Tafakur Cinta Mualaf

Tafakur Cinta Mualaf
Sakit Hati


__ADS_3

Setelah selesai mandi, Hasbi dan Fiha merebahkan tubuh masing-masing. Mereka sangat lelah, karena mengerjakan tugas dengan begitu banyak.


"Hasbi, tadi waktu makan siang, kenapa kau melihat Pak Gus dengan tidak suka?" tanya Fiha.


"Siapa yang akan suka, pada pria yang mendekati istrinya." jawab Hasbi.


"Cie, cie, kamu cemburu nih!" ujar Fiha.


"Iya, tentu saja aku cemburu. Tapi, tidak terlalu juga si. Lagipula manajer itu, tidak akan mungkin menggantikan ku. Masih ada aku di sisimu, yang akan selalu menemani. Selama nafas berhembus, dan juga jantung berdetak." jelas Hasbi.


"Sudah bicaranya?" tanya Fiha.


"Ow, aku ternyata bicara terlalu kepanjangan iya." jawab Hasbi, yang baru menyadari.


"Syukurlah, akhirnya kau sadar juga." ujar Fiha.


"Aku akan menyadari, jika kau mulai protes. Raut wajahmu sangat jujur, akan hal ini." jawab Hasbi.


Keesokan harinya, Hasbi dan Fiha memasak berdua. Kali ini giliran Syansa, yang sedang bersantai di kamar. Indera penciumannya ini tidak dapat berbohong, dia mengetahui apa yang terjadi. Sedang ada makanan enak yang dimasak.


"Hah, perutku jadi lapar. Aku harus segera melihat, dari mana sumber bau menyengat ini." Syansa bergumam-gumam lirih.


Syansa segera melangkahkan kaki ke dapur, lalu melihat Hasbi dan Fiha yang sedang tertawa. Mereka saling mencolek tubuh satu sama lain.


"Masyaa Allah, iri deh Syansa melihatnya. Kalian kok mesra sekali si!" Syansa geleng-geleng kepala.


"Makanya, Syansa menikah setelah lulus. Pasti bisa merasakan, kebahagiaan yang sedang kami rasakan sekarang." jawab Fiha.


"Jangan bilang begitu Bun, dia masih terlalu remaja." ujar Hasbi.

__ADS_1


"Biarkan saja, daripada dia terjerumus ke lubang dosa." jawab Fiha.


"Hahah... Bunda lucu! Syansa mau kerja, sambil kuliah saja." Syansa masih menahan tawa, agar tidak terlalu lepas.


"Bagus, itu baru anak Ayah. Kejarlah cita-cita setinggi langit. Itu 'kan ungkapan peribahasa." jawab Hasbi.


Syansa membantu memasukkan lauk ke dalam piring. Dia membawanya ke atas meja ruang makan, dan Hasbi juga mulai mengangkat nasi dalam teplon.


Syansa pergi ke sekolah, usai sarapan pagi. Kichi dan Aliya menghampiri Syansa secara bersamaan.


"Syansa, kamu lihat Umar gak?" tanya Aliya.


Syansa menggelengkan kepalanya. "Aku tidak melihatnya, sejak pertama kali datang."


"Apa dia akan terlambat lagi, hingga tidak menunjukkan batang hidungnya." gerutu Aliya.


Saat jam pelajaran dimulai, benar saja bahwa Umar baru datang. Dia terlihat sangat lelah, karena menuntun kendaraan ke bengkel.


"Umar, kenapa kamu terlambat?" tanya ibu guru.


"Tiba-tiba saja motor rusak Bu, jadi saya menuntun sampai ke bengkel." jawab Umar.


Hari itu Syansa disuruh praktik, dan Umar mendapatkan kelompok bersama Aliya. Syansa hanya menahan cemburu, saat mereka berdua bersenda gurau.


"Lihat de, itu harusnya tidak akan berbau." ujar Aliya.


"Iya, tapi bau akan keluar bila cairan sempat tertumpah." jawab Umar.


Aliya angkat tangan. "Tidak, jangan sampai tertumpah. Aku tidak ingin muntah, karena mengalami mual."

__ADS_1


"Kalau gitu, sengaja aku tumpahkan saja." jawab Umar, sengaja membuat kesal.


Kichi mendorong tubuh Syansa, lalu dia telonjak dari sandarannya. Kichi nyengir ke arah Syansa, seraya menatap lekat mata lesu tersebut.


"Kalau aku pikir-pikir, kamu sering melihat Umar dan Aliya iya." Kichi tampak berpikir.


"Mereka 'kan sahabatku, wajar sajalah Kichi." jawab Aliya.


Tiba-tiba saja ruang kelas menjadi bau, karena ada salah satu murid menumpahkan cairan. Guru menyuruh siswa untuk keluar, namun tetap saja ada yang tertinggal. Syansa tidak sengaja terdorong oleh temannya. Aliya sudah mengalami sesak nafas duluan, sebelum sempat melarikan diri.


Umar yang sudah berada di luar merasa panik. "Di mana Aliya dan Syansa?"


"Mereka sepertinya masih tertinggal di dalam." jawab salah satu murid.


"Aku harus masuk ke dalam." Umar hendak masuk, namun sebuah tangan menghalangi langkahnya.


"Jangan nekat, di dalam berbahaya. Cairan itu dapat membakar ruangan tersebut." jawab seorang pria.


Umar menghempaskan tangannya, lalu nekat masuk ke dalam. Dia melihat Syansa dan Aliya secara bersamaan.


”Mana iya, yang harus aku tolong lebih dulu.” batin Umar.


Umar akhirnya meraih tubuh Aliya, karena dia sudah terbatuk-batuk. Umar membiarkan Syansa yang berusaha berdiri. Jalannya sudah tertatih-tatih, karena banyak menghirup asap.


"Tolong!" Syansa berteriak lirih.


Umar berhasil membawa Aliya keluar, dan hal tersebut tidak lepas dari pandangan Syansa. Ada rasa sedih, ada rasa lega melihat Aliya diselamatkan.


”Rasanya hatiku sesak, saat kau menganggap ku tidak begitu penting. Ini untuk kesekian kali, kami mengalami kecelakaan bersama. Kau selalu mengutamakan dia, dibanding diriku ini. Rasanya, menjauh adalah keputusan terbaik. Tanpa harus menghiraukan, kalian yang ingin berteman.” batinnya.

__ADS_1


__ADS_2