
Yunah melihat Aqila yang diam saja, lalu tangannya segera menyendok sayur. Dia memasukkannya ke dalam piring Aqila.
"Aqila, kamu terlalu banyak pikiran iya. Sekarang, semakin terlihat kurus badannya." ujar Yunah.
"Tidak Bu, aku memang seperti ini bawaannya." jawab Aqila.
"Biasanya lebih berisi." ucap Yunah.
"Mungkin karena Ibu lama tidak melihatku, jadi terlihat lebih kurus." jawab Aqila.
Keesokan harinya, Hasbi dan Fiha pergi ke kampus bersama. Hasbi dan Aqila mengurus kegiatan, yang akan mengadakan perlombaan. Acara itu dibuat, untuk memperingati hari kemerdekaan.
"Hasbi, kamu sebagai ketua BEM, tolong bimbing anggotanya iya." ujar bapak rektor.
"Iya Pak, akan saya usahakan agar berjalan lancar." jawab Hasbi.
Aqila dan Hasbi pergi bersama, dengan anggota lainnya juga. Mereka menuju ke sebuah hotel, karena acara akan digelar di sana.
"Aqila, kamu bantu kami dong." ujar Stayli.
"Iya, jangan maunya dekat Hasbi terus." timpal Wanda.
Aqila berjalan mendekat, membantu Stayli dan Wanda. Walaupun sebenarnya, dia amatlah takut dengan ketinggian. Bila dia terus di bawah, pasti akan dikira mendekati Hasbi. Aqila memejamkan matanya, saat kakinya menginjak tangga. Tanpa sengaja kakinya terpeleset, dan Hasbi meletakkan karpet busa tebal di bawahnya.
"Wuih, gas kuy segera rekam." ucap Stayli.
"Tentu saja, siapa takut." jawab Wanda.
Aqila terkejut karena dia terjatuh, namun tidak terasa begitu sakit. Ternyata ada alas lembut, yang tertimpa oleh tubuhnya. Aqila menoleh ke samping, melihat Hasbi berdiri didekatnya.
"Terimakasih iya Hasbi." ucap Aqila.
__ADS_1
"Iya Aqila, harusnya kamu jangan meladeni mereka." jawab Hasbi.
Aqila beranjak dari posisinya, segera duduk bersila. Fiha dan Ali sedang mengobrol di kelas, lalu mendapati video Hasbi dan Aqila.
"Ali, apa saat aku tidak ada dulu, Aqila dan Habsi sangat dekat?" tanya Fiha.
"Tidak juga si Fiha, hanya hubungan rekan bisnis saja." jawab Ali sejujurnya.
"Tapi, Hasbi kelihatan khawatir banget sama dia." ujar Fiha.
"Gak, ini cuma perasaan kamu aja. Kamu terlalu cemburu, jadi berpikir yang tidak-tidak." jawabnya.
Fiha tiba-tiba merasakan sakit pada kepalanya, tubuhnya juga berkeringat dan lemas. Dadanya benar-benar terasa sesak, lalu segera terjatuh ke bawah lantai.
Aqila melangkahkan kakinya, masuk ke dalam hotel. Dia hendak menuju ke toilet, namun diikuti oleh seorang pria. Hasbi melihat Aqila yang sedang dalam bahaya, namun tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Kring! Kring!
"Siapa kau, berani-beraninya ikut campur." Pria itu meninju Hasbi.
Hasbi membalas meninjunya lagi, hingga dia terjatuh ke lantai. Hasbi segera mengajak Aqila untuk cepat pergi. Tiba-tiba kaki Aqila ditarik, dan tubuhnya menjadi terjatuh. Pria itu menggores pisau pada telapak tangan Aqila.
"Aaaa!" Aqila menjerit.
Saat Hasbi menolong Aqila, pria itu segera melarikan diri. Hasbi yang panik, langsung membantu Aqila.
"Ayo, kita segera ke rumah sakit." ajak Hasbi.
"Gak usah Hasbi, aku bisa sendiri." jawab Aqila.
Saat Aqila hendak berdiri, dia tidak sengaja jatuh. ternyata kakinya keseleo, karena didorong pria tadi. Stayli sengaja mengambil gambar mereka secara diam-diam, menggunakan kamera ponselnya.
__ADS_1
"Ayo kirim di grup, dengan caption (keterangan) aroma Pelakor tercium." ujar Wanda.
"Iya dong, jangan sampai ada yang tidak melihat berita ini." jawab Stayli.
Dokter selesai memeriksa keadaan Fiha, dan dirinya terlihat berat hati untuk menyampaikan.
"Dok, bagaimana keadaan saya?" tanya Fiha.
"Anda mengidap penyakit jantung stadium akhir." jawab dokter.
"Jadi, bagaimana cara untuk mengobatinya?" tanya Fiha.
"Harus ada orang, yang mau mendonorkan jantungnya untuk anda. Lalu setelah itu, operasi akan dijalankan." jawab dokter tersebut.
Fiha menutup mulutnya yang terbuka, sambil geleng-geleng kepala. Berharap berita yang dia dengar, tidak benar adanya. Namun tetap saja dokter tidak merubah pernyataannya. Fiha segera keluar dari ruangan, sambil menepuk-nepuk pipinya.
"Fiha, apa kata dokter tadi?" tanya Ali.
"Dokter bilang, kondisiku baik-baik saja." jawab Fiha.
Tiba-tiba ponsel Fiha berbunyi, dia segera merogoh sakunya. Fiha menggeser layar kunci, dan melihat foto yang tersebar dalam grup.
"Fiha, aku sudah menghubungi Hasbi berkali-kali. Tapi, dia tidak mengangkat teleponku." ucap Ali.
"Ini 'kan Hasbi, dia sedang bersama Aqila." Fiha memperlihatkan layar ponselnya.
"Hah, mereka sedang berpelukan di dalam hotel." Ali hampir tak percaya.
"Ini pasti ada yang tidak beres. Hasbi tidak mungkin menduakan aku." jawab Fiha.
Hati Fiha dan Ali sama-sama merasa cemburu, namun ingin melihat kebenarannya dulu. Apa mungkin mereka tidak sengaja, atau memang sengaja melakukan hal tersebut. Fiha dan Ali terburu-buru, untuk mencari Aqila dan Hasbi.
__ADS_1