Tafakur Cinta Mualaf

Tafakur Cinta Mualaf
Takdir Berkata Lain


__ADS_3

Filda merasa lelah sekali, habis keluar rumah tadi. Banyak sekali aktivitas yang telah dilakukannya. Termasuk dorong sepeda, dan juga jalan sama Ali. Sekarang sudah ada di dalam rumah, namun membuat heran tidak ada yang menyahut ketukannya. Seperti tidak ada orang, tapi tidak mungkin. Pintu rumah tidak terkunci, maka kakinya memutuskan untuk melangkah menuju kamar.


"Apa benar Mama sedang sibuk, hingga terlihat acuh seperti ini? Pintu tidak dikunci, ucapan salam tidak dijawab." Filda bergumam sendiri.


Filda mulai mengetuk pintu kamar, sampai seseorang memegang pundaknya dari belakang. Ternyata oh ternyata, itu merupakan ayah tirinya.


"Kenapa tegak mematung?" tanya Qalam.


"Aku sebenarnya ingin masuk ke dalam." jawab Filda.


Filda melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Dilihatnya seorang perempuan paruh baya, masih berada di atas ranjang tidur. Kalau memang matanya sedang terpejam dalam tidur, namun kenapa hati Filda merasa gelisah. Dia seakan merasakan, bahwa Halifah sedang tidak baik-baik saja. Lagipula Qalam pernah berpesan, supaya jangan tidur pagi.


"Mama, jangan tinggalin Filda!" Filda menggoyangkan tubuh Halifah, yang baru saja menghembuskan nafas terakhir.


Tidak ada pergerakan, dari tubuh perempuan paruh baya tersebut. Filda meneteskan air mata dengan perlahan, sebelum pada akhirnya menggenang pada kelopak matanya.


Qalam memegang kedua pundak Filda. "Yang sabar iya Nak, Tuhan lebih sayang sama Mama kamu. Berusahalah untuk selalu berlapang dada, dalam menerima kehendak-Nya." ujar Qalam.


"Iya Ayah, aku akan mengikhlaskan kepergian Mama." jawab Filda.


Pemakaman dilakukan dengan lancar, tanpa sebuah kendala. Mereka merasa sedih, namun harus jua merelakan. Bukankah semua yang hidup akan kembali juga.


"Mama, kenapa kau cepat sekali perginya." Filda menatap pemakaman.


"Ayah akan menjaga kamu, yang kuat iya Nak. Ayah juga sebenarnya sedih, ketika menyaksikan pemakamannya." jawab Qalam.

__ADS_1


"Filda, semangat! Mama kamu pasti tenang, kalau kamu tidak selalu bersedih." ucap Fiha.


"Iya Kak, terima kasih untuk supportnya." jawab Filda.


Aliya dan Umar datang ke rumah Syansa, karena Fiha mengundang mereka untuk makan bersama. Fiha menyambut mereka, dengan perasaan gembira.


"Eh kalian berdua sudah datang, apa kabar?" tanya Fiha.


"Alhamdulillah baik Tante." jawab keduanya.


"Ayo masuk ke dalam." ajak Syansa.


"Iya Syansa." jawab Umar dan Aliya.


Saat satu-satunya titik hati berharap, namun takdir berkata lain. Terkadang Tuhan lebih tahu apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Seperti Syansa yang menyukai Umar, namun takdir berkata lain.


"Aku mengikuti kegiatan ekstrakurikuler tenis meja." jawab Aliya.


"Kalau kamu Umar?" tanya Fiha.


"Aku pun begitu Tante, aku mengikuti ekstrakurikuler permainan bola Basket." jawab Umar.


Hasbi dan Fiha sudah sampai kantor, karena hari itu ada kegiatan. Mereka akan diberi tugas, untuk pergi ke luar kota. Bos yang sedari tadi membuka pembicaraan, hanya dapat respon manggut-manggut saja. Harap maklum, tugasnya membuat Hasbi dan Fiha bingung. Sebuah tugas yang melenceng, dari kegiatan biasanya.


"Tugas ini dilakukan, untuk mendapatkan testimoni. Sebuah kepercayaan, yang akan dibangun dari dalam. Tentu saja melibatkan karyawan dan karyawati, yang benar-benar suami istri sungguhan di kantor." ujar bos.

__ADS_1


"Mengapa begitu bos, bukankah tidak berpengaruh sama sekali." jawab Fiha.


"Blind date (kencan buta) ini, sama saja dengan rencana pasar. Tentu sangat berguna, untuk melihat bagaimana produk perusahaan diterima pada kalangan masyarakat." ujar bos.


"Maksudnya, bos memberikan kami tugas untuk survei lokasi." jawab Fiha.


"Nah, tentu yang kau katakan benar adanya. Dengan mengecek ke lokasi, kalian bisa tahu cemilan apa yang disukai anak muda. Apalagi saat mereka menghabiskan waktu, bersama orang yang mereka cintai." ujar bos.


"Kami ini sudah tua, tidak muda lagi." jawab Hasbi.


"Meskipun umur tua, namun tidak menunjukkan hal demikian. Kalian masih terlihat seperti ABG kasmaran." canda bos.


"Heheh... ada-ada saja Pak bos." jawab Hasbi, dengan tergelak.


Sore harinya hujan turun dengan deras, lalu Hasbi melepaskan jas yang dipakainya. Dia menutupi kepala Fiha, agar tidak terkena air hujan. Lalu setelah itu, keduanya masuk ke dalam mobil.


"Sayang, nanti saat turun kamu harus hati-hati. Kalau terkena air hujan, kamu 'kan demam." ujar Hasbi.


"Iya, iya suamiku. Bawel banget si!" Fiha tersenyum ke arah Hasbi.


Yunah membukakan pintu, melihat anak dan menantunya yang baru pulang. Dia membawakan payung, supaya mereka berdua tidak kehujanan.


"Ayo cepat mandi, lalu isi perut kalian." ujar Yunah.


"Iya Bu." jawab Hasbi.

__ADS_1


"Nanti kamu masuk angin, kalau tidak cepat ganti baju." Yunah masih melihat baju Fiha, yang basah.


"Iya Bu, aku ke kamar dulu." jawab Fiha.


__ADS_2