuh waktu lama Filda sudah berdiri, di depan pintu kantor.


"Katanya berani, ayo tangkap aku sekarang. Aku akan memanggil Ayahku, supaya kalian dimarahi." Filda tersenyum menantangnya.

__ADS_1


"Sudah ah, kita kembali ke kelas saja." Merangkul pundak teman-temannya.


__ADS_2