Tafakur Cinta Mualaf

Tafakur Cinta Mualaf
Motor Mogok


__ADS_3

Keesokan harinya, Fiha dan Hasbi pergi ke perusahaan. Namun tiba-tiba ban kempes di perjalanan. Ali mengerem motornya secara mendadak, karena melihat Hasbi menyeret motor.


"Assalamualaikum Fiha, Hasbi!" sapa Ali.


"Wa'alaikumus'salam." jawab Fiha dan Hasbi bersamaan.


"Eh Ali, lama tidak berjumpa." Hasbi menendang penyangga motor, lalu memeluk Ali sebentar.


"Iya, aku sibuk bekerja." jawab Ali.


"Kau apa kabar sekarang?" tanya Hasbi.


"Alhamdulillah baik, seperti yang kau lihat." jawab Ali.


"Kami pergi dulu iya, mau bawa motor ke bengkel." ujar Hasbi.


"Biar aku yang bantu menariknya. Kau cukup mengendalikan motor, supaya tidak terjatuh." jawab Ali.


Ali menghidupkan mesin motornya, lalu mendorong knalpot Hasbi menggunakan kaki. Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai ke bengkel, bersamaan dengan Fiha yang turun dari mobil taksi.


"Ali, kami pergi dulu iya." ujar Hasbi.


"Kalian tidak mau menunggu, sampai motornya jadi." jawab Ali.


"Tidak, kami harus segera ke kantor. Kalau tidak pergi sekarang, maka kami akan lebih terlambat." jawab Hasbi.


"Aku juga ingin pergi kerja di perusahaan mamanya Filda." ujar Ali.


"Semangat iya kawan! Semoga kita sukses bersama." jawab Hasbi.


Hasbi dan Fiha segera pergi ke tujuannya, sedangkan Ali pun sama. Dia pergi menuju perusahaan, karena itu merupakan hari pertamanya bekerja.


"Ali, kamu sudah datang?" tanya seorang perempuan.


"Sudah, darimana tahu namaku." jawab Ali.


"Filda yang memberitahu kami." ujarnya.

__ADS_1


"Masyaa Allah, sudah diperkenalkan terlebih dulu." jawab Ali.


"Iya, bahkan sudah dibuatkan agenda tugas untukmu. Sepertinya, kau orang spesial iya. Tidak perlu melalui proses interview, namun langsung diterima." ucapnya.


"Ah tidak begitu, hubungan kami sebatas Kakak dan Adik." jawab Ali.


"Dia Adik kandungmu iya?" tanyanya lagi, yang masih penasaran.


"Bukan, dia adalah Adik angkat ku." jawab Ali.


"Biasanya hubungan seperti itu dapat berubah, menjadi sepasang suami istri." Perempuan itu menyatukan jari telunjuk kanan, dan juga jari telunjuk kiri.


"Oh iya, tapi kelihatannya tidak seperti itu." jawab Ali mengelak.


Ali diantar pergi ke sebuah ruangan, yang sudah menyediakan laptop dan perlengkapan kerja lainnya. Kemudian dia mendaratkan bokongnya, untuk menduduki kursi.


"Silakan bekerja, aku akan pergi dulu." ujarnya.


"Iya, terima kasih." jawab Ali.


Perempuan itu tersenyum, lalu pergi dari hadapan Ali. Dia adalah sekretaris Filda, yang membantu pekerjaannya.


"Haduh, maaf iya. Aku tidak seharusnya lewat sini." ujar Fiha.


"Tunggu dulu, kau kira kami ada hubungan apa. Tadi aku hanya membantu bos, yang hendak terjatuh." jawab Gus.


"Aku tidak berpikir macam-macam, aku tahu di antara kalian hanya hubungan kerja. Hanya saja terlalu lucu, bila harus sampai berpelukan erat." ucap Fiha, dengan jujur.


"Nah, tertawa lah. Jangan sungkan Fiha!" jawab Gus.


Fiha hanya menggelengkan kepalanya, lalu menundukkan kepala. Fiha mengucapkan kata permisi, lalu segera pergi dari hadapan mereka.


"Eh Fiha, kamu darimana saja?" tanya Tris.


"Aku baru saja dari koridor." jawab Fiha.


"Ngapain ke koridor?" tanya Tris, yang ingin tahu.

__ADS_1


"Sebenarnya bukan ingin ke koridor, tapi ingin ke toilet. Namun, aku mengurungkan niat." jawab Fiha.


"Memangnya ada hal yang mengganggu?" tanya Tris.


"Tidak, kita kembali bekerja saja." Fiha malas, untuk menceritakan hal tidak penting.


Beberapa jam berkutat di ruangan, sampai pada akhirnya jam istirahat tiba. Fiha dan Tris menuju ke kafe perusahaan.


"Kenapa iya tuh orang mondar-mandir?" tanya Tris.


"Aku juga tidak tahu, bukankah kafe ini khusus menjamu tamu penting perusahaan." jawab Fiha.


Tris melihat pria itu memegang kamera. "Kelihatannya, dia seorang fotografer."


"Bisa dikatakan begitu." jawab Fiha.


Tris dan Fiha mencolek saos pada nugget, lalu mengunyahnya hampir bersamaan. Tiba-tiba saja pria itu meminta Fiha, untuk menemaninya berkeliling.


"Eh Kakak, bisa tolong foto aku tidak?" tanya pria itu.


"Maaf, bukankah bisa foto sendiri." jawab Fiha.


"Aku tidak mendapat izin, dari para pekerja kafe." ujarnya.


"Wajar saja, kafe ini khusus orang-orang yang berhubungan dengan perusahaan saja. Biasanya ketika akan meluncurkan produk baru, pasti akan sangat ramai." jawab Tris.


Fiha akhirnya menuruti keinginan orang tersebut, melakukan jepretan berulang. Tanpa diduga, tiba-tiba orang tersebut menghentikan.


"Aku harus segera pergi, terima kasih telah membidikku." ujarnya.


"Iya, sama-sama." jawab Fiha.


Setelah kepergiannya, tiba-tiba muncul Gus. Dia membawa gambar vampire, dengan tulisan level 20.


"Kalian berdua melihat apa?" tanya Gus.


"Aku hanya melihat seseorang yang mengunjungi kafe." jawab Fiha.

__ADS_1


"Oh iya, menurut kau bagaimana gambar ini?" tanya Gus.


"Lumayan, cukup pas untuk merek jajanan." jawab Fiha datar.


__ADS_2