Tafakur Cinta Mualaf

Tafakur Cinta Mualaf
Aku Sakit


__ADS_3

Semua pelajaran berakhir, tanpa terasa penerimaan raport. Aku merasa senang, karena aku masuk sepuluh besar. Setidaknya akuntansi merupakan pelajaran yang sulit, dibandingkan dengan jurusan lain. Aku akan berusaha lebih giat lagi, diwaktu selanjutnya pikirku. Kalau tidak ada kendala, karena aku tidak pernah tahu kedepannya.


Selanjutnya, tubuh ini terlempar ke semester dua kelas sebelas. Aku memulai hari, dengan berusaha ceria dalam hati. Memulai langkah kecil perlahan-lahan, dengan memperbaiki kualitas ibadah. Tidak perlu ada yang tahu, muhasabah di bagian mana. Intinya aku jauh lebih tenang, daripada yang sebelumnya.


Hari itu, adalah kegiatan bersih-bersih kelas. Harap maklum saja, kelas kami berpindah. Dari yang awalnya menumpang di kelas jurusan pertanian, sekarang berganti menjadi kelas yang selesai direhap. Kami duduk berkumpul di depan kelas. Tentu saja aku hanya bersama teman-temanku saja. Aluna, Ichi, Lianti, Atul, Eli dan Surti. Tidak mendekat sama sekali pada mereka, yang telah membuat aku perang dengan batinku. Jatuh bangun sulit aku lalui, dan selalu berada dalam kurungan luka.


"Rulif, ayo kita foto bersama." ajak Ansyah.


"Iya." jawabnya.


Ido yang memegang ponsel, dan mengangkatnya di atas udara. Sakim mengikuti langkah kaki mereka ikut berfoto juga, mengabadikan momen kebersamaan. Mataku sekilas melihat Sakim dan Ido, lalu membuang pandangan ke sembarang arah. Benar-benar malas, untuk melihat hal itu. Bisa-bisa hatiku merasa kesal sendiri, karena tidak memiliki kebebasan. Mereka seenaknya bisa menegur Rulif, sedangkan aku bagaikan patung tanpa suara.


Beberapa Minggu kemudian, setelah hari pertama masuk sekolah. Saat itu adalah hari Selasa, hari yang seharusnya menjadi jadwal sekolah. Mungkin salahku, kurang kuat sekali lagi. Kurang mau bertahan sekali lagi, kurang mencoba menahan sabar berkali-kali lagi. Membiarkan menuruti kata naluri dalam hati, bukan mencerna dalam logika terdalam. Malah memilih untuk ingin cepat sudah, dan akhirnya menambah luka parah. Bila aku bisa mengungkapkan dengan jujur, aku sudah tidak sanggup.

__ADS_1


Pagi hari itu, awan nan elok menampilkan matahari. Gumpalannya bergeser untuk membiarkan sinar terang, memancar pada dunia. Aku jatuh sakit, sehingga tidak masuk sekolah.


Bapakku yang memberikan surat izin pada guru. Tubuhku benar-benar lemas, tidak sanggup untuk ke sekolah. Bersamaan dengan hatiku, yang juga tidak berselera. Benar-benar satu paket, perasaan pada saat itu. Di kelas akuntansi, bukan hanya menguras pemikiran untuk belajar. Tapi juga perjuangan, untuk menghadapi kondisi lingkungan. Musibah belum stabil, sehingga harus melakukan antisipasi.


Singkat cerita, teman-temanku datang menjenguk. Sudah rutinitas kelas, bila ada yang sakit datang menjenguk. Ntah harus senang atau tidak, aku juga tidak mengerti. Jelas pastinya, aku tidak mungkin mengusir Sakim. Meski hatiku tahu, aku tidak menginginkan kehadirannya. Pemeran antagonis, di dalam kisah masa sekolah ku. Tukang tindas yang seolah bersikap peduli, dengan datang menjenguk. Padahal tidak tahu saja, bila aku menyimpan lara karenanya.


