
Fiha merasa tidak terima, setelah kepergian Aqila ingin rasanya dia marah. Mereka benar-benar keterlaluan, sekaligus menghancurkan silaturahmi dua orang.
"Kalian kira, dalam islam boleh memfitnah orang lain." Fiha tersulut emosi.
"Eh mualaf ceramah... setinggi apa tingkatan ilmunya." Stayli tersenyum mengejek.
"Paling juga ngajinya baru huruf Hijaiyah, itu pun masih terbata-bata doang." timpal Wanda.
"Daripada dibanding kalian, terkadang seseorang seperti Fiha jauh lebih baik." Hasbi muncul tiba-tiba.
"Hasbi, kamu hanya sedang membela istrimu. Pada kenyataanya, dia memang mengaji huruf Hijaiyah 'kan hahah..." Stayli menahan tawa.
"Lucu iya, istri dari orang alim seperti ini. Oh iya, sepertinya pernah jadi simpanan sugar Daddy. Upss sorry, aku keceplosan." Wanda tersenyum mengejek.
"Baiklah, istriku memang fakir ilmu. Kalian berdua ini tinggi ilmunya, seluruh dunia kalian yang menguasai. Selamat iya, bisa berbuat sesuka hati." Hasbi merangkul pundak Fiha, lalu membawanya pergi.
"Kita berdua memang sudah khatam Al-Qur'an iya guys." Stayli menepuk pundak Wanda.
"Iya dong, lebih pintar dari Fiha." Wanda merasa puas.
Aqila meneteskan air matanya, di belakang kampus. Tiba-tiba saja, ada seseorang yang duduk di sebelahnya.
"Aqila, jadi ini alasan kamu keluar dari kerjasama Fisbi Boutique." ujar Ali.
"Seperti yang kamu pikirkan." jawab Aqila, dengan sesenggukan.
__ADS_1
Ali memberikan tisu, untuk menyeka air matanya. Aqila mengambilnya, lalu menoleh ke arah Ali.
"Air mataku jauh lebih banyak, dari jumlah tisu ini. Jadi ada baiknya, tidak usah menggunakannya. Cukup menggunakan jariku saja, pasti akan memudar bekasnya." jelas Aqila.
"Baiklah, lakukan apapun yang membuatmu merasa nyaman." jawab Ali.
Fiha dan Hasbi sudah berkeliling kampus, namun tidak juga melihat Aqila. Mereka benar-benar tidak tega, melihat Aqila diperlakukan seperti itu.
"Eh Hasbi, kenapa mereka berdua kelihatan benci sama Aqila?" tanya Fiha.
"Dulu waktu ada lomba cerdas cermat antar kota, aku dan Aqila yang paling kompak. Kami berdua berhasil memenangkan perlombaan tersebut. Lomba itu, memang khusus diikuti oleh BEM dan anggotanya. Banyak dosen yang memuji Aqila, karena kecerdasannya dalam berpikir. Stayli dan Wanda yang malas-malasan, selalu dibanding-bandingkan dengan Aqila. Dosen terus memujinya, sehingga dipercaya sebagai bendaharawan. Sejak kejadian itu, mereka terus memusuhi sampai sekarang." jelas Hasbi panjang dan lebar.
"Iri si gak dilarang, tapi jangan menghancurkan orang lain kayak gitulah." ucap Fiha.
"Iya kasian Aqila, tapi aku tetap menjaga jarak. Aku tidak ingin dia salah mengartikan, bahwa sifat baik dalam berteman adalah cinta." jawab Hasbi.
"Iya sayang." jawab Hasbi.
Mereka berjalan bersama, tanpa sadar diikuti oleh Stayli dan Wanda. Kedua gadis itu memiliki rencana, untuk menghancurkan hubungan di antara mereka.
"Ingat iya, nanti kita sengaja buat Fiha seolah bersalah." ujar Stayli.
"Tentu saja, siapa suruh dia berlagak pahlawan. Jelas-jelas masih mualaf, berani-beraninya menyudutkan kita depan Hasbi." jawab Wanda.
Akhirnya Fiha dan Hasbi menemukan Aqila, saat berjalan ke belakang kampus. Mereka tidak enak hati, memandang Aqila yang terlihat sayu.
__ADS_1
"Aqila, aku mau bicara sebentar." ujar Fiha.
"Tidak perlu ada yang dibicarakan lagi." jawab Aqila.
"Kamu marah sama aku?" tanya Fiha.
"Kamu kira, dengan marah masalah akan selesai. Kamu kira, dengan marah aku bisa mengembalikan semuanya. Tentu gak Fiha, aku cuma kecewa sama kamu." jawab Aqila.
"Aqila, kamu cuma salah paham. Benar bukan aku, yang melakukan semua ini." ujar Fiha jujur.
"Aqila, kamu gak perlu merasa malu pada mereka. Kamu juga manusia, menaruh rasa adalah hal wajar." tambah Hasbi.
"Aku gak malu mencintai seseorang, aku hanya malu bila digemborkan. Aku tidak ingin bila orang lain ikut campur." jawab Aqila.
Aqila tetap menunduk, sedikitpun tidak menoleh ke arah Hasbi. Ali mengerti bahwa Aqila sangat malu, karena perasaan dalam diamnya terbongkar.
”Aku gak malu sama mereka, aku cuma malu mau melihatmu lagi. Aku bahkan gak sanggup, melihat kamu mengetahui sisi rapuhku.” batin Aqila.
"Aqila, aku harap kamu gak menjauh. Aku ingin kamu tetap mempertimbangkan, untuk bergabung lagi dalam Fisbi Boutique." ucap Fiha.
"Fiha, Fiha, kamu itu cuma ingin membanggakan diri. Kamu sengaja membongkar perasaan Aqila, biar kamu terlihat hebat di depan semua orang. Kamu ingin bilang, kalau dirimu jauh lebih hebat dari Aqila. Kamu berhasil memenangkan hati Hasbi, sedangkan Aqila kalah dengan tragis." Stayli tersenyum mengejek.
"Aqila tidak kalah dengan tragis, karena dia berhasil memenangkan dirinya di jalan Tuhan. Sedangkan kalian, cuma bisa menghina orang yang baru belajar. Jangankan untuk dibilang hebat, istiqomah aja gak bisa." Fiha menjawab dengan datar.
"Gak usah diladeni, ayo pergi aja." bisik Hasbi.
__ADS_1
"Iya sayang." Fiha segera melangkahkan kakinya menjauh.
Hasbi mengikutinya dari belakang, disusul langkah kaki Ali dan Aqila.