
Hari-hari terus berlalu, begitulah seterusnya. Setiap pulang kuliah, mereka mencari Aqila. Mereka merasa iba, karena nama Aqila telah dicoret dari kampus Universitas Bersinar.
"Tanpa terasa anak kita sudah diperbolehkan pulang." ujar Fiha.
"Iya sayang, aku telah mempersiapkan nama yang bagus untuknya." jawab Hasbi.
"Apa namanya sayang?" tanya Fiha.
"Syansa." jawab Hasbi.
"Sayang, ternyata suara dari masjid waktu itu hanyalah rekaman suara Aqila. Harus kemana lagi, kita pergi mencarinya." Fiha bersandar pada pundak Hasbi.
"Aku juga tidak tahu sayang. Semua tempat telah kita telusuri." jawab Hasbi.
"Aku ingin mengajak kamu ke rumah sakit. Aku akan memancing mereka, agar memberitahu siapa yang telah mendonorkan jantung untukku." ucap Fiha.
"Sekarang, kita 'kan sedang mencari Aqila." jawab Hasbi.
"Aku curiga, bahwa terjadi sesuatu saat dia mencari donor jantung untukku." ujar Fiha.
"Iya juga, apalagi kejadiannya pertengahan Agustus." jawab Hasbi.
Tok! Tok!
Terdengar suara ketukan, pada pintu rumah Halifah. Qalam yang sedang bersantai, segera membukakan pintu. Dia merasa terkejut, dengan kedatangan mantan istrinya.
"Assalamualaikum Qalam, sudah lama tidak berjumpa." ujar Wiwit.
"Wa'alaikumussalam, iya sekitar delapan tahun lalu." jawab Qalam.
"Sepertinya, keputusanku meninggalkanmu telah banyak membawa perubahan." ucap Wiwit.
"Iya, dunia tidak berhenti pada kisah lama. Dunia adalah waktu, yang akan terus berputar seperti ban kendaraan." jawab Qalam.
__ADS_1
"Tidak mau menawarkan masuk ke dalam rumah?" tanya Wiwit, dengan tidak tahu malu.
"Oh, silakan masuk. Lagipula, aku tidak sendiri di rumah. Di sini ada istriku juga." jawab Qalam jujur.
Wiwit masuk ke dalam rumah, lalu duduk di kursi ruang tamu. Qalam memanggil Halifah dan Filda, yang sedang berada dalam kamar. Halifah dan Filda segera keluar, karena mendengar suara Qalam menyeru lirih di ambang pintu.
Mereka melihat sosok cantik, yang sedang duduk di kursi sofa. Halifah segera pergi ke dapur, untuk membuatkan minuman. Sementara Filda menemani ayahnya, untuk mengobrol sejenak dengan tamu perempuan tersebut.
"Ini anak kamu?" tanya Wiwit.
"Iya, sekarang kelas tiga sekolah dasar." jawab Qalam.
"Aku dengar, pernikahan kalian belum lama." ucap Wiwit.
"Dia adalah anak tiri ku." jawab Qalam.
"Oh gitu, kirain anak kandung." Wiwit tersenyum, sambil melirik ke arah Filda.
"Bukankah kamu sendiri tahu, bahwa pernikahan kami belum lama." jawab Qalam.
"Yah basah, maafkan siku ku ini iya Tante." ucap Filda, dengan tidak tulus.
"Tidak apa-apa, bisa aku basuh di toilet." Wiwit beranjak dari duduknya, dengan rasa kesal dalam hati.
Halifah mengantar perempuan itu, hingga masuk ke dalam toilet. Sedangkan Filda mengelus sikunya berulang kali, merasa bangga atas kerjasama dengan hati sendiri.
"Kamu pasti sengaja 'kan?" tanya Qalam.
"Tidak Ayah, mana mungkin." jawab Filda.
"Ayah tidak mau kamu berbohong Filda, apalagi untuk sesuatu yang mengganggu kenyamanan. Bagaimanapun, Tante tadi adalah tamu." ujar Qalam.
"Tamu adalah raja atau ratu, namun jika tidak suka tak mungkin dipaksakan." jawab Filda.
__ADS_1
"Filda, jangan membantah omonganku." ucap Qalam.
"Iya Ayah." jawab Filda menurut.
Halifah telah kembali bersama Wiwit, dan Filda masih menatap sinis ke arahnya. Wiwit tahu, bila Filda sengaja melakukannya. Harap maklum, ada tamu perempuan yang berlama-lama. Rasanya Filda tidak nyaman, meskipun tidak mengetahui masa lalu Qalam dan Wiwit.
"Qalam, aku pamit mau pulang." ujar Wiwit.
"Kok mendadak sekali, bukankah baru dibuatkan minuman." jawab Halifah.
"Aku ke sini, cuma mau melihat mantan suamiku." Wiwit tersenyum, tanpa canggung.
"Oh, jadi mantan istrinya." Halifah manggut-manggut, namun merasakan Wiwit punya maksud lain.
"Ada perlu apa iya Tante, Ayahku sudah punya Mama balu." sahut Filda.
"Hanya sekadar silaturahmi, bukankah tidak ada larangan." jawab Wiwit santai.
Dia segera keluar dari rumah Qalam, setelah berpamitan untuk pulang. Halifah menatap jejak Wiwit, yang telah menghilang setelah keluar gerbang.
"Ayah masih sering berkomunikasi sama dia?" tanya Halifah.
"Masyaa Allah, tidak Ma." jawab Qalam.
"Kenapa Ayah sampai mengucap istighfar?" tanya Halifah, dengan sedikit ketus.
"Karena Ayah kagum, dengan rasa cemburu dalam hati Mama." jawab Qalam.
Filda memperhatikan mereka, dari cela wajah keduanya. Qalam dan Halifah tersenyum, sambil berpandang-pandangan.
Keesokan harinya, Fiha dan Hasbi pergi ke rumah sakit. Dimana tempat itu, merupakan tempat Fiha dirawat selama koma. Tempat itu juga, merupakan tempat Fiha operasi Caesar.
"Bagaimana cara memancing mereka?" tanya Hasbi.
__ADS_1
"Biar aku saja, aku sudah terbiasa mengalihkan perhatian seperti ini." jawab Fiha.