Aku masih tetap diam saja, tidak mau untuk mengobrol dengan mereka. Cuma aku sedikit mengobrol, dengan mantannya Rulif saja. Dia termasuk siswi yang ceria, juga bukanlah orang yang jahat di mataku. Perempuan berkulit sawo matang, dan memiliki gigi gingsul. Berteman dengannya sebenarnya bukanlah masalah, dulu juga diawal masuk kami sering bersama. Hanya saja mulai berjarak, saat Tiya berpacaran dengan Rulif. Tapi yang membuatku senang, teman akrabku Ulia ikut menjenguk.


Bapakku mengobrol dengan Sakim, dan aku hanya melihat saja. Merasa muak, dengan pemandangan itu. Tapi tidak berniat mengusirnya, karena bukanlah tipeku bertindak brutal. Aku lebih menyukai, seseorang sadar diri secara efisien. Dengan begitu tetap efektif namun elegan. Malas membuang waktu dan menguras tenaga. Aku cuma bisa cemberut, menghadapi situasi yang tidak bisa dijelaskan.


Beberapa Minggu kemudian, aku sudah masuk sekolah. Setelah sakit sekian lama, selama kurang lebih dua Minggu. Ibu Ima tersenyum, melihatku masuk kelas. Karena hubungan kami mulai berkembang, saat semester satu kelas sebelas. Aku memang berusaha untuk mendekatinya, biar bisa sebebasnya bertanya seperti Ulia. Aku ingin berteman dengannya, bahkan sosial medianya aku tambahkan teman. Kata sebagian orang, dekat dengan guru itu bagus. Kita bisa bertanya, perihal pelajaran yang tidak diketahui. Namun mungkin aku harus menerima kenyataan, bahwa semuanya jauh dari harap ku. Pondasi semangat yang telah aku bangun runtuh. Api membara yang aku kobarkan, tampaknya akan padam dan membakar diriku. Aku tidak akan punya kesempatan itu, karena takdir berkata lain. Saat itu ibu Ima menghampiri meja belajarku.


"Firsya, kamu sudah sembuh?" tanyanya, sambil tersenyum.

__ADS_1


"Sudah lumayan membaik Bu, tapi masih sedikit sakit." jawabku.


"Jangan-jangan Firsya ini sakit hati gak." goda ibu Ima.


Aku membulatkan kedua mataku, darimana dia bisa tahu pikirku. Berarti kesempatan untukku, menghentikan penindasan Sakim, Ido, dan Riyadi.


"Heheh gak Bu." jawabku, sambil tersenyum.


”Bu, selama ini aku ingin menyampaikannya. Akhirnya kau peka juga, ayolah Bu bantu aku. Pikiran ini ingin tenang, sudah sangat ingin memiliki lingkungan nyaman. Aku akan cari cara, supaya kita bisa mengobrol berdua. Hentikan tindakan mereka semua Bu, karena mereka tidak bisa ku hentikan.” batinku mulai senang.


Sudah lelah berpura-pura punya gebetan baru, biar gak dicomblangi lagi. Tapi malah dikira, aku ini tukang cari sensasi. Padahal nulis status jalan bersama seseorang, cuma pura-pura aja. Biar mereka segera menghentikan Comblang, yang membuat aku gak nyaman seratus persen. Habis mau bagaimana lagi, cuma punya harapan ingin belajar dengan tenang. Tidak menyukai seliweran omongan sana sini, yang tidak sesuai dengan fakta.


Baru juga sembuh, beberapa hari aku gak masuk lagi. Aku sudah menghilang lagi dari kelas, menimbulkan pertanyaan di kepala teman sekelas. Tidak peduli apa, untuk saat itu aku ingin tenang. Setidaknya di rumah, aku tidak terlalu lelah. Tubuhku lemas lagi, dan kepalaku pusing. Aku izin lagi, sampai absen kelas menulis sakit dengan lama. Terus saja seperti itu, aku tidak pernah masuk kelas.

__ADS_1


”Bu Ima, apa Ibu tahu aku belajar sambil menahan gejolak hatiku. Ketua program akuntansi, yang harusnya bisa menjadi teladan bagi semuanya. Kelak bila kamu tidak mempercayaiku, aku pasti akan sangat kecewa.” hatiku bersedih, dalam diam.


__ADS_2