Tafakur Cinta Mualaf

Tafakur Cinta Mualaf
Yunah Dituduh


__ADS_3

Dapur lagi tempat berkutat, menjadi sasaran pisau berdansa. Gerakan mengiris, maju mundur, ataupun memotong. Meja-meja dirapikan oleh Fiha, karena tampak kotor.


"Sayang aku rajin iya." puji Hasbi.


"Terima kasih sayangku sudah repot memuji." jawab Fiha.


"Siapa yang memuji kamu, sebenarnya aku memuji diriku." canda Hasbi.


"Ah bohong, pasti untuk aku." Fiha ingin rasanya menguyel-uyel pipi Hasbi.


Hasbi tersenyum melihat istrinya, semakin tambah cinta. "Iya, memuji kamu kok."


"Terima kasih iya sayang heheh..." Terkekeh, pakai acara peluk-peluk.


Syansa malah senang melihat hal tersebut, itu artinya rumahtangga orangtuanya harmonis.


Setelah hari pelatihan yang panjang berlalu, sekarang waktunya pertandingan dimulai. Umar bersemangat di lapangan, mengenakan baju seragam yang sama. Semua anggota tim basket sangat kompak.


"Semangat! Semangat!" Aliya teriak-teriak, sambil mengangkat tangan di udara.


Bola masuk ke dalam ring basket. Penonton bersorak gembira, terutama Aliya yang semangatnya tak ada tanding.


"Terima kasih Aliya, kamu selalu mendukung tim kami." ucap Umar.


"terlalu canggung, jangan bersikap seperti ini." jawab Aliya.

__ADS_1


Sementara di sisi lain, Fiha melihat Yunah yang tengah berdiri mematung. Sesekali menatap daun yang bergeser dari dahan pohon. Menatap daun hijau yang diterpa angin.


"Ibu kenapa?" Cerca Fiha perhatian, menepuk pundak Yunah.


"Tidak apa-apa." jawab Yunah.


"Cerita saja, jangan sungkan." ujar Fiha, dengan lembut.


"Ada masalah dengan butik, karena mengalami penurunan pendapatan. Ibu menegur seorang pembeli yang mencuri, namun saat marah malah diviralkan." jelas Yunah.


"Kita harus cari cara yang tegas, untuk memberinya peringatan." ucap Fiha.


"Baiklah, nanti kita diskusikan bersama." Yunah memijit pelipisnya, yang terasa nyut-nyutan.


Tiba-tiba ketukan pintu terdengar, Fiha melangkahkan kaki pelan untuk membukanya. Sontak saja dia terkejut, mendapati siapa yang datang. Ternyata sekelompok wartawan yang ingin mewawancarai, apa yang telah terjadi.


"Iya, namun aku bisa jelaskan apa yang terjadi." jawab Fiha.


"Kami mau bertemu dengan Ibu Yunah secara langsung." ujar seorang pria, bersuara paling ngotot.


"Sebaiknya jangan, Ibu mertuaku sedang sakit. Jika mau berbicara cukup aku saja, jangan membawa-bawa dia, kondisinya baru saja syok." jelas Fiha, berusaha membuat mereka mengerti.


Wartawan menerobos masuk padahal tidak diizinkan. Mereka benar-benar tidak punya sopan santun, karena memaksa tuan rumah yang jelas-jelas melarang.


"Eh, kalian jangan memberontak." Fiha berusaha menghalang-halangi, dengan menelentangkan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


"Sebentar saja, kami mau bertemu dengan Ibu Yunah." Seorang perempuan mendorong Fiha dengan kasar.


Fiha terjerembab ke lantai, dan mengeluarkan darah dari hidung. Yunah mendengar keributan orang bersorak-sorai, bergumam bagaikan pasukan kumbang, memaksa dirinya yang berada dalam kamar untuk keluar.


"Fiha, kamu tidak apa-apa?" Yunah membantunya berdiri.


Fiha menggelengkan kepala, meski tubuhnya terasa lemas. "Tidak apa-apa Bu, hanya sedikit terdorong." Tidak ingin mertuanya cemas.


Yunah menarik paksa para wartawan yang berisik itu. Tidak peduli mereka marah-marah, Yunah menguatkan volume gasnya. Orang seperti mereka tidak bisa memanusiakan manusia lain. Pantas untuk diberi pelajaran, dan diusir dari rumah.


"Pergi kalian dari sini!" Yunah berteriak penuh emosi, karena menantunya terlukai.


"Parah, kasar sekali dia. Orangtua macam apa, pebisnis macam apa, sebegitunya memperlakukan orang lain." Seorang wanita berkuncir berbisik-bisik, dengan orang yang ada di sebelahnya.


"Ntahlah, tampaknya tidak ramah anak." Berbisik lagi, diikuti yang lain.


Yunah tidak peduli tanggapan mereka, langsung mengunci pintu. Setelahnya dia menghembuskan nafas panjang, lalu jatuh pingsan di balik pintu. Fiha segera menahan tubuh mertuanya sebelum ambruk ke lantai.


Fiha dan Hasbi pergi bekerja bersama, tiba-tiba ada ibu-ibu komplek melempari mereka dengan batu-batu kecil berwarna hitam. Hasbi melindungi Fiha, agar tidak terkena serangan.


"Dasar keluarga berkedok syar'i saja, tapi tidak punya akhlak baik." Melotot main hakim sendiri.


"Ibu-ibu, tolong jangan sembarangan memfitnah orang lain iya. Kalau istriku kenapa-kenapa, kalian semua bisa aku tuntut." Hasbi memberikan penegasan, agar mereka tidak seenaknya.


"Tuntut saja, kalau kamu tidak malu melihat ibumu mendekam dalam penjara. Sebelum kami, dia sudah bertindak sombong duluan." Nyolot tanpa dosa.

__ADS_1


Hasbi mau membantah omongan mereka, namun Fiha segera menggandeng tangan suaminya. "Sudahlah sayang, sebaiknya kita pergi saja. Mereka para manusia yang pandai ikut-ikutan, namun tidak tahu kejadian yang sebenarnya." Fiha merayu Hasbi, sambil berbisik lirih.


Perut Fiha tiba-tiba merasa keram, dan dia memeluk pinggang Hasbi dengan begitu erat. Dia takut terjatuh, sebelum tiba ke kantor. Dia sedang mengandung, jadi harus pandai-pandai menjaga diri.


__ADS_2