
Senja berwarna teh lemon itu, mengingatkan aku saat pulang dari sekolah. Begitu sudah larut sore, dan aku menjumpai kamu. Namun wajah ini memalingkan pandangan, teringat bahwa kita terasa asing sekali. Bahkan di sekolah, bertegur sapa saja tidak. Bayangkan saja, bahwa kita sebenarnya sekelas.
Aku hanya ingat, namun langkah ke depannya tetap menjadikan kamu masa lalu. Bukan perihal jahatnya kamu, namun perihal jahatnya situasi. Aku tersingkirkan jauh, bahkan terpelanting dengan begitu mulus. Semua hanya disebabkan, oleh rasa suka ini. Rasa yang tidak dipintai untuk hadir menyapa.
Hanya karena menaruh rasa, aku dihakimi banyak manusia. Hanya karena rasa, aku diasingkan dunia. Ketika mengingatnya, aku jadi tidak ingin mengulang hal yang sama. Peristiwa menyakitkan itu hidup dalam ingatanku, bagaimana penuduhan, dibully, dikhianati pernah terjadi.
Aku menderita sekali, bahkan terlalu luka. Rasa bukanlah hal yang melanggar agama. Rasa adalah hal lumrah, selama bisa menjaga batasannya. Mengapa harus aku? Mengapa harus aku yang terjebak rasa. Sakit, sakit, dan sakit, meski telah berlalu lama.
Aku sudah berusaha menghindar sekali, berkenalan dengan banyak orang baru. Hanya memiliki tujuan, agar segala tentang firasatku salah. Namun aku memang selalu gagal, mereka memilih untuk bermain-main. Lalu aku terjebak rasa, kembali mengulang ingatan.
__ADS_1
Aku adalah orang, yang terjebak masa lalu. Saat putih biru mengalami trauma, lalu putih abu-abu lebih trauma lagi. Aku hanyalah manusia, yang berusaha untuk merelakan. Hanya karena melihat para toxic membahas masa lalu, rasanya mental tegas ini menghilang seketika.
Aku hanya terlihat lemah di luar, namun hatiku sebenarnya kuat. Berapa kali sudah aku bilang tidak sanggup, namun aku hadapi juga hari-hari pahit. Percaya, bahwa bersama Tuhan semua akan baik-baik saja. Hari-hari kelam pasti melebur, menjadi masa lampau.
Aku pandang langit mendung, tanpa terasa hari berlanjut. Tidak akan bisa mengulang waktu, makanya memilih membuat kenangan terbaik. Berusaha bersikap baik di mata Tuhan, meski sangat tidak sempurna. Namun tiada tuntutan manusia harus begitu, cukup kuatkan hati saja.
Satu hal yang aku tekadkan, tetaplah menjadi sia-sia. Bergantung pada Tuhan menghendaki seperti apa lusa. Jika dia menetapkan aku jatuh cinta, niscaya sulit bagiku untuk mengelak. Namun yang jelas aku sangat trauma, untuk mengulang rasa kembali. Dalam ingatan ini, segenap luka terus saja bersarang.
Aku tahu dulu aku bukan yang utama, namun kamu juga bukan bagian penting kemudian. Suatu hari kamu bukanlah apa-apa, kecuali manusia biasa bergelar teman sekilas. Aku benar-benar akan membuktikannya, saat kita kembali bertemu. Aku akan menunjukkan sikap dewasa, tanpa mengikat luka di depanmu.
__ADS_1
Biarlah kamu hanya tahu, bahwa diri ini baik-baik saja. Menganggap luka ini sudah surut, atau bahkan mengering. Namun bila kamu menyadari, laut yang dalam tidak semudah itu menyusut. Banyaknya air butuh proses panjang, kecuali Tuhan menghendakinya.
Aku ingat saat itu aku mengelak, untuk duduk dengannya. Dia si mulut buas di kelas, yang telah mengacaukan semua rencana dariku. Aku benar-benar sakit hati dengan tuduhannya. Berani-beraninya dia melakukan itu, tanpa rasa sadar diri sama sekali. Aku biarkan diri ini memilih duduk, dengan teman kita yang dijuluki bos.
Mengapa aku harus selama itu, berkubang di dalam kisah rumit. Tidak bisa keluar lagi, kecuali Dia menghendaki. Sekarang yang tersisa, hanyalah mati rasa. Trauma untuk jatuh cinta lagi, setelah banyak bulan-bulan pahit. Dulu aku tertekan beban karena memiliki rasa, bagaimana mungkin aku akan jatuh cinta lagi?
Aku memulai pagi, untuk menjalani aktivitas lagi. Selalu bayangmu menghantuiku, ntah bagaimana caraku jatuh cinta. Bisa-bisanya sulit untuk melupakanmu. Sungguh jujur, aku sudah rela sekali.
Aku tidak tahu, bagaimana menghadapi masa lalu. Begitu sangat memalukan, dan ingin menenggelamkan diri saja. Bersembunyi terus dari masa lalu, tanpa berani untuk menghadapinya.
__ADS_1