Tafakur Cinta Mualaf

Tafakur Cinta Mualaf
Fiha keguguran


__ADS_3

Sampai di kantor, Fiha masih kepikiran masalah fitnah. Mana tidak boleh memberitahu Hasbi, apa yang telah terjadi kemarin.


"Fiha, aku heran dengan tetangga komplek, selama ini mereka baik-baik saja." ujar Hasbi, merasa ada kejanggalan dengan yang terjadi.


"Ntahlah, mungkin saja mereka merasa jengkel. Ada yang menghasut mereka, agar membenci keluarga kita." jawab Fiha.


"Kenapa kamu bisa menduga seperti itu?" Hasbi menjadi penasaran.


"Baru dugaan saja si, karena aku juga merasa janggal." Akhirnya terpaksa menutupi semuanya, daripada ketahuan yang terjadi kemarin.


Hasbi mengusap lembut kepala istrinya, sebelum berpisah ke ruangannya sendiri. Fiha menatap punggung suaminya dari kejauhan, sambil tersenyum penuh arti. Kini dia malah kepikiran Yunah, yang sedang sendirian di rumah. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, terkirim sebuah video warga mengamuk.


”Gawat, mereka demo depan pintu rumah. Aku harus menolong Ibu, aku takut dia kenapa-kenapa.” batin Fiha, gumam-gumam cemas.


Fiha segera naik taksi, lalu berlari ke rumah dengan cepat. Fiha menghalau para wartawan yang sibuk, meminta klarifikasi pakai acara pukul-pukul tembok.


"Bicaralah Bu Yunah, kamu jangan diam saja. Ayo cepat bicara, mengapa tidak menanggapi." Salah satu laki-laki sangat ngotot.

__ADS_1


"Hei hentikan, dia tidak mau kalian ganggu. Jauhkan kamera kalian, jangan mengintrogasi dia lagi." Fiha dorong-dorong, berusaha lewat celah.


"Diam di tempat, kamu jangan ikut sibuk." ujar wartawan kuncir kuda.


"Jelas saja aku ikut sibuk, dia adalah ibu mertuaku." jawab Fiha.


Fiha beringsut menolong Yunah, dan Fiha tidak sengaja terdorong. Hasbi muncul tiba-tiba, ntah darimana datangnya. Hasbi membawa istrinya ke rumah sakit, dengan Yunah yang mengikuti di belakang.


"Bu, mengapa masalah sebesar ini diam-diam saja." ujar Hasbi.


"Apa seperti ini tidak membuat aku khawatir." Hasbi mondar-mandir, sambil menatap kaca ruangan.


"Seperti ini khawatir juga, harusnya Ibu katakan sejak awal." jawab Yunah.


Dokter keluar dari ruangan, mengatakan hal yang membuat jantung Hasbi terasa ingin copot. Benar-benar di luar dugaan, kalau anaknya tidak bisa diselamatkan.


"Anakku di mana!" Fiha berteriak histeris, di dalam ruangan.

__ADS_1


Hasbi segera masuk ruangan untuk melihatnya. "Sayang, kamu keguguran. Jadi, anak kita tidak tertolong."


Fiha dan Hasbi berpelukan erat, saling pandang dengan terpancar kesedihan. Fiha dan Hasbi melihat pintu ruangan terbuka, ada Syansa yang datang bersama Aliya dan Umar.


"Bunda, aku sudah mengetahui semuanya. Sebenarnya aku sedih, harus kehilangan kesempatan punya Adik." Syansa mendekat duduk di sebelah Fiha.


"Maafkan Bunda, karena awalnya tidak terus terang. Harusnya masalah ini, diselesaikan bersama-sama." jawab Fiha.


"Bunda harus lebih terbuka sedikit, jangan suka menutupi permasalahannya." Syansa memberikan sarannya.


"Bukan salah Bunda kamu, namun salah Oma yang menyuruh menutupi." sahut Yunah.


"Seharusnya jangan lakukan itu, kita satu keluarga." ujar Syansa.


"Pola asuh, lingkungan, dan lain sebagainya terkadang berperan sebagai pembentuk karakter. Kita tidak bisa menilai, hanya karena masalahnya sama. Solusi tiap orang berbeda, ada yang mudah dan ada yang sulit." jelas Fiha.


Mereka pulang ke rumah, untuk mengistirahatkan tubuh yang lelah. Aliya dan Umar juga sudah tidak ada lagi, menghilang perlahan di ujung jalan pembelokan. Esok harinya, harus melakukan aktivitas seperti biasa.

__ADS_1


__ADS_2