Tafakur Cinta Mualaf

Tafakur Cinta Mualaf
Sudahkah Berbuat Baik Hari Ini?


__ADS_3

Keesokan harinya, Yunah tampak sibuk. Dia menyuruh Fiha, untuk membelikan kebutuhan pokok yang habis.


"Fiha, tolong belikan belanjaan untuk Ibu di mall terdekat." titah Yunah.


"Iya Bu, aku akan mencatatnya supaya tidak ada yang ketinggalan." jawab Fiha.


Fiha masuk ke dalam kamar, untuk mengganti bajunya. Dia juga sudah mencatat, yang ibunya perintahkan.


"Fiha, kamu hati-hati iya Nak. Hasbi tidak bisa mengantarmu, dia sedang mengurus pesanan di butik." ucap Yunah.


"Iya Bu, gak apa-apa kok." jawab Fiha.


Fiha sedang berjalan untuk pergi ke toko, lalu tidak sengaja melihat seekor kucing masuk air parit. Fiha segera meletakkan dompetnya di pinggir jalan, lalu menuruni bebatuan yang dicor dengan semen.


Meong! Meong!


Fiha berhasil mengangkat kedua tangannya, hingga tubuh besarnya naik ke atas permukaan. Tanpa diduga seseorang mengambil dompet Fiha, lalu segera berlari dengan tunggang langgang.


Fiha kesusahan untuk naik ke badan jalan, karena posisinya sekarang miring ke bawah. Kucing besar anggora itu segera berlari kencang, dan Fiha tidak tahu akan kemana hendak tujuan hewan tersebut.


"Astaghfirullah, itu 'kan uangnya Ibu buat belanja. Kalau sampai hilang bagaimana aku menggantinya, aku gak punya uang saat ini." Fiha bergumam-gumam lirih, dengan perasaan cemas bergelimpangan.


Fiha duduk bersandar pada pohon, yang berada di sisi jalan. Kakinya keseleo, dengan sepatu pansus yang sudah sempit.


Meong! Meong!

__ADS_1


Fiha terkejut, tatkala mendapati kucing itu telah kembali. Di mulutnya terdapat dompet, yang diambil oleh pria paruh baya tadi. Fiha tersenyum dan kagum, sambil tangannya meraih dompet yang digigit oleh gigi kucing.


"Masyaa Allah, aku terharu dengan tindakanmu kucing." monolog Fiha.


Kucing itu terlihat berseri-seri, tampaknya dia sangat menyukai Fiha. Tubuhnya sengaja digosok pada betis Fiha, sebelum pada akhirnya kucing tersebut pergi.


Fiha melanjutkan perjalanannya, menuju ke mall. Fiha mengambil minyak sayur, shampo, garam, gula, kopi, telur, dan kebutuhan sembako lainnya.


Saat Fiha hendak menuruni tangga lift, tidak sengaja dia melihat nenek-nenek hendak turun. Tidak ada siapapun yang menolongnya, Fiha segera berlari melemparkan barang belanjaannya. Minyak sayur tersebut tumpah, dan memenuhi sebagian lantai mall.


Fiha berhasil meraih kursi roda, untuk menolong nenek tersebut. Fiha terus memegangnya, sambil menuruni beberapa anak tangga. Supaya posisinya lebih dekat, dengan posisi nenek itu.


"Terima kasih Nak, kau telah melakukan kebaikan hari ini. Tuhan tidak akan pernah melupakan, setitik kebaikan yang kau lakukan untuk orang lain." ujarnya.


Nenek itu mulai berlalu dari hadapannya, dan Fiha menginjakkan kakinya kembali pada tangga. Saat sampai ke atas, dia mendapati kasir yang telah membersihkan minyak sayurnya.


Fiha menghampiri mereka, lalu membuka plastik belanjaannya. Ternyata telur ayamnya juga pecah, akibat terbentur lantai keramik. Setidaknya pulang tanpa tangan hampa, masih ada beberapa di antaranya yang bisa dibawa.


Fiha melangkahkan kakinya keluar dari mall, tetap bersemangat meski kehilangan barang berharga. Kini dia sudah berdiri di depan pintu rumah, tangannya meraih gagang pintu tersebut.


"Fiha, mana telur ayam dan minyak gorengnya?" Kedua bola mata Yunah, meneliti satu persatu barang dalam paper bag.


"Maaf Bu, telur ayamnya sudah pecah dan minyak sayurnya tumpah." jawab Fiha.


"Loh, kok bisa? Apa kamu tadi terjatuh?" tanya Yunah memastikan.

__ADS_1


"Aku tidak jatuh Bu, tapi paper bag itu sengaja dijatuhkan ke lantai." jawab Fiha.


""Terus bagaimana Ibu mau masak?" tanya Yunah.


"Biar aku belikan yang baru." jawab Fiha.


Fiha sendiri bingung mau membeli belanjaan pakai apa. Mana uang tabungan juga tidak punya. Uang yang diberikan Hasbi, sudah dia gunakan untuk kebutuhan pokoknya.


”Aku coba saja deh, cari kerjaan part time. Semoga ada yang berkenan, memberikannya untukku. Pokoknya aku tidak boleh mengecewakan Ibu mertua, yang ingin membuat bolu untuk acara.” batin Fiha.


Fiha segera keluar rumah, dengan setengah berlari. Di dalam perjalanan, dia melihat nenek tua menggunakan tongkat. Bersamaan dengan itu, ada besi selokan yang terbuka.


"Waduh, gawat kalau Nenek itu sampai terjatuh. Aku harus segera menolongnya." Fiha berlari secepat mungkin, dan merebahkan tubuhnya.


Fiha segera menelungkup kan tubuhnya, tepat pada lubang selokan. Nenek tua itu menginjak punggungnya, dan segera berlalu dengan selamat. Sang cucu yang melihat dari kejauhan, segera berlari mendekati neneknya.


"Nenek tidak apa-apa? Aku tadi melihat dari kejauhan, bahwa Nenek berjalan ke arah lubang selokan. Aku ingin menolong Nenek, tapi mobil terus saja lewat. Aku tidak bisa menyeberang jalan." ujarnya cemas.


"Aku tidak apa-apa, tidak ada lubang." jawabnya lirih.


Gadis itu segera menggandeng neneknya, berjalan menghampiri Fiha yang sudah berdiri. Dia mengeluarkan uang dari kantongnya, lalu memaksa Fiha untuk menerimanya.


"Terima kasih telah menolong Nenekku, tolong jangan ditolak ucapan terima kasih ini." ujar gadis tersebut.


Fiha menerima, mengganggapnya sebagai rezeki. "Terima kasih."

__ADS_1


__ADS_2