
Saat pulang dari kampus, Aqila terlihat terburu-buru keluar kelas. Baru saja Hasbi mau menghampirinya, sudah menghilang dari tembok pembatas. Hasbi terburu-buru untuk mengejarnya, dan tanpa sengaja menabrak Fiha.
"Hai sayang, kenapa kamu terburu-buru seperti itu?" tanya Fiha.
"Iya sayang, aku tadi mengejar Aqila." jawab Hasbi.
"Aku 'kan sudah bilang, kalau kamu gak boleh dekat Aqila. Dia itu suka sama kamu, jadi sewajarnya saja." ujar Fiha.
Hasbi mencubit kedua pipinya. "Dari dulu juga berteman sewajarnya sayang."
"Aku cemburu." Fiha mendekapkan tangannya di dada.
"Maaf, harusnya aku lebih peka." Hasbi mengusap lembut pipinya.
Fiha tersenyum pada Hasbi, menatapnya lekat penuh arti. Mereka segera melangkahkan kaki bersama, sambil bergandengan tangan. Aqila terlihat sudah pergi, namun sebenarnya dia tidaklah jauh. Berada di balik tembok pembatas, memperhatikan tangan mereka yang berpegangan erat.
Aku memiliki dia, bagaikan datangnya sebuah cahaya. Memantulkan sinar, sehingga mengisi kekosongan hati. Sebenarnya memang sudah lengkap, namun mungkin ada yang merana melihatnya. Harus ada yang menangis, di dalam senyum kebahagiaan. Aku bukan bermaksud egois, namun cahaya itu yang memilih datang padaku.
Bukan membiarkan dia sendirian di dalam gelap, namun dirinya harus bisa menemukan cahaya lain. Mengerti bahwa seseorang yang mendampingiku, tidak boleh direbut oleh siapapun juga. Dia hanya akan menetap di hatiku, sebagai seseorang yang aku cinta selamanya. Sebagai perempuan, kau memang sempurna. Namun ketidaksempurnaan diriku ini, adalah pelengkap utuh untuk rumahtangga.
Fiha menutup buku hariannya, keluar dari kamarnya. Dia membantu Nimah, untuk menggoreng udang.
"Fiha, kamu kelihatannya kusut." ujar Nimah.
"Capek Bu, habis kuliah seharian." jawab Fiha nyengir.
"Capek habis kuliah, atau lelah melayani suami." goda Nimah.
__ADS_1
"Ibu bisa saja, aku baik-baik kok. Meskipun lelah karena hal itu, namun pahalanya akan diraih sebagai istri berbakti." Fiha tersenyum.
Nimah memegang pundak Fiha. "Istri pintar, menantu hebat, kamu tunggu udangnya. Ibu mau ke toilet sebentar."
"Aman Bu, nanti biar aku yang menggiling cabainya juga." Fiha tersenyum ceria.
Nimah meninggalkan Fiha sendirian, sampai tibalah Hasbi muncul. Dengan sekedar iseng, Hasbi melingkarkan tangannya pada pinggang Fiha.
"Sayang, kamu masak apa?" tanya Hasbi.
"Aku sedang memasak udang." jawab Fiha.
"Aku suka suaramu yang lembut, lebih enak terdengar. Bergaya feminim, berpenampilan rapi, tidak aruk-arukan lagi." ungkap Hasbi.
"Ini 'kan karena kamu juga, yang mengajari aku." jawab Fiha.
"Eh lihat deh, ini buku harian 'kan?" tanya Wanda.
"Iya, milik Aqila kayaknya. Cepat ambil, sebelum ketahuan." bisik Stayli.
Mereka segera bersembunyi di balik lemari, karena ada seseorang yang mendekat ke arah pintu. Ternyata Hasbi yang memasuki kelas, meletakkan tasnya pada kursi.
"Aqila kemana iya, kok sudah menghilang aja." monolog Hasbi.
Hasbi segera keluar kelas, lalu Stayli dan Wanda membaca buku harian Aqila. Kedua mata mereka membulat, melihat ada nama Hasbi di sana.
"Ayo kita bongkar perasaan Aqila, pada semua orang." ajak Stayli.
__ADS_1
"Iya, biar dia tidak betah di Universitas Bersinar." jawab Wanda, dengan tersenyum jahat.
Mereka berdua segera keluar dari kelas, lalu melambaikan tangan pada orang-orang yang dilaluinya. Berjalan berlenggak-lenggok, sesekali melompat dengan centil.
"Guys, aku punya info loh. Ada yang diam-diam suka sama suami orang. Apalagi pria itu ketua BEM, siapa yang gak kenal." ucap Stayli.
"Benar, gak sadar diri banget iya." tambah Wanda.
"Mana buktinya." jawab semuanya.
Stayli membuka lebar-lebar buku Aqila, dan semua mata membaca tulisan itu. Aqila baru keluar dari perpustakaan, dan mendapati semua mata menyorot ke arahnya. Ada yang tersenyum mengejek, dan ada juga yang bergidik jijik.
"Hati-hati, nanti dia jadi pelakor."
"Kasian amat iya hidupnya, harus memiliki perasaaan bertepuk sebelah tangan."
"Suka sama Hasbi, tanpa menyadari dia siapa."
"Jelas-jelas gak ada harapan, masih aja terbang ketinggian."
Suara tertawa dan bahkan ucapan kasar, terdengar di telinga Aqila. Tidak ada namanya disebut, tapi dia sudah merasa. Dari tatapan mereka saja, Aqila dapat mengartikan siapa yang dimaksud.
”Kenapa mereka bisa tahu, kalau aku suka sama Hasbi. Apa Fiha yang sengaja, menyebarkan perasaanku yang sebenarnya.” batin Aqila.
Tanpa sengaja, Fiha bertabrakan dengan Aqila. Fiha menjelaskan pada Aqila, bahwa dia tidak melakukan apapun.
"Aqila, Fiha berbohong padamu. Kami tahu perasaanmu, karena Fiha yang menyebarkannya." ujar Stayli.
__ADS_1
"Kamu tega iya Fiha. Aku kira, kamu tulus bersahabat sama aku." Aqila segera berlari meninggalkannya.