
Illahilas tulil firdaus ahlan
wala akwan ala narri jahimi
Fahabli taubatan waghfir dzunubi
Fainnaka ghafirudz dzmbil 'adziimi
Dzunubi mitslu 'adadirrimaali
Fahabli taubatan ya dzal jalaali
Wa 'umri haqisun fi kulli yaumin
Wa dzambizzaidun kaifa ihtimaalii
Muqirrambiidz dzunuubi waqadda'aaka
Illahi 'abdukal 'aasi ataaka
Faintaghfir fa anta lidzaka ahlu
Wa intathrud famannarjuu siwaaka
Ilahi lastu lil firdausi ahlaa
Wa laa aqwa 'alaa naaril jahiimi
Fahabli taubataw waghfir dzunuubi
Fa innaka ghofirudz dzam bil 'adhiimi
Aliya menghampiri Syansa, yang sedang bersenandung shalawat.
"Syansa, apa si judul shalawat yang kamu nyanyiin?" tanyanya.
"Oh, shalawat Al'Itiraf atau sering disebut juga Illahilas tulil firdaus." jawab Syansa.
"Ingin deh aku mengunduh, kelihatannya bagus." ucap Aliya.
__ADS_1
"Iya, unduh saja. Atau minta kirim dari aku juga bisa." jawab Syansa.
Aliya mengklik tombol download, untuk memperoleh suara indah tersebut. Dia ingin mendengarnya, agar hati lebih tenang. Syansa melangkahkan kakinya, menuju ke dalam kelas. Syansa melihat Kichi, yang sedang duduk.
"Syansa, hari ini jadi 'kan main sepeda ke candi?" tanya Kichi.
"Jadi dong, kenapa harus dibatalkan." jawab Syansa.
"Siapa tahu Bunda kamu tidak memperbolehkan pergi." ujar Kichi.
"Bundaku sibuk ke kantor bersama Ayah. Aku segan bila sendiri, kayak ada jiwa sepi." Syansa tersenyum.
"Buktinya kamu sekarang lajang, itu artinya betah sendiri." ucap Kichi.
"Itu 'kan perihal status, perihal menjalani hari sekarang aku ingin dengan keluarga." jawab Syansa.
"Heheh... iya juga." Kichi hanya terkekeh.
"Keluar yuk!" ajak Syansa.
Kichi hanya menganggukkan kepalanya, lalu melangkahkan kaki keluar kelas. Aliya tersenyum melihat Syansa sudah kembali lagi.
"Iya ada." jawab Syansa.
"Please dong, kamu jangan menolak aku lagi. Aku ingin mengajak kamu jalan, bersama dengan Umar juga." Aliya memohon.
Syansa sebenarnya merasa tidak enak hati. "Maaf iya Aliya, aku sudah ada janji duluan. Aku dan Kichi akan pergi, ke suatu tempat."
"Kamu selalu bersamanya, tidak mau mengajak aku dan Umar. Please Syansa, aku ingin kita foto bertiga." ungkap Aliya.
"Maaf iya sekali lagi Aliya. Aku sedang tidak bisa, lebih baik kita berpencar saja." jawab Syansa jujur.
”Semakin aku didekat Umar dan kau, aku akan semakin sulit untuk melenyapkan perasaan ini.” batin Syansa.
Sementara di sisi lain, ada Fiha dan Hasbi yang berduaan di pojokan. Bukannya mereka tidak profesional, namun sekarang sudah waktunya untuk istirahat. Menghabiskan waktu berduaan tidak ada salahnya bukan?
"Eh Fiha, kita masuk ke dalam yuk!" ajak Hasbi.
"Ke dalam mana sayang, aku mau di sini saja." jawab Fiha.
__ADS_1
"Iya sudah, kalau gitu kita bermesraan di sini." ucap Hasbi.
"Jangan ah, malu dilihat orang." jawab Fiha.
Hasbi mendekatkan wajahnya ke wajah Fiha. Namun seketika terdengar suara gagang pintu, bersamaan dengan gerakan yang merunduk. Fiha segera menarik tangan Hasbi, supaya berjalan mengikutinya. Fiha membuka lemari, lalu mendorong paksa tubuh Hasbi.
"Cepat masuk sana!" titah Fiha.
"Iya, iya, sayang. Tapi ngapain di sini, apa tidak ada tempat lain." Hasbi protes.
"Sudahlah, turuti saja." Fiha juga ikut masuk, dan menutup pintu lemari.
Ternyata yang membuka pintu adalah Tris. Dia bersenandung ria, sambil membuka lemari. Wajah yang awalnya rileks, menjadi lemas tak berdaya. Mereka bertiga sama-sama menjerit, tatkala pintu lemari dibuka oleh tangan Tris.
"Kyaa!" Suara kuat tersebut memecah keheningan.
"Apa yang kalian berdua lakukan?" Tris dengan konyol, menyilangkan tangannya di dada.
Fiha keluar dari dalam lemari. "Ngapain kamu yang tutup tangan, seolah ada bahaya mengintai saja."
"Bukan bahaya yang mengintai, tapi diriku refleks. Tidak menyangka, kalian akan melakukan sesuatu di sini." Tris menyatukan telunjuk tangan kanan dan kiri.
Hasbi juga sudah berada di luar lemari. "Itu tidak seperti yang kau pikirkan. Kami hanya berniat berduaan saja, namun mendengar suara pintu terbuka. Fiha takut dipergoki teman-teman, makanya memilih bersembunyi saja."
Fiha dan Tris mengerjakan tugas kembali, saat Hasbi sudah berlalu dari hadapan mereka. Tris masih saja terbayang, dengan apa yang dilihatnya tadi.
"Fiha, kamu yakin cuma itu saja faktanya?" tanya Tris, yang masih penasaran.
"Iya, cuma itu saja." jawab Fiha.
Sementara di sisi lain, terlihat Filda yang sedang membenarkan rantai sepedanya. Dia mengelap-elap tangan yang dipenuhi oli, dengan daun lebar dari tumbuhan pinggir jalan.
"Hei, apa sepedamu rusak?" tanya seorang pria.
Filda mendongakkan kepalanya, lalu melihat dengan mata berbinar-binar. "Kak Ali, kau telah kembali?"
"Iya, kau siapa iya?" tanya Ali.
"Hih, ini aku Filda. Masa si Kakak lupa, padahal dulu sering main bareng." jawabnya.
__ADS_1
Ali hanya tersenyum, tidak menyangka gadis cantik di depannya adalah Filda. Setelah sekian tahun mengembara menghilangkan patah hati, saat ditinggalkan Aqila selamanya.