Tafakur Cinta Mualaf

Tafakur Cinta Mualaf
Hari Sakral


__ADS_3

Beberapa menit dalam perjalanan, akhirnya Fiha dan Hasbi sudah sampai. Hasbi dan Fiha langsung masuk, ke dalam Fisbi Boutique. Yunah terlihat sedih, karena ada sesuatu yang menggangu pikirannya.


"Bu, ada apa?" tanya Hasbi.


"Hasbi, tadi Aqila datang ke sini. Tapi ternyata dia mengundurkan dirinya, dari konveksi butik kamu." jawab Yunah.


"Bu, apa benar begitu? Sudah lama Aqila bergabung, dan selama ini dia nyaman saja." Hasbi hampir tak percaya.


"Iya Hasbi, Ibu berbicara seadanya." jawab Yunah.


Ali tiba-tiba muncul, dan meletakkan rantang makanan di meja. Fiha tidak tega melihat Yunah dan Hasbi. Ingin rasanya dia berbicara dengan Aqila, karena dia tahu bahwa Aqila menyukai Hasbi.


"Hasbi, apa yang dibilang Ibu kamu benar. Aqila sudah gak bergabung lagi, dia juga mengeluarkan dirinya dari admin grup. Sekarang WhatsApp pun gak aktif lagi, mungkin dia ganti nomor. Mungkin juga menonaktifkan akun sosial medianya, karena tidak ada saat aku cari." ujar Ali.


Hasbi memeriksa ponselnya, ternyata Aqila memang menghilang. "Aku gak mengerti, apa yang terjadi pada dia."


"Ibu yakin, kalian telah menyentuh hatinya." ujar Yunah.


"Biar aku saja yang berbicara dengan dia. Biasanya perempuan akan jujur, pada sesama perempuan juga." jawab Fiha.


Keesokan harinya, Fiha dan Hasbi libur kuliah. Acara pernikahan mereka akan segera diselenggarakan, di rumah Hasbi. Fiha sudah siap, dengan gaun pengantinnya. Hari itu dia akan menjadi istri, dari orang yang sangat dicintainya.


"Hmmm... aku ingin lompat, meski Hasbi gak menyatakan perasaan apapun. Setidaknya dia paham agama, mungkin tidak akan memperlakukan aku buruk." Fiha menatap dirinya di cermin.


Tak berselang lama, Fiha sudah keluar dari kamarnya. Banyak tamu undangan yang sudah hadir, untuk menyaksikan pernikahan mereka. Penghulu membacakan ijab qobul, lalu Hasbi mengikutinya.

__ADS_1


"Bagaimana para saksi?" tanya penghulu.


"Sah." jawab semuanya.


Fiha menyalami tangan Hasbi, sedangkan Hasbi memegang kepala istrinya. Lalu membacakan doa untuk Fiha, sambil mengusap lembut ubun-ubunnya. Setelah itu, tamu-tamu dipersilahkan menikmati jamuan hidangan.


Ali datang untuk mengucapkan selamat, dan langsung memeluk tubuh sahabatnya. Dia menganggap Hasbi, sudah seperti saudara sendiri.


"Terimakasih iya Ali, kamu sudah menyempatkan datang." ujar Hasbi.


"Iya, sama-sama." jawab Ali.


"Eh, Aqila gak datang iya?" tanya Hasbi.


"Aku juga gak tahu Hasbi, kita tunggu aja dia." jawab Ali.


"Hasbi, Fiha, selamat iya." ucap Aqila.


"Iya Aqila, makasih udah datang." jawab Hasbi.


"Oh iya, boleh minta foto bareng gak." pinta Ali.


"Boleh kok." jawab Hasbi.


Mereka foto bersama, tak terkecuali Aqila. Fiha ingin membawa Aqila, menjauh dari mereka berdua. Dia memegang tangannya dengan lembut, sambil mengedipkan matanya.

__ADS_1


"Aqila, ada hal yang ingin aku bicarakan." Fiha berbisik.


"Baiklah, ayo." jawab Aqila pasrah.


Mereka sudah berada di tempat duduk, saling bertatapan satu sama lain. Aqila tampak diam saja, namun matanya terlihat sembab. Itu karena dia menangis di tengah malam, lalu tertidur di atas sajadahnya.


"Aqila, kalau boleh tahu kenapa kamu keluar dari grup konveksi?" tanya Fiha.


"Karena, aku sudah gak gabung lagi. Jadi pemberitahuan apapun dari reseller, bukanlah urusanku lagi." jawab Aqila.


"Kamu suka sama Hasbi?" Fiha memberanikan diri bertanya.


Aqila tersenyum. "Apa pantas, istrinya bertanya seperti itu pada perempuan lain."


"Aku tahu, ini urusan hatimu. Tapi aku harap, kamu akan mengikhlaskan Hasbi. Supaya kalian bisa berteman, seperti semula lagi. Ibu mertuaku kehilangan kamu, saat berhenti kerjasama dengan Hasbi." jelas Fiha, panjang dan lebar.


"Hasbi sudah punya kamu, dan Ibunya juga menganggap kamu seperti anak. Jadi menurutku, gak perlu ada yang dikhawatirkan. Kalian adalah satu paket, yang memang pantas bersama. Karena tidak pernah ada sejarahnya, bahwa kunyit masuk ke dalam sayur kangkung." ucap Aqila.


"Maafin aku iya, kalau kata-kata ku menyinggung kamu." jawab Fiha.


"Aku yang minta maaf, sudah terlalu lama menjamu tamu milikmu. Harusnya, dia tidak aku biarkan bertamu di hidupku. Sehingga saat menikah, kamu tidak perlu cemas. Kamu tenang saja, aku tidak akan menjadi perusak rumah tanggamu." ungkap Aqila.


"Bukan gitu Aqila, aku tidak bermaksud menyakitimu." jawab Fiha.


Aqila beranjak dari duduknya, dan memilih menjauhi Fiha. Aqila melangkahkan kakinya, menuju ke arah Hasbi dan Ali.

__ADS_1


”Kamu gak salah kok Fiha, dan hatiku mencintai Hasbi juga gak salah. Tapi, melupakan dia sepertinya butuh waktu yang panjang. Maka dari itu, aku gak bisa berada didekatnya. Karena akan semakin mempersulit diriku, untuk melupakan suamimu. Harap doakan saja aku, supaya bisa secepatnya ikhlas.” batin Aqila.


__ADS_2