Tafakur Cinta Mualaf

Tafakur Cinta Mualaf
Fiha Koma


__ADS_3

Pada pagi esoknya Hasbi menunggu Fiha, yang masih belum sadar dari pingsannya. Hasbi menggenggam tangan Fiha erat, sambil meneteskan air matanya. Dia masih merasa terpukul, dengan pernyataan dokter semalam.


"Fiha, ternyata kamu punya penyakit kanker jantung. Kenapa kamu menyembunyikannya dariku, aku sangat kehilanganmu." monolog Hasbi.


Yunah menghampiri Hasbi, yang sedang membelakanginya. Dia segera memberikan bungkus nasi, yang ada di genggaman tangannya.


"Ini untuk kamu, kelihatannya dari semalam tidak makan." ujar Yunah.


"Iya Bu." jawab Hasbi.


Hasbi mengambil bungkus makanan, yang diberikan oleh Yunah. Namun dia tidak selera, seperti hari-hari biasanya. Yunah segera keluar ruangan, membiarkan Hasbi sendirian di sana.


Ali melihat ponselnya, yang dikirimi pesan dari Hasbi. Ternyata Hasbi memberitahu, kalau Fiha sedang berada di rumah sakit.


"Pantas saja, dari tadi dicariin gak ada. Haduh, pasti Hasbi akan segera tahu semuanya." monolog Ali.


Aqila dan Ali sudah sampai di rumah sakit, lalu mengucapkan salam tepat di depan pintu ruangan Fiha dirawat. Aqila dan Ali masuk ke dalam, saat Hasbi mempersilakan masuk.


"Hasbi, bagaimana keadaan Fiha?" tanya Ali.


"Seperti yang kamu lihat, dia belum juga sadar. Dokter bilang, dia sekarang sedang koma." jawab Hasbi.


"Ali, ada yang mau aku omongin sama kamu. Apa sebenarnya, kamu sudah tahu ini sejak lama?" tanya Aqila.


"Iya, maaf tidak memberitahu kalian. Fiha yang menyuruhku merahasiakan ini." jawab Ali.


"Harusnya, Fiha tidak melakukan hal ini." ujar Hasbi.


"Dia melakukan ini, karena tidak ingin melihat kamu sedih. Dia takut, bila kamu merasa khawatir." jawab Ali.

__ADS_1


Hasbi mengacak rambutnya sendiri, sambil menundukkan kepalanya ke bawah lantai. Kali ini, telapak tangannya saling mencengkeram kuat.


"Sabar kawan, semua pasti ada jalan keluar." ujar Ali.


"Iya kawan, terima kasih atas dukungannya." jawab Hasbi.


”Kasian sekali Fiha, dia pasti sudah lelah menahan rasa sakit. Sekarang dia jadi koma, dan Hasbi bakalan sedih banget. Aku harus bantuin Fiha, buat dapat pendonor jantungnya.” batin Aqila.


Aqila keluar dari ruangan tersebut, bersamaan dengan Ali dan Hasbi. Sudah waktunya dokter masuk, untuk memeriksa keadaan Fiha. Dokter tersebut keluar ruangan, setelah beberapa menit berada di dalam.


"Dok, bagaimana keadaan Fiha?" tanya Hasbi.


"Keadaannya sekarang masih belum membaik, dia belum sadar dari kondisinya." jawab dokter.


Keesokan harinya, Ali menghampiri Aqila. Dia berada di kelas seorang diri, karena begitulah biasanya dia. Daripada menghabiskan waktu untuk ghibah, lebih baik melakukan hal yang lebih bermanfaat.


"Eh Aqila, kamu mau ikut aku mencari pendonor jantung untuk Fiha gak?" tanya Ali.


Aqila melihat ada postingan, mengenai pelelangan organ tubuh. Dia langsung memperlihatkan ponselnya ke mata Ali, agar dia juga ikut membacanya.


"Ada orang, yang mau mendonorkan jantungnya. Namun ini menggunakan sistem lelang, berdasarkan harga yang paling tertinggi." ujar Aqila.


"Kita coba saja dulu, baru akan tahu hasilnya." jawab Ali.


"Iya, aku setuju usulan idemu barusan." ucap Aqila.


"Oke. Aku keluar kelas sekarang." jawab Ali.


Pada pukul 17.30, Aqila dan Ali baru sampai di sebuah tempat. Dimana tempat tersebut akan diselenggarakan lelang. Tadi mereka sengaja singgah terlebih dulu, untuk melaksanakan salat Ashar.

__ADS_1


"Ayo, kita duduk di kursi paling depan." ajak Aqila.


"Iya Aqila, supaya kita dapat menawar lebih duluan." jawab Ali.


Ali dan Aqila melihat tarif harga yang dipasang, yaitu benar-benar sangat tinggi. Tarif satu jantung itu dipasang, dengan harga dua puluh juta.


"Ayo, siapa yang ingin memberi harga di atas ini?" tanya seorang perempuan muda.


Ali tunjuk tangan. "Tiga puluh juta."


"Apa ada lagi?" tanyanya lagi.


"Empat puluh juta." jawab seorang perempuan paruh baya.


"Apa ada lagi?" Perempuan itu masih terus bertanya, untuk mencari harga akhir yang paling tertinggi.


Aqila mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Lima puluh juta."


"Apa ada yang mau menambah lagi?" tanyanya.


"Enam puluh juta." Seorang pria paruh baya, sampai berdiri tegap.


Aqila mulai resah, tidak bisa untuk menandingi nominal tersebut. Sedangkan uang lima puluh juta saja, berencana akan menggabungkannya dengan Ali.


"Ali, bagaimana kita akan mendapatkan donor jantung tersebut?" tanya Aqila.


"Benar, harganya sangat tinggi. Aku juga bingung, harus berbuat apa. Kondisi Fiha kian hari bertambah buruk, aku takut dia tidak akan bertahan lama lagi." jelas Ali.


"Aku tidak punya uang, untuk memenangkan lelang ini." ucap Aqila.

__ADS_1


"Iya sudah, kita cari cara lain saja. Setidaknya, kita sudah berusaha dengan sungguh-sungguh." jawab Ali.


Mereka pulang dengan tangan hampa, tidak mendapatkan apapun dari usahanya. Namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat, dalam hati masing-masing.


__ADS_2