
Tak berselang lama, Fiha dan Ali sudah masuk ke dalam ruangan. Mereka melihat ada dokter perempuan, tengah duduk di kursi.
"Silahkan duduk." tawarnya.
"Iya Dok." jawab Fiha.
"Maksud kedatangan kami ke sini, karena ingin mencari donor jantung untuknya." sahut Ali.
"Maaf sekali, donor jantungnya sudah dibeli oleh orang lain. Kemarin sore, ada pasien yang yang sakit jantung. Ternyata, dia memiliki kanker stadium akhir." jawabnya.
"Kalau begitu, kami permisi dulu Dok." ujar Ali.
"Iya, silahkan." jawabnya.
”Tuhan, kemana lagi aku harus mencari pendonornya. Aku benar-benar sangat membutuhkan, bantu aku kali ini. Tolong permudahkan jalanku, supaya aku tetap istiqamah. Tidak pantang menyerah, dan putus asa.” batin Fiha berdoa.
"Fiha kamu yang sabar iya, kita masih dapat berusaha lagi." ujar Ali.
"Iya Ali, gak apa-apa kok." jawab Fiha.
Mereka berbicara sambil berjalan, lalu keluar dari gedung besar tersebut. Mereka segera kembali, ke ruang yang ada di kampus.
Aqila melemparkan kertas kecil pada meja Hasbi, lalu dia membacanya dengan cepat. Ternyata Aqila tadi melihat Fiha, yang sedang berjalan bersama Ali. Harap maklum saja, karena kaca kelas selurus dengan area parkiran.
Pelajaran telah usai, karena dosen telah mengajar beberapa jam. Hasbi dan Aqila mengobrol berdua, melanjutkan hal yang mereka rencanakan.
"Aqila, kamu 'kan sahabat aku, jadi apa yang harus aku lakukan?" tanya Hasbi.
__ADS_1
"Berdasarkan hal yang kamu ceritakan tadi pagi, sepertinya Fiha menyembunyikan sesuatu. Lagipula, kalau hanya demam tidak perlu minum obat penghilang nyeri." jawab Aqila.
"Lalu, aku harus melakukan apa?" tanyanya lagi.
"Kalau menurut aku si, lebih baik kamu ikuti Fiha saja. Maksudku, kamu tidak perlu memberontak dengan sikap. Jangan tunjukkan, bahwa kamu sedang mencari tahu. Dalam proses penyelidikan, simpan rapat-rapat apa yang kamu ketahui. Bila sudah saatnya, baru kamu boleh membukanya dengan lebar-lebar." jelas Aqila, panjang dan lebar.
"Terima kasih iya Aqila, atas nasihat yang kamu berikan." ujar Hasbi.
"Iya, sama-sama. Bukankah sudah seharusnya, untuk saling mengingatkan satu sama lain." jawabnya.
Pukul 12.00 Fiha dan Hasbi sudah pulang ke rumah. Begitulah jadwal kampus yang tidak menentu arah, tidak seperti sekolah umum yang rata-rata masuk pagi hari.
"Sayang, bagaimana kalau liburan kuliah kita refreshing." ajak Hasbi.
"Memangnya mau kemana, bukankah kita harus membantu Ibu." jawab Fiha.
"Di butik juga seru, bisa belajar jahit bareng sama Ibu." jawab Fiha.
"Sepertinya, kamu takut Ibuku kerepotan iya." ujar Hasbi.
"Iya dong, 'kan aku menantu paling setia dan berbakti." jawab Fiha.
"Iya, iyalah, orang menantunya cuma kamu." ucap Hasbi.
"Heheh... iya juga." jawab Fiha.
Hasbi dan Fiha mengambil air wudhu, saat adzan mulai berkumandang. Mereka segera melaksanakan salat, karena sudah waktunya. Tidak boleh menunda-nunda, selagi masih diberi kesempatan hidup. Bila ajal sudah menjemput, tidak ada satupun manusia di muka bumi yang bisa berlari.
__ADS_1
Dalam sujud nya, Fiha tiba-tiba tergeletak. Hasbi tidak menyadarinya, karena Fiha berada di belakangnya. Saat ucapan salam dan salat telah usai, barulah Hasbi menyadari Fiha yang sudah tidak sadarkan diri. Hasbi menggoyangkan tubuhnya, dan melihat wajah pucat Fiha. Hasbi segera melarikan Fiha, ke rumah sakit terdekat.
Qalam berjalan ke arah jembatan, yang menghadap langsung dengan laut. Dia ingin memancing di sana, menggunakan kesempatan baik cuaca yang mendung. Karena bila terik matahari sedang mencolok, sangat tidak nyaman untuk berdiri di tempat itu.
"Pak duda, ternyata Bapak memancing juga." seru Filda.
"Kamu juga ingin memancing iya, kalau gitu mari dekat denganku." ajaknya.
Filda meletakkan ember dan umpan, di samping tempat duduknya. Kakinya dicelupkan ke dalam air laut, agar lebih segar dengan tetap dingin.
"Pak duda, apakah Bapak berniat untuk menikah?" tanya Filda.
"Aku sudah pernah menikah." jawab Qalam.
"Maksudku, apa Pak duda berniat menikah lagi?" tanya Filda penasaran.
"Ntahlah, tidak terlintas sama sekali." jawab Qalam.
"Bila Pak duda terlintas ingin menikah, tolong lamar Mama. Aku ingin sekali, mempunyai Ayah sepertimu." ungkap Filda, dengan jujur.
"Filda, sekolah yang benar aja. Jangan banyak bercanda, soal pernikahan." Qalam mengusap kepalanya dengan lembut.
"Aku serius, aku ingin Pak duda menikahi Mama." jawab Filda meyakinkan.
Qalam terdiam sejenak, tidak ingin menjawab lagi. Dia dapat melihat, raut wajah serius Filda. Ucapannya juga terlihat sungguhan, dan tidak main-main. Selama ini Filda memang selalu mendekatinya, bahkan memberikan masakan Halifah untuknya.
"Pak duda, kenapa kau diam saja. Apa kau tidak ingin, mempunyai anak sepertiku?" tanya Filda.
__ADS_1
"Bukan seperti itu Nak." jawab Qalam